Syekh Al-Sayyid Ahmad Al-Badawi tergolong
Wali Allah yang menempati maqam Quthb al-Awliya al-Ghauts al-‘Adzhim, ahli
Futuwwah terbesar di Mesir, yang kemasyhurannya dikenal oleh banyak orang.
Beliau juga terkenal sebagai Wali pelindung anak-anak. Makamnya di kota Tanta
menjadi pusat ziarah utama di Mesir. Diyakini Allah Yang Maha Tinggi
mengabulkan doa-doa dari mereka yang berziarah di makamnya, lantaran berkah dan
karamah Wali Allah ini. Perayaan Maulid Syekh Ahmad al-Badawi senantiasa
dihadiri oleh setidaknya dua juta orang.
Syekh Ahmad Badawi adalah pendiri
Tarekat Badawiyyah. Gelarnya banyak sekali, mencapai 29 buah gelar, diantaranya
adalah Syihabudiin, Al-Aqthab, Abu al-Fityah, Syaikh al-Arab, Qutb an-Nabawy,
Shahibul Barakat wa al-Karamat, dan sebagainya.
Menurut
penulis terkenal Muslim al-Sayyid Muhammad al Murtadā -Zabīdī (w. 1205 H.), bahwa
Silsilah al-Sayyid Ahmad al-Badawi adalah Ahmad bin 'Alī bin Ibrahim bin
Muhammad bin Abi Bakar bin Ismail bin' Umar bin 'Alī ibn Utsman ibn al-Husain
bin Muhammad ibn Musa al-Ashhab bin Yahya bin 'Isa bin' Alī bin Muhammad bin
Hasan bin Ja'far bin 'Alī al-Hadi bin Muhammad al-Jawad ibn' Alī ar-Ridha bin
Musa al-Kazim bin Ja'far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin [Zain al-'Abidin]'
Alī ibn al-Husain bin Fatimah, putri
Nabi Muhammad SAW.
Syekh Ahmad al-Badawi lahir pada 596 H
di Fez (Maroko). Beliau masih keturunan dari Rasulullah saw melalui jalur
sayyidina Husain. Ayahnya adalah Sayyid Ali ibn Ibrahim, Ibundanya, yang
bernama Fathimah, masih termasuk keturunan bangsawan di kerajaan Maroko pada
waktu itu. Al-Sayyid Ahmad al-Badawi adalah
bungsu dari tujuh anak dari al-Sayyid 'Alī (Radhiyallah Anhu). Saudara kandungnya al-Hasan (yang tertua, lahir di
583 H), Muhammad, Fatimah, Zainab, Ruqayyah, dan Fiddah.
Syekh Ahmad al-Badawi adalah anak bungsu
dari tujuh bersaudara. Ketika Syekh Ahmad Badawi berusia tujuh tahun, sang ayah
mendengar perintah Tuhan lewat mimpinya untuk pindah ke Mekah.Selama di Mekah
ini Syekh Ahmad Badawi yang usianya masih sekitar 12 tahun memperdalam ilmu
agamanya, dan berhasil menghafal al-Qur’an dan menguasai tujuh cara qira’at
atau bacaannya. Beliau mendalami fiqh mazhab Imam Syafi’i.
Saat di Mekah ini keluarga Syekh Ahmad
Badawi kedatangan seorang tamu misterius. Lelaki misterius ini, yang belum
pernah bertemu Syekh Ahmad Badawi, mengemukakan detail ciri-ciri, tanda-tanda,
dan kepribadian Syekh Badawi, dan bahkan mengutarakan berbagai kelebihannya dan
kedudukannya di masa depan. Menurut lelaki itu, “Aku bermimpi bertemu
Rasulullah saw, yang memberi tahuku bahwa dirinya (Syekh Ahmad Badawi) akan
dikaruniai sebaik-baik ahwal (keadaan spiritual), dan darinya akan lahir banyak
sebaik-baik rijal Allah (yakni Wali-wali Allah).” Bahkan lelaki misterius ini
mengatakan bahwa Syekh Ahmad Badawi akan selalu menutup mukanya (gelar Badawi
ini dikarenakan kebiasaannya menutup muka, seperti kebiasaan orang-orang badui
– atau badwi dalam bahasa Arab).Sejak masih remaja Syekh Ahmad Badawi
menunjukkan kemahirannya dalam menunggang kuda dan memainkan pedang. Pada
periode ini pula beliau sudah tertarik dengan ajaran Tasawuf.
Guru pertamanya adalah Syekh Abdul Jalil
ibn Abdurrahman an-Naisaburi. Beliau juga mendapat ijazah tarekat dari Syekh
al-Birri al-Iraqi, seorang mursyid Tarekat Rifaiyyah. Sesudah beberapa waktu
mendalami Tasawuf beliau lebih suka menyendiri dan berkhalwat. Riyadhah dan
mujahadahnya tergolong luar biasa. Menurut satu riwayat beliau pernah 40 hari
berpuasa tanpa putus. Selama riyadhah beliau tak pernah bicara dengan orang,
dan kalau bertemu orang beliau menggunakan bahasa isyarat. Seluruh tarikan
nafasnya diisi dengan zikir dan shalawat. Beliau juga sering berkhalwat di
Jabal Abu Qubais.Beliau juga tak pernah melepaskan tutup wajahnya. Ini
disebabkan beliau dikaruniai oleh cahaya ilahiah yang amat terang, sehingga
bahkan mata dan wajahnya memancarkan cahaya.
Pada suatu malam pada bulan Syawal 633 H,
beliau dikunjungi oleh ruh Sulthan al-Awliya Syekh Abdul Qadir al-Jilani dan
Syekh Ahmad Rifa’i. Kedua Wali Allah agung itu menyuruh Syekh Ahmad Badawi
pergi ke Irak untuk menziarahi makam mereka dan juga makam wali-wali lain.
Kemudian bersama kakaknya, Syekh Hasan, beliau berangkat menuju ke Irak. Syekh
Ahmad Badawi menyempatkan diri berziarah ke Imam Musa al-Kazim, salah seorang
leluhurnya. Selama perjalanan ziarah ini beliau mengalami banyak penyingkapan
ilahiah dan anugerah berbagai ilmu rahasia ilahi yang tiada putus-putusnya.
Syekh Abdul Qadir al-Jilani dan Syekh
Ahmad Rifa’i akhirnya langsung menyambut beliau di alam arwah. Kedua wali agung
itu menawarkan kepada beliau kunci-kunci kerajaan spiritual di Irak, Yaman, Rum
(Turki), dan juga kunci kerajaan ruhani Timur dan Barat, karena keduanyalah
yang memegang kunci-kunci itu. Namun Syekh Badawi menolaknya karena beliau akan
mengambilnya langsung dari pemilik segala kunci, al-Fattah, yakni Allah swt.Penolakan
ini bukan lantaran ketidaksopanan atau penentangan, tetapi karena pada saat itu
Syekh Ahmad Badawi mengalami “jadzab”, tenggelam dalam kemabukan Ilahi sehingga
beliau hanya menyaksikan Allah dengan segala Keagungan dan Keindahan-Nya.
Selepas melakukan perjalanan ziarah ke
makam-makam Wali Allah, Syekh Ahmad Badawi dan Syekh Hasan(Kakak Syekh Ahmad
Badawi) sempat diganggu dan diserang oleh para ahli sihir dan tenung. Tetapi
berkat pertolongan Allah melalui kekuatan spiritualnya semua gangguan itu bisa
diatasi. Syekh Ahmad Badawi kemudian
menuju ke Umm Abidah, daerah asal Syekh Ahmad Rifa’i. Setelah dari sini Syekh
Hasan pulang ke Mekah, sedangkan Syekh Ahmad Badawi melanjutkan ziarah ke makam
Syekh Adi ibn Musafir al-Hakkari, pendiri Tarekat Adawiyyah. Sesudah itu
barulah beliau kembali ke Mekah.
Pada tahun 634 H beliau menerima hatif
(bisikan ilahi) untuk pergi ke Mesir dan menetap di Tanta. Sesampainya di Tanta
beliau tinggal di rumah Syekh Rukain ibn Syuhait. Syekh Rukain sendiri telah
diberitahu oleh seorang Wali Allah bernama Syekh Salim al-Maghribi bahwa Syekh
Ahmad Badawi akan datang dan akan tinggal di rumah Syekh Rukain. Di atas rumah
Syekh Rukain ini Syekh Ahmad Badawi melakukan khalwat 40 hari 40 malam dan
terus-menerus memandang langit, bahkan di siang hari sekalipun. Karenanya,
sekeluarnya dari tempat khalwat ini kornea matanya menjadi berwarna merah
membara, laksana menyala bak api, karena menatap matahari setiap hari.
Syekh Ahmad Badawi selanjutnya tinggal
di loteng atas rumah itu selama 12 tahun, dibantu oleh beberapa muridnya. Pada
masa itu pula tamu-tamu mulai ramai berdatangan dan keadaan perekonomian Syekh
Rukain dan kawasan Tanta menjadi lebih baik. Bahkan Sultan Al-Zahir Baybars sangat
menghormatinya dan ketika mengunjunginya dia mencium kaki Syekh Ahmad Badawi.
Syekh Ahmad Badawi wafat pada tahun 675
H/1276 M (tanggal 24 Agustus). Pemakamannya dihadiri ratusan ribu orang,
sehingga kawasan itu tak muat dipenuhi peziarah. Dari sinilah berkembang
tradisi perayaan maulid Wali Sayyid Ahmad al-Badawi, yang diawali sejak abad
14.
Warisan utama Syekh Ahmad Badawi adalah
Tarekat Badawiyyah yang didirikannya di Tanta, setelah mendapat izin untuk
membuat tarekat tersendiri di luar Tarekat Rifa’iyyah yang ditekuninya. Tarekat
ini kelak berkembang menjadi cabang-cabang tersendiri seperti Tarekat
Anbabiyyah, Tarekat Bandariyyah, Tarekat Baiyumiyyah, Tarekat Halabiyyah,
Tarekat Hammudiyyah, Tarekat Kannasiyyah, Tarekat Salamiyyah, Tarekat
Syinnawiyyah, Tarekat Sutuhiyyah, dan Tarekat Zahidiyyah.
Syekh Ahmad Badawi tidak menulis kitab.
Tetapi beliau mewariskan amalan shalawat yang masyhur bukan hanya dikalangan
pengikuti Tarekat Badawiyyah tetapi di kalangan umat islam dan penganut tarekat
pada umumnya. Salah satu yang terkenal adalah Shalawat Syajarat al-Ashli, yang
menurut beberapa pengamalnya, jika diamalkan secara istiqamah dibaca 3 kali
setiap Subuh dan Mahgrib, maka akan bisa mendatangkan anugerah penyingkapan
hal-hal rahasia.Dalam memberikan pelajaran beliau sering menggunakan
kisah-kisah dan tamsil untuk memudahkan pemahaman. Karamah Syekh Ahmad Badawi
amat banyak, sehingga Imam Sya’rani sampai mengatakan bahwa seandainya
karamah-karamah beliau ditulis dalam satu buku tebal, niscaya satu buku tidak
akan muat.
(“Semoga Rahmat dan
Keridhoan Allah SWT selalu tercurah kepada Syekh Al Sayyid Ahmad Al-Badawi...Amiiin”).

No comments:
Post a Comment