Wednesday, March 13, 2019

Syekh KH. Asmuni (Guru Danau)



Sekilas Biografi,Riwayat Tuan Guru H. Asmuni (Guru Danau) Kec. Danau Panggang, Kab. HSU Amuntai - Kalsel..
- Beliau adalah Zurriyat Syekh Muhammad Arsyad Al-banjary Lewat Nasab Datu Tuan Guru H.Abdussamad - Marabahan dari Jalur Ibu Beliau..
- Sewaktu masih dalam Kandungan Rahim, Ibu Beliau Bermimpi Melihat Bulan Purnama..
- Sewaktu Masih Sekolah SD, Beliau di bawa kedua Orang Bersilaturahmi ke Rumah Tuan Guru H. Zainal Ilmi-Dalam Pagar (Martapura), Lalu Oleh Tuan Guru H. Zainal Ilmi Kepala Beliau di Sentuh dgn kedua Telapak Tangan Sambil berkata : Ganalnya (Kepala), Pintar kaena, Pelihara Banar Anak ini lah..
Kata Guru Danau Dalam Cerita nya, Mama ku Sampai Mamingkuti Pisit Awak ku (Memeluk Erat Tubuhku) Takut klu nanti Jatuh Ke Banyu (Air) Sewaktu Bulikan (Pulang) Naik Jukung..
- Kedua Orang Tua Beliau Termasuk Sangat Mencintai 'n Menghormati Para Alim Ulama , di antara nya :
- Ayah Beliau hanya seorang Buruh Angkut (Kuli), Setiap Hasil Upah dari ngangkut Barang2, di sisihkan sebagian membeli Makanan Roti, Dll utk Tuan Guru H.Makmur - Manarap (Bitin) dan Tuan Guru H. Asnawi - Danau Panggang dan Sewaktu Mengaji Mingguan ke Martapura dgn Tuan Guru H.M.Zaini (Guru Keraton) Selalu Membawa Oleh2 Ikan, Belibis utk Guru Keraton, Sampai2 di Gelari Guru Keraton : KAI Belibis..
Begitu Jua dgn Para Ulama Tuan Guru, Bila Bersalaman/Bersilaturahmi slalu mengasih Uang (Amplop), Sampai Beliau Berwasiat di Waktu Mau Meninggal Dunia : Turuti Unda (Saya) Setiap Badapat (bertemu) orang Alim/Habib Bari'i (Kasih) Uang..
Akhlak Ibu/Mama Beliau begitu juga Senang Berkhadam di Rumah/Mejilis Taklim Tuan Guru, di antara nya : Setiap Mulai atau Selesai Pengajian di Rumah Tuan Guru H.Asnawi Danau Panggang slalu Membersihkan, Menyapu, Mengepel (Malap) Lantai atau di Rumah Guru Keraton Martapura..
Setelah Sekian Lama Mengaji/Menghadiri Pengajian Mingguan di Keraton Martapura Krg lebih 20 Tahunan ,di Panggil Beliau (Ayah Guru Danau) Oleh Guru Keraton mengkhabari Bahwa Malam ini (Waktu itu Bulan Ramadhan) , Insya Allah, Malam Lailatul Qadar, Apa mau di Do'akan Sugih/Kaya..
Kata Ayah Guru Danau : Mohon Do'akan Asmuni Alim aja.. Kata Guru Keraton : Bagus Banar , Kerna mun Alim Pasti Sugih aja Kaena
Setelah Beliau Tamat SD , Beliau melanjutkan Sekolah Ponpes Darussalam serta ngaji Duduk dgn Beberapa Ulama (Tuan Guru) di Martapura ,di antara nya : Tuan Guru H.Muhammad Zaini (Guru Keraton atau Guru Sekumpul)..
- Tuan Guru H. M.Semman Mulia (Guru Padang)..
- Tuan Guru H. M.Royani (Guru Yani)..
Beliau Juga Berkhadam di Mejilis Tuan Guru Semman dan Habib Zein Al-Habsyi..
Setelah Tamat dr Ponpes Darussalam, Beliau Mau Kuliah di Barabai, ..
Tapi Teman Beliau H. Thalib Membawa Khabar dr Guru Keraton meminta Beliau Harus Ke Martapura, Setelah Beliau Bertemu dgn Guru Keraton, dalam Cerita Beliau : krg lbh 2 Jam Guru Keraton berdiam ,tdk memandiri Beliau sambil merokok, setelah itu Guru Keraton berbicara : Asmuni, Ikam Kuliah kah? Inggih Jar Guru Danau, Jar Guru Keraton : Itu lain Nyawa, banyak aja yg Lain, Ikam Tulak Ke Bangil , Mengaji lwn Guru Bangil (Guru Syarwani Abdan),.
Lalu Guru Keraton ke Kamar mengambil Tulisan Amalan , Jar Guru Keraton : Amalkan Amalan ini, Ikam Bisa Melihat apa aja ,yg ikam mau.. (Amalan/Bacaan Kasyaf)..
Setelah diberi Amalan itu Oleh Guru Keraton, Dengan Anugerah Allah Terbuka lah Hati Guru Danau Ilmu Kasyaf (Melihat yg Jauh2), Lalu Ada Pengusaha Kayu dr China Malasyia mau Membuka Areal HPH, dgn Saran Guru Danau utk Membuka Areal Lahan HPH di Wilayah Bangkiling - Kalua, Setelah di Survei, Kayu2 Hutannya Bagus, Bisa Berproduksi Sampai 5-10 Tahun.. Lalu Pengusaha Menawarkan Guru Danau apa yg bisa di bantu, Apa Mau Naik Haji?, Jar Guru Danau : Aku mau mengaji Ke Bangil.. Lalu di Beri Biaya dan Tas Kulit Oleh Pengusaha Kayu China Malasyia..
Setelah Punya Biaya Mengaji Ke Bangil, lalu Lapor ama Guru Keraton, Jar Guru Keraton : Jangan Tulak Ke Bangil ba-Kapal Laut, Ku Ijinkan Tulak Ba-Pasawat, Bl sudah Pasti Jadwal nya Tulak ke Bangil, Aku handak Ba-kirim Tapih dan Surat utk Guru Bangil..
Setelah sudah Kepastian Berangkat Ke Bangil lwn Seorang Pedagang (Haji), Guru Danau Ba-ilang ke Rumah Guru Keraton, Lalu Guru Keraton Ba-kirim Tapih, Surat utk Guru Bangil, dan Ma-antarakan Sampai ke Taksi, Mendo'akan utk Guru Danau..
Setelah Sampai Ke Rumah Guru Bangil, Lalu Guru Danau menyerahkan Tapih dan Surat Guru Sekumpul, Setelah itu Beliau Belajar dgn Guru Bangil Sampai Akhir Hayat Guru Bangil dgn Pulang Pergi, 3-5 Bulan Belajar di Bangil, setelah itu Pulang ke Kampung Danau, Setelah Punya Banyak Biaya, Pergi lg ke Bangil utk Mengaji lwn Guru Bangil...
Setelah itu Guru Danau di Suruh Khalwat 40 Hari dgn Amalan2 nya di Rumah, di Kampung Danau Panggang..
Setelah Selesai Khalwat 40 Hari, lalu di Suruh Guru Bangil Syiyahah (Berjalan mengamalkan Ilmu Hasil dr Khalwat), Duduk di Terminal, Mencatat apa2 aja yg di lihat..
Setelah diberi Amalan itu Oleh Guru Keraton, Dengan Anugerah Allah Terbuka lah Hati Guru Danau Ilmu Kasyaf (Melihat yg Jauh2), Lalu Ada Pengusaha Kayu dr China Malasyia mau Membuka Areal HPH, dgn Saran Guru Danau utk Membuka Areal Lahan HPH di Wilayah Bangkiling - Kalua, Setelah di Survei, Kayu2 Hutannya Bagus, Bisa Berproduksi Sampai 5-10 Tahun.. Lalu Pengusaha Menawarkan Guru Danau apa yg bisa di bantu, Apa Mau Naik Haji?, Jar Guru Danau : Aku mau mengaji Ke Bangil.. Lalu di Beri Biaya dan Tas Kulit Oleh Pengusaha Kayu China Malasyia..
Setelah Punya Biaya Mengaji Ke Bangil, lalu Lapor ama Guru Keraton, Jar Guru Keraton : Jangan Tulak Ke Bangil ba-Kapal Laut, Ku Ijinkan Tulak Ba-Pasawat, Bl sudah Pasti Jadwal nya Tulak ke Bangil, Aku handak Ba-kirim Tapih dan Surat utk Guru Bangil..
Setelah sudah Kepastian Berangkat Ke Bangil lwn Seorang Pedagang (Haji), Guru Danau Ba-ilang ke Rumah Guru Keraton, Lalu Guru Keraton Ba-kirim Tapih, Surat utk Guru Bangil, dan Ma-antarakan Sampai ke Taksi, Mendo'akan utk Guru Danau..
Setelah Sampai Ke Rumah Guru Bangil, Lalu Guru Danau menyerahkan Tapih dan Surat Guru Sekumpul, Setelah itu Beliau Belajar dgn Guru Bangil Sampai Akhir Hayat Guru Bangil dgn Pulang Pergi, 3-5 Bulan Belajar di Bangil, setelah itu Pulang ke Kampung Danau, Setelah Punya Banyak Biaya, Pergi lg ke Bangil utk Mengaji lwn Guru Bangil...
Setelah itu Guru Danau di Suruh Khalwat 40 Hari dgn Amalan2 nya di Rumah, di Kampung Danau Panggang..
Setelah Selesai Khalwat 40 Hari, lalu di Suruh Guru Bangil Syiyahah (Berjalan mengamalkan Ilmu Hasil dr Khalwat), Duduk di Terminal, Mencatat apa2 aja yg di lihat..
Selain Mengaji dgn Guru Bangil, Guru Danau mengaji dgn Bebrp Ulama/Habaib slama di Pulau Jawa diantaranya :
- Beliau mengaji jua dgn Waliyullah Kyai Hamid Pesuruan, Sering Tulak ke Pasuruan setiap Malam selama Mengaji di Bangil Shalat Shubuh Berjama'ah di Mushalla Kyai Hamid Pasuruan..
- Beliau mengaji Ilmu 'n Tarekat dgn Waliyullah Mbah Malik - Purwokerto,
- Beliau Jua mengaji Ilmu 'n Amal dgn Waliyullah Kyai Syakur di Wonosobo..
- Beliau Sempat Belajar/ba-ilang dgn Waliyullah Habib Abdullah Bin Abdul Qadir Bilfaqih - Malang..
- Beliau jua bersilaturahmi dgn Waliyullah Habib Anis Al-Habsyi Solo..
- Beliau Mengaji Ilmu 'n Amalan dgn Waliyullah Habib Ahmad Bafaqih Tempel - Yogyakarta, di beri amalan Shalawat supaya Beberkat Ilmu 'n Amal..
- Beliau jua Bersilaturahmi dgn Waliyullah Habib Saleh Al-Hamid-Tanggul (Jember), di Do'akan Naik Haji,
Alhamduillah.. Akhir nya bisa Naik Haji Pertama Tahun 1982.

Syekh Muhammad Thoha Ma'ruf





Muhammad Thoha Ma'ruf (lahir di Manado, Sulawesi Utara, 25 Desember 1920 – meninggal di Jakarta, 7 April 1976 pada umur 55 tahun) adalah seorang ulama Nahdliyyin kharismatis yang merupakan keturunan ke-7 dari ulama Besar Nusantara asal Banjar Kalimantan, yakni Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Mengingat silsilahnya maka jelas sekali ia dilahirkan dan dididik di tengah-tengah keluarga religius. Ayahnya bernama KH Mansur adalah seorang guru agama yang membangun sebuah keluarga di Kampung Banjar (Banjer) Manado, hingga di sanalah bayi Thaha Ma’ruf lahir tepat pada tanggal 25 Desember 1920.


Riwayat

Masa kecil

Di kampung Banjar, Manado pula Thoha Ma’ruf menghabiskan masa kecilnya. Hingga ketika ia mendekati usia dua puluh tahun, ia mulai melangkahkan kakinya untuk meniti sebuah pengembaraan hidup. Tanah Minanglah tujuannya. Di sanalah ia mengembangkan ilmunya untuk menjadi seorang ulama yang berpengaruh di kemudian hari.

Pendidikan

Pada usia 22 tahun ia telah menamatkan Madrasah Muallimin di Bukittinggi (1942) setelah satu tahun sebelumnya ia juga menamatkan Institute Islamic College di Padang. Dari sinilah kemuadian Ia mulai menapakkan dirinya di jalan dakwah. Di Padang, bumi pertiwi para intelektual ini pula ia membuka lebar-lebar cakrawala pemikirannya terhadap dunia dengan mempelajari pula bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Bahkan bahasa Jepang inilah yang sempat menyelamatkannya dari hukuman tentara Pendudukan Jepang ketika ia ditangkap karena dianggap menentang penjajah.
Sejak merantau ke Minang inilah Thaha Ma'ruf menunjukkan bakti yang begitu kuat terhadap perjuangan kemerdekaan bangsa. Terutama dari sisi pendidikan. karena itulah ia terlibat dalam banyak sekali gerakan pendidikan sejak semasa mudanya. bahkan sebenarnya sejak sebelum ia berangkat ke negeri rantau, ia telah pula mengajar sebagai guru agama di tanah kelahirannya, Manado. Dan bukan hanya di Padang saja, melainkan juga ke wilayah-wilayah Sumatera Tengah lainnya, yakni di Riau, Jambi dan Medan.
Di Minang, Thaha Ma'ruf menikah dengan seorang gadis belia asli Minang yang kelak mendampinginya hingga akhir hayat, Hj Sariani binti H Muhammad Yasin. begitulah gadis itu biasa dipanggil. Sejak kecil Sariani telah dipanggil Hajjah, kerena sejak berusia lima tahun ia telah diajak berangkat ke tanah suci Makkah-Madinah untuk pertama kalinya, beberapa kali ia pulang pergi ke Haramain sebelum akhirnya dinikahkan dengan pemuda Thaha Ma'ruf, seorang guru agama militan asal Banjar yang telah diterima sebagai bagian dari penduduk Minang. Keluarga Istrinya ini adalah sebuah keluarga saudagar kaya raya yang memiliki keseharian hidup agamis. Hj. Sariani pun seorang da’iyah handal sejak awal, sekaligus juga adalah pengatur keuangan keluarga yang terbukti sangat ulet.
Kehandalan Hj Sariani ini menjadi penting ketika terjadi peristiwa sanering (pemotongan nilai uang rupiah menjadi setengahnya), di mana setiap nominal mata uang di atas lima rupiah harus dipotong setengahnya. Kondisi ini cukup membuat orang-orang kaya kalang kabut, terutama bagi mereka yang tidak memiliki cadangan uang recehan. Nah, Hj Sariani inilah yang rupa-rupanya menyimpan cukup banyak cadangan uang recehan, sehingga keuangan keluarga cukup tertolong karena nilai mata uang dibawah lima rupiah tidak mengalami penyusutan.
Terbukti kemudian pasangan muda ini kedua-duanya aktif sebagai kader pejuang unggul yang mampu mensinergikan antara perjuangan bangsa dan dakwah keagamaan dalam satu tarikan napas bahtera rumah tangga mereka. Thaha Ma'ruf, selain menjadi wartawan di Harian Penerangan, juga aktif sebagai guru di berbagai sekolah dan majlis taklim, sehingga ia mampu menanamkan rasa kecintaan masyarakat dan seluruh anak didiknya terhadap perjuangan bangsa dan agama sekaligus.
Hal ini senyatanya menjadi sebuah fakta ketika pada tahun 1953, dalam usia 33 tahun, Ia menjadi pelopor sekaligus deklarator berdirinya Partai NU di wilayah Sumatera Tengah, wilayah yang sekarang menjadi tiga provinsi, Sumatera Barat, Jambi dan Riau. Pendirian partai NU di Sumatera Tengah ini dilaksanakan setelah selama enam tahun Thaha Ma'ruf bergulat dalam perjuangannya sebagai Sekretaris Jenderal PERTI yang berpusat di Bukittinggi.

Bergabung di NU

Tiga tahun setelah mendirikan partai NU di Sumatera Tengah, Ia hijrah ke Jakarta sebagai anggota Pengurus Besar NU (PBNU) dan aktif dalam perjuangan Nahdlatul Ulama di level Pusat.
Di Jakarta, Thaha Ma'ruf sekeluarga sempat beberapa kali pindah alamat, dari Kebun Nanas, Matraman hingga Cipinang. Dalam menjalani kehidupannya sebagai aktivis Nahdlatul Ulama di Jakarta ini Ia selalu didampingi oleh sang istri yang juga seorang aktivis Fatayat-Muslimat NU.
Meski Jakarta adalah tempat yang baru baginya, namun Thaha Ma'ruf tatap dapat selalu mempertahankan kedekatannya dengan masyarakat sekitar. hal ini terbukti ketika pada tahun 1965 terjadi kemelut yang mendebarkan seputar pemberontakan PKI, kediaman Thaha Ma'ruf di Matraman selalu dijaga oleh laskar Ansor setempat atas inisiatif mereka sendiri, bukan permintaan dari shohibul bait ataupun atas instruksi atau komando dari atas.
Selama menjalani kegiatannya sebagai politikus, Thaha Ma'ruf dan istri juga selalu aktif mengisi dakwah-dakwah di tingkat masyarakat bawah. Bahkan meskipun ia telah menjadi unsur pimpinan pusat di "Majlis Ulama" dan da’i tetap di pengajian Masjid Istiqlal.
Bahkan meski berpindah-pindah tempat tinggal, keluarga Thaha ma'ruf tidak pernah meninggalkan sebuah majlis taklim pun di komunitas lamanya.
Thaha Ma'ruf tercatat sebagai anggota DPRGR/MPRS tahun 1960-1970 setelah berdinas di ketentaraan sejak tahun 1946 sebagai Kepala Penerangan yang berkedudukan di Bukittinggi dengan pangkat Mayor. Dari latarbelakang militernya inilah Thaha Ma'ruf senantiasa tegas dalam sikap-sikap politiknya. Ia tidak segan-segan mengkritik kebijakan pemerintah jika dinilainya kurang tepat.
Salah satu gagasan penting yang dicetuskannya dengan sukses adalah kembalinya Indonesia ke pangkuan PBB pada tahun 1966. Dari sinilah kemudian Thaha Ma'ruf dipercaya untuk menjalani berbagai kunjungan kenegaraan ke berbagai wilayah di luar negeri. Termasuk untuk menghadiri Kongres Perdamaian di Moskow tahun 1962 dan mempersiapkan pendirian Konsulat RI. di Seoul, Korea Selatan pada tahun 1968.
Ketika terjadi banyak kemelut antara pemerintah pusat dengan beberapa wilayah termasuk dengan PRRI di Sumatera Barat, Thaha Ma'ruf mengambil sikap pro pemerintah pusat, karena baginya, keutuhan NKRI lebih penting daripada perpecahan antar bangsa. karenanya, hal ini juga menjadikannya berada dalam garis depan untuk menolak setiap bentuk perlawanan terhadap kedaulatan NKRI, termasuk ketika terjadi peristiwa pemberontakan PKI 1965.
Dukungannya yang begitu kuat untuk keutuhan NKRI juga tercermin dari pendirian dan deklarasi NU wilayah Sumatera Tengah, yang diawali oleh argumentasi bahwa semestinya umat Islam di Indonesia memang memiliki sebuah wadah keagamaan yang mencakup dan menjangkau ke seluruh wilayah NKRI, sehingga tidak menimbulkan friksi antar daerah.
KH. Thaha Ma'ruf adalah seorang tokoh yang hidup dalam suasana kesederhanaan dan memiliki keteladanan yang patut diikuti oleh masyarakat muslim. Salah satu kegemaran positif semasa hidupnya adalah bersilaturrahim. Menurut penuturan KH Fadhli Ma'ruf, putera ke-7, semasa hidupnya KH Thaha Ma'ruf sangat gemar bersilaturahim ke Ulama-ulama yang juga adalah teman-teman dan kerabatnya. Selain itu ia juga sangat gemar berziarah ke makam para Aulia di Jakarta dan sekitarnya, seperti ke Luar Batang, makam KH. Mas Mansur di Tanah Abang dan lain-lain.
Dermawan adalah salah satu sifat positif ia yang senantiasa dijalankan sepanjang hidupnya. Diceritakan, ia selalu membawa uang recehan untuk dibagikan kepada siapapun yang memerlukannya di sepanjang perjalanan yang dilaluinya. Konon ia tidak pernah menolak seorang pun yang datang untuk meminta pertolongan.
Kedekatan dengan para Habaib dan Ulama selalu dijaganya untuk kepentingan dakwah Islamiyah. beberapa teman-teman dekatnya adalah KH Abdullah Syafe'i, KH. Wahid Hasyim dan Habib Ali Kwitang. Ia juga selalu aktif di Majlis Ta'lim Kwitang, baik sebagai peserta maupun pembicara.

Aktif menulis

Hingga masa-masa tuanya, Ia juga masih sangat aktif menulis, terutama artikel-artikel yang berkenaan dengan dakwah islamiyah. Hingga tujuh Jam sebelum ia menghadap sang Khaliq (Malam Rabu, 6 April 1976 jam 22.00 WIB), KH. Thaha Ma'ruf masih sempat menulis sebuah karangan (artikel dakwah) yang akan diajarkan pada Majlis Ta'lim Masjid Istiqlal. Karangan terakhir ini belum selesai dan ditemukan masih terpasang di atas meja kerjanya.

Wafat

KH. Thaha Ma'ruf bin Mansur meninggal pada 7 April 1976 dalam usia 56 tahun dengan berstatus sebagai Pengurus Pusat Majlis Ulama Indonesia dengan meninggalkan seorang istri dan delapan anak. Beberapa di antara putera puteri ia ada yang aktif menjadi pengurus teras PBNU dan banom-banomnya, sementara yang lainnya ada yang mengurus kelanjutan dakwah Islamiyah yang telah dirintis olehnya.
Karena Hj Sariani berprinsip bahwa wafatnya suami bukanlah berarti terhentinya perjuangan dalam menegakkan agama Islam, maka pada tahun 1976 pula sang istri dengan dibantu oleh putera-puterinya mendirikan Yayasan Pendidikan Islam Al-Ma'ruf di Cibubur. Yayasan ini bergerak di bidang sosial, pendidikan dan dakwah Islam yang sekarang telah berkembang dan memiliki jenjang pendidikan dari tingkat TK hingga SMU.
Pada mulanya yayasan ini adalah sebuah Musholla kecil, namun masyarakat memintanya dikembangkan sebagai sebuah lembaga pendidikan yang dapat diandalkan. Menurut permintaan masyarakat, hal ini dikarenakan di wilayah tersebut (saat itu masih pinggiran Jakarta), sudah terdapat beberapa musholla, namun justru digunakan untuk main "gaple" karena tidak ada kader-kader yang berkompeten memakmurkannya. Karena itulah, membuat sebuah wadah untuk mencetak kader dakwah menjadi sesuatu yang tidak dapat ditunda lagi.
Ketika Hj Sariani wafat dan dikebumikan di Cibubur, Komplek Yayasan Pendidikan Islam al-Ma'ruf, jasad KH Thaha Ma'ruf juga dipindahkan ke Cibubur untuk bersanding dengan makam isterinya di belakang Masjid. Setelah sebelumnya jasad ia disemayamkan di pemakaman umum Kebon Nanas.[1]

Referensi


 


Syekh Ahmad Syamsuddin al-Banjari


Syekh Ahmad Syamsuddin al-Banjari adalah seorang ulama sufi suku Banjar yang tinggal di ibu kota kesultanan Banjar, Martapura. Ulama inilah yang menulis tentang Asal Kejadian Nur Muhammad dan menghadiahkannya untuk Ratu Aceh Sulthanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat (1641-1675 M). Ulama ini hidup pada masa pemerintahan Pangeran Ratu yang bergelar Sultan Ri'ayatullah (alias Pangeran Tapesana (dengan nama lahir Raden Halit)) sebagai wali raja, karena putera mahkota Amirullah Bagus Kesuma belum dewasa. Pangeran Tapesana menjabat sebagai Mangkubumi kerajaan. Naskah itu ditulis pada tahun 1668 dan pernah ditemukan oleh seorang orientalis R.O. Winestedt di Jakarta.

Syekh Abdurrahman Siddiq





Syekh Abdurrahman Siddiq bin Muhammad 'Afif bin Mahmud bin Jamaluddin Al-Banjari (lahir di Dalam Pagar, Martapura, Kalimantan Selatan tahun 1857 – meninggal di Sapat, Indragiri Hilir, Riau 10 Maret 1930 pada umur 72 tahun) adalah seorang ulama dari etnis Banjar yang dikenal di mana-mana bahkan sampai di Mekkah karena ia juga menjadi pengajar di Masjidil Haram.[1] Muridnya tersebar sampai ke Singapura, Malaysia dan Kalimantan.



Riwayat

Syekh Abdurrahman Siddiq bin Muhammad 'Afif bin Mahmud bin Jamaluddin Al-Banjari, demikian nama lengkapnya. Dilahirkan pada tahun 1857 di Kampung Dalam Pagar Martapura Kalimantan Selatan, nama lahirnya sebenarnya hanyalah Abdurrahman.
Nama "Siddiq" ia dapat dari seorang gurunya saat ia belajar di Mekkah. Ia merupakan cicit dari ulama ternama etnis Banjar, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Saat baru berusia tiga bulan, ibunda Abdurrahman Siddiq meninggal dunia. Ia tak sempat mendapat asuahan sang ibunda. Ia pun kemudian dirawat kakek dan neneknya. Sang kakek merupakan seorang ulama bernama Mufti H Muhammad Arsyad. Namun baru diusia setahun, sang kakek meninggal. Maka Abdurrahman Siddiq pun tumbuh dewasa hanya bersama neneknya, Ummu Salamah.
Sang nenek merupakan muslimah yang taat beribadah dan faqih beragama. Ia mendidik syaikh dengan kecintaan pada Alquran. Beranjak dewasa, nenek mengirim syekh pada guru-guru agama di kampung halamannya. Ketika dewasa, Syaikh makin giat menuntut ilmu agama.
Ia melakukan perjalanan menuntut ilmu ke Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di Padang pada 1882, ia masih haus ilmu. Maka pergilah syekh ke kota kelahirn Islam, Makkah pada tahun 1887.
Di tanah suci, Abdurrahman Siddiq banyak menghadiri majelis ilmu para ulama ternama Hijaz. Tak hanya di Makkah, ia pun giat bergabung di halaqah-halaqah ilmu di Masjid Nabawi di Madinah. Kegiatan tersebut ia lakukan hingga tujuh tahun lamanya. Bahkan Syekh juga sempat menjadi pengajar di Masjidil Haram selama dua tahun sebelum kemudian kembali ke tanah air.
Ia diangkat oleh Sultan Mahmud Shah (Raja Muda) sebagai Mufti Kerajaan Indragiri 1919-1939 berkedudukan di Rengat dan mengabdikan diri di Kerajaan Indragiri.[butuh rujukan]

 

Peninggalan

Karya-karya tulis

Syekh Abdurrahman Siddiq bin Muhammad 'Afif dikenal sebagai Pujangga dan Sastrawan yang semasa hidupnya mengarang sejumlah buku sasta dan agama. Tuan guru Syekh Abdurrahman, demikian panggilan hormat ia telah menulis karyanya berupa kumpulan puisi berjudul "Syair Ibarat Kabar Kiamat" yang diterbitkan oleh Ahmadiyah Press Singapura Tahun 1915. Beberapa syair sangat kritis dalam nuansa religius. Karya-karya tulis ia antara lain :
  • Fathu al'Alim fi Tartib al Ta'lim, diterbitkan di Singapura, Matba'ah Ahmadiah, 1322 H
  • Risalah 'Amal Ma'rifah, diterbitkan di Singapura : Matba'ah Ahmadiah, 1322 H
  • Majmu' al Ayah wa al Hadist fi fada-il al ilmi wa al 'ulama wa al Muta'allimin wa al Mustami'in, Singapura : Matba'ah Ahmadiah, 1355 H
  • Kitab Asrar al Salat min Uddat al Kutub al Mu'tamadah, selesai ditulis tahun 1334 H/1915 M, diterbitkan di Singapura: Matba'ah Ahmadiah, 1931 M
  • Risalah Syajaroh al Arsyadiyah" yang menyebutkan silsilah dari Syekh M. Arsyad al Banjari', Singapura : Matba'ah Ahmadiah, 1354 H
  • Tazkirah li Nafsi wa li Amtsali, Singapura : Matba'ah Ahmadiah, 1354 H
  • Kitab al Fara-id, Singapura: Matba'al Ikhwan, 1338 H
  • Sejarah Perkembangan Islam di Kerajaan Banjar, Singapura: Matba'ah Ahmadiah, 1355 H
  • Bay'u al Hayawan li al Kafirin, Singapura: Matba'ah Ahmadiah, 1355 H
  • 'Aqaid al Iman, selesai ditulis 1919 M. diterbitkan di Banjarmasin, 1984 M
  • Syair Ibarat Khabar Kiamat, Pertama kali dicetak di Singapura oleh Matba'ah Ahmadiah, tahun 1344. Sebelumnya pada tanggal 1 Juli 1915 M/1344 H. Kitab ini telah di registrasi oleh Pemerintah Inggris di Singapura.[2]

Masjid

Peninggalan Syekh Abdurrahman yang terkenal adalah Masjid yang dibangunnya sendiri pada tahun 1927. Masjid ini berarsitektur khas pada atap dan berada 200 meter dari makamnya.[butuh rujukan]

Referensi

Pranala luar

Syaikh Nashiruddin Al-Albani


Syaikh Nashiruddin Al-Albani adalah salah satu tokoh yang pernah hidup di abad 20 sebagai ulama yang mendalami masalah kritik sanad hadits. Menjadi tenar -salah satunya- karena pendapat-pendapat beliau yang cenderung berbeda dari kebanyakan pendapat yang sudah dianut oleh umat Islam, baik di bidang ilmu hadits atau pun di bidang fiqih.
Salah satunya adalah pandangan beliau yang mengajak orang untuk tidak terpaku kepada pandangan dari mazhab-mazhab fiqih peninggalan para ulama. Sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu asing, karena sudah banyak dikampanyekan oleh para tokoh sebelumnya seperti Muhammad Abduh atau Rasyid Ridha. Namun beliau menyampaikan dengan format yang berbeda dan lebih spesifik serta didukung oleh keahlian beliau di bidang kritik sanad hadits.
Kelahiran di Albania dan Hijrah ke Damaskus
Syeikh Nashiruddin Al-Albani lahir tahun 1914 masehi atau bertepatan dengan tahun 1333 hijriyah, di ibukota Albania saat itu, Asyqodar.
Keluarga beliau boleh dibilang termasuk kalangan kurang berada, namun bertradisi kuat dalam menuntut ilmu agama. Ayahanda beliau bernama Al-Haj Nuh, lulusan lembaga pendidikan ilmu-ilmu syari’ah di ibukota negara dinasti Utsmaniyah (kini Istambul) dan menjadi rujukan orang-orang dalam masalah agama.

Keluarga beliau kemudian berhijrah ke Damaskus, ibu kota Syria, dan menetap di sana setelah Ahmad Zaghu raja Albania saat itu menyimpangkan negaranya menjadi kebarat-baratan.
Pendidikan Agama
Beliau boleh dibilang tidak menyelesaikan pendidikan formal yang tinggi, kecuali hanya menyelesaikan sekolah madrasah ibtidaiyah dengan baik. Kemudian beliau meneruskan ke madarasah An-Nizhamiyah yang sangat fenomenal di dunia Islam. Namun setelah itu ayahnya punya pendapat tersendiri tentang madrasah An-Nizamiyah sehingga beliau keluar dan belajar dengan sistem tersendiri pelajarannya, seperti Quran, tajwid, nahwu, sharf serta fiqih mazhab Hanafi.
Beliau mengkhatamkan Al-Quran di tangan ayahnya sendiri dengan bacaan riwayat Hafsh dari Ashim. Beliau belajar kitab fiqih mazhab Al-Hanafi yaitu Maraqi al-Falah kepada Syeikh Said Al-Burhani, selain juga belajar lughah dan balaghah.
Secara pendapatan finansial, beliau bekerja sebagai tukang jam, sebuah keahlian yang diwariskannya dari ayahnya sendiri. Bahkan beliau sampai menjadi termasyhur di bidang service jam di Damaskus.
Sesungguhnya ayah beliau telah mengarahkan beliau untuk mendalami agama khususnya pada mazhab Al-Hanafi serta memperingatkan beliau untuk tidak terlalu menekuni ilmu hadits. Namun beliau tetap belajar ilmu hadits dan ilmu-ilmu lainnya yang menunjang. Sehingga paling tidak beliau menghabiskan 20 tahun dari hidupnya dalam mempelajari ilmu hadits, karena pengaruh dari bacaan beliau pada majalah Al-Manar yang diterbitkan oleh Syaikh Rasyid Ridha rahimahullah.
Mendalami Ilmu Hadits di Perpustakaan
Beliau menyenangi ilmu hadits dan semakin asyik dengan penelusuran kitab-kitab hadits. Sampai pihak pengelola perpustakaan adz-Dzhahiriyah di Damaskus memberikan sebuah ruangan khusus di perpustakaan untuk beliau.
Bahkan kemudian beliau diberi wewenang untuk membawa kunci perpustakaan. Dengan demikian, beliau menjadi leluasa dan terbiasa datang sebelum yang lainnya datang. Begitu pula pulangnya ketika orang lain pulang pada waktu dhuhur, beliau justru pulang setelah sholat isya. Hal ini dijalaninya sampai bertahun-tahun.
Begitulah, hadits menjadi kesibukan rutinnya, sampai-sampai beliau menutup kios reparasi jamnya. Beliau lebih betah berlama-lama dalam perpustakaan azh-Zhahiriyah, sehingga setiap harinya mencapai 12 jam. Tidak pernah istirahat mentelaah kitab-kitab hadits, kecuali jika waktu sholat tiba. Untuk makannya, seringkali hanya sedikit makanan yang dibawanya ke perpustakaan.
Kontroversi Tentang Sosok Beliau
Syeikh Nashiruddin Al-Albani oleh beberapa kalangan sangat dihormati sebagai ulama yang setuju dengan pandangan-pandangannya, namun memang ada juga sebagian lainnya yang kurang suka kepada pendapatnya serta cara penyampaiannya yang khas.
Mereka yang gemar dengan pendapat beliau umumnya adalah kalangan muda yang getol mempelajari ilmu hadits. Namun kurang dalam mempelajari ilmu fiqih serta perangkat-perangkatnya. Paling tidak, sistematika fiqih yang beliau kembangkan beliau tidak sebagaimana umumnya sistematika ilmu fiqih yang digunakan oleh para ahli fiqih umumnya.
Misalnya buat beliau, kesimpulan hukum suatu masalah lebih sering ditetapkan semata-mata berdasarkan kekuatan riwayat suatu hadits. Sedangkan pertimbangan lainnya sebagaimana yang ada di dalam ilmu fiqih, termasuk pendapat para imam mazhab, seringkali ditepis oleh beliau.
Ketidak-sukaan sebagian orang kepada beliau biasanya dilatar-belakangi oleh kekurang-mengertian mereka kepada sosok beliau. Sehingga melahirkan pandangan yang kurang baik pada citra diri beliau. Bahkan beliau pernah mengalami dua kali dipenjara, yang konon disebabkan oleh masalah seperti ini.
Memang terkadang bahasa yang beliau gunakan boleh dibilang agak terbuka dan terlalu apa adanya. Sehingga membuat telinga sebagian orang yang membacanya dan kebetulan kena sindir beliau menjadi merah telinganya.
Selain itu beliau memang dikenal sebagai tokoh di bidang ilmu hadits yang cenderung tidak mau berpegang kepada pendapat-pendapat dari mazhab-mazhab fiqih yang ada. Kesan itu akan sangat terasa menyengat bila kita banyak mengkaji ceramah dan tulisan beliau, terutama yang menyangkut kajian fiqih para ulama mazhab.
Bagi beliau, pendapat para ulama mazhab harus ditinggalkan bila bertentangan dengan apa yang beliau yakini sebagai hasil ijtihad beliau dari hadits-hadits shahih. Apalagi bila menurut beliau, pendapat para ulama mazhab itu tidak didasari oleh riwayat hadits yang kuat sanadnya.
Bahkan beliau mudah menjatuhkan vonis ahli bid’ah kepada siapa saja yang menurut beliau telah berdalil dengan hadits yang lemah. Maksudnya lemah di sini adalah lemahmenurut hasil penelitian beliau sendiri. Termasuk juga pada masalah-masalah yang umumnya dianggap sudah final di kalangan para ahli fiqih. Buat beliau, semua itu harus diabaikan, bila berbeda dengan pandangan beliau dengan landasan ijtihad beliau di bidang ilmu hadits.
Barangkali hal-hal inilah yang sering menimbulkan pandangan tertentu di kalangan sebagian orang tentang sosok beliau.
Namun apa yang beliau sampaikan itu sebenarnya bukan sekedar omongan belaka, namun berangkat dari hasil ijtihad beliau pribadi. Dengan kapasitas ilmu hadits yang beliau miliki serta banyaknya beliau membaca di perpustakaan, maka apa yang menjadi pendapat beliau punya landasan ilmiyah, bukan asal bunyi.
Namun sebagaimana tradisi keilmuwan di dalam peradaban Islam, boleh saja para ulama saling berbeda pandangan satu dengan yang lainnya, namun kita diharamkan untuk saling ejek, saling cemooh, saling cela dan saling boikot, hanya lantaran perbedaan pandangan.
Apa yang menjadi pandangan Albani harus dihormati sebagai sebuah hasil ijtihad seorang yang telah menguasai satu cabang ilmu. Tentunya beliau berhak atas pendapatnya. Namun ijtihad yang dihasilkan oleh seorang ulama tidaklah harus menggugurkan ijtihad ulama lain yang juga telah mengerahkan semua kemampuannya. Biarlah hasil-hasil ijtihad saling berbeda, sehingga memberikan ruang gerak yang luas kepada umat Islam ini.
Beberapa Tugas yang Pernah Diemban
Syeikh al-Albani Beliau pernah mengajar hadits dan ilmu-ilmu hadits di Universitas Islam Madinah meski tidak lama, hanya sekitar tiga tahun, sejak tahun 1381-1383 H.
Setelah itu beliau pindah ke Yordania. Pada tahun 1388 H, Departemen Pendidikan meminta kepada Syeikh al-Albani untuk menjadi ketua jurusan Dirasah Islamiyah pada Fakultas Pasca Sarjana di sebuah Perguruan Tinggi di kerajaan Yordania. Tetapi situasi dan kondisi saat itu tidak memungkinkan beliau memenuhi permintaan itu.
Pada tahun 1395 H hingga 1398 H beliau kembali ke Madinah untuk bertugas sebagai anggota Majelis Tinggi Jam’iyah Islamiyah di sana. Mendapat penghargaan tertinggi dari kerajaan Saudi Arabia berupa King Faisal Fundation tanggal 14 Dzulkaidah 1419 H.
Wafat Beliau dan Warisannya
Beliau wafat pada hari Jum’at malam Sabtu tanggal 21 Jumada Tsaniyah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yoradania. Karya-karya beliau amat banyak yang menjadi warisan kepada dunia Islam, sebagian sudah dicetak, namun ada yang masih berupa manuskrip, bahkan ada yang hilang, semua berjumlah 218 judul. Antara lain:
  1. Adabuz-Zifaf fi As-Sunnah al-Muthahharah
  2. Al-Ajwibah an-Nafi’ah ‘ala as’ilah masjid al-Jami’ah
  3. Silisilah al-Ahadits ash-Shahihah
  4. Silisilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wal maudhu’ah
  5. At-Tawasul wa anwa’uhu
  6. Ahkam Al-Jana’iz wabida’uha
Sumber: http://mashurialmadiuny.blogspot.com/2009/02/biografi-sheikh-muhammad-nashirudin-al.html

Syekh Abdul Hamid (Datu Ambulung)

Syekh Abdul Hamid (Datu Abulung)

Datu Abdul Hamid Abulung atau Datu Abulung

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
   
 
 
 
 
     Menyebut nama Syekh Abdul Hamid atau sering kita sebut Datu Abulung pasti dibenak kita terkenang akan seorang ulama yang pernah menggemparkan Kalimantan dengan paham wihdatul wujudnya, sepak terjang beliau memang tak banyak yang mengetahui karna beliau tidak ada meninggalkan kitab karangan seperti ulama ulama lainnya, keilmuan beliau cuma dapat kita ketahui secara lisan dari mulut kemulut atau dari pewaris para murid beliau, banyak pendapat yang berbeda tentang kisah beliau ada yang menyatakan bahwa ilmu beliau salah atau manyalah (bahasa banjar) tapi sebagian masyarakat banjar bahkan hampir seluruhnya menyatakan bahwa Datu Abulung ini adalah seorang wali Allah, terlepas dari segala kontropersi yang ada riwayat beliau sangat dicari oleh sebagian masyarakat banjar.
Dalam sejarah pemikiran keagamaan dikalimantan pada abad ke 18 setidaknya ada tiga tokoh ternama di Kerajaan Banjar selain Datu Suban dan para muridnya yang sakti mandraguna, pada masa itu para ulama banjar memang sangat terkenal dengan segala karamah dan kesaktiannya,diantara tiga orang tokoh ternama dan terkenal tersebut adalah 
1. Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau Datu Kalampayan
2. Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari atau Datu Nafis
3. Syekh Abdul Hamid Abulung atau Datu Abulung
Dan sosok Datu Abulung inilah yang penuh misteri hingga saat ini, pada masa itu pemerintahan kerajaan diperintah oleh sultan Tahlilullah, saat itu lah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dan Syekh Abdul Hamid muda diberangkatkan oleh kerajaan banjar untuk menuntut ilmu dengan biaya kerajaan dengan harapan nantinya bisa membawa sinar terang bagi kerajaan banjar, mereka diberangkatkan keTanah Suci Makkah Al-Mukarramah, tercatat Datu Kalampayan belajar kepada beberapa orang guru (baca riwayat Datu Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari),sedangkan Datu abulung juga belajar kepada beberapa orang guru yang sayangnya tidak tercatat karena tidak adanya karangan beliau yang biasanya merujuk kepada guru guru pengarang, sepulangnya dari menuntut ilmu ditanah suci Datu Syekh Abdul Hamid mulai mengajarkan ilmu yang didapatnya dari guru gurunya di Mekkah kepada masyarakat sekitarnya,diantara yang beliau ajarkan adalah ilmu Tasawuf, namun ilmu tasawuf yang beliau ajarkan kepada orang awam ini sangat berlainan dengan pelajaran tasawuf yang selama ini dikenal masyarakat,Datu Abulung mengajarkan bahwa;
                                      Tiada yang maujud hanya Dia
                                            Tiada maujud lain-Nya
                                          Tiada aku melainkan Dia
                                                Dia adalah aku
                                                aku adalah Dia
Dalam pelajaran Syekh Abdul Hamid Abulung juga diajarkan bahwa Syariat yang diajarkan selama ini adalah kulit belum sampai kepada isi (hakikat), sedangkan pelajaran yang selama ini diyakini masyarakat umum yaitu Tiada yang berhak dan patut disembah selain Allah ,Allah adalah Khalik dan selainnya adalah makhluk,tiada sekutu bagi-Nya,ajaran Datu Abulung ini kurang lebih seperti ajaran Abu Yazid Al-Bustami,husein bin Mansyur Al-Hallaj yang kemudian memasuki Indonesia melalui Hamzah Fansuri dan Syamsuddin disumatera dan Syekh Siti Jenar di pulau Jawa.
Mendengar fatwa Datu Abulung yang berbeda dari kebanyakan paham masyarakat pada waktu itu,maka gemparlah masyarakat yang menerima ajaran tersebut,bahkan ajaran yang beliau sampaikan menjadi pembicaraan masyarakat umum yang mana akhirnya samapi ketelinga Sultan,sebelum Datu Abulung dipanggil sultan terlebih dahulu  minta pendapat syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (satu riwayat mengatakan tanpa diketahui Syekh Muhammad Arsyad) tentang ajaran Datu abulung tersebut.setelah menelaah beberapa kitab kemudian diambil kesimpulan bahwa ajaran yang dibawa Datu Abulung yang diajarkan kepada orang awam tersebut bisa menyesatkan masyarakat dan bisa merusak kehidupan beragama,adalah kewajiban Ulama dan Umara melindungi keagamaan rakyatnya dari unsur unsur yang membahayakan,jika tidak dapat dengan jalan damai maka lebih baik menyingkirkan nya , Menolak mafsadah (keburukan)lebih didahulukan dari pada mengambil manfaat.Melenyapkan seseorang untuk menyelamatkan orang banyak dibolehkan menurut hukum malah terkadang wajib (Zafri Zam Zam,Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari,1979,hal 13)berdasarkan keputusan tersebut maka dipanggillah Datu abulung,salah seorang prajurit kerajaan disuruh untuk mendatangi Datu Abulung setelah sampai ditempat Datu Abulung lalu dipanggillah beliau,satu riwayat menceritakan pemanggilan tersebut,prajurit itu berkata Hai Syekh Abdul Hamid ..anda dipanggil baginda Sultan ,kemudian dijawab oleh Datu Abulung “Syekh Abdul Hamid tidak ada yang ada hanya Allah…mendengar hal tersebut prajurit tersebut dan mengadukan kepada sultan,kemudian sultan menyuruh kembali dan memanggil “Allah “tersebut,setelah sampai ditempat Datu Abulung prajurit itu kembali berkata “hai Allah anda dipanggil baginda Sultan”yang kemudian dijawab kembali oleh Datu Abulung “Allah tidak ada yang ada hanya Nur Muhammad”  mendengar hal itu prajurit kemali kekerajaan dan mengatakan hal tersebut kepada Baginda Sultan..kemudian sultan berkata panggil ketiganya Syekh Abdul Hamid,Allah dan Nur Muhammad ,barulah setelah prajurit tersebut memanggil seperti dipesankan sultan barulah Datu Abulung berkunjung keistana,ditengah perjalanan menuju istana dipasanglah perangkap yang apabila terpijak maka melesatlah sebilah tombak tajam yang akan menghujam ketubuh orang yang menginjaknya,saat itu terbukti kebenaran ajaran Syekh Abdul Hamid Abulung,ketika beliau menginjak perangkap tersebut tombak tajam itu memang melesat dengan cepatnya diudara dan berhenti tepat dibelakang Datu Abulung dan jatuh ketanah tanpa beliau mengetahuinya,setelah sampai diistana dan terjadi tanya jawab,sultan ingin bukti kebenaran ajaran Datu Abulung,kemudian beliau berucap’Ashadu alla ilahaillallah’ tiba tiba tubuh beliau menghilang,kemudian terdengar lagi suara “wa ashadu anna muhammadarrasulullah”  timbullah kembali badan beliau,semua orang kagum melihat hal tersebut,tapi dengan menimbang untuk keselamatan orang awam yang lebih banyak maka dihukumlah Syekh Abdul Hamid Abulung dengan didimasukkan kedalam kerangkeng yang ukurannya hanya muat tubuh beliau dan hanya cukup untuk berdiri,dengan kurungan seperti itu akhirnya beliau ditenggelamkan disungai lok buntar,maka akhirnya tenggelamlah sampai kedasar sungai.
Tanpa diketahui oleh semua orang suatu keanehan terjadi apabila tiba waktu sholat fardhu maka kerangkeng tersebut akan timbul dari permukaan sungai,dan beliau kemudian keluar dari kerangkeng tersebut dan melakukan sholat,setelah selesai sholat maka secara perlahan kerangkeng tersebut tenggelam kembali kedasar sungai,pada suatu malam menjelang subuh sepuluh orang pencari ikan yang sampai pada sekitar tenggelamnya Syekh Abdul Hamid lamat lamat mereka mendengar suara azan,perlahan lahan mereka mendekati sumber suara azan tersebut dari kejauhan mereka melihat keganjilan dan keanehan Datu Abulung tersebut,sejak saat itu mereka mengangkat beliau menjadi guru mereka,dari beliau mereka belajar berbagai ilmu agama islam,karena jumlah mereka sepuluh maka dinamakan orang sepuluh atau sekarang orang menyebutnya Datu Sepuluh,setelah selesai belajar orang sepuluh ini menjadi pegawai kerajaan
Setelah direndam dalam air Datu Abulung tidak juga mati dan akhirnya diketahui kerajaan maka akhirnya Datu Abulung kembali dibawa kekerajaan,dihadapan sultan akhirnya Datu abulung megatakan bahwa beliau tidak bisa dibinasakan dengan alat apapun kecuali dengan senjata yang ada didinding rumah beliau dan menancapkannya didalam daerah lingkaran yang beliau tunjukkan dibelikat beliau,setelah sholat dua rakaat ,senjata tersebut ditancapkan dibelikat beliau sudah ditandai tersebut maka memancarlah darah segar dari tempat itu dan anehnya darah tersebut membentuk kalimat  ”LAA ILAAHA ILLALLAH MUHAMMADUR RASULULLAH”‘ innaa Lillaahi wa Innaa ILaihi Rajiuun.
setelah sekian lama kubur beliau akhirnya ditemukan oleh masyarakat atas petunjuk dari Alm.Tuan Guru H.Muhammad nor Tangkisung yang juga diyakini adalah seorang Kekasih Allah letaknya sebelah hilir dari Kampung Dalam Pagar,dan sekarang dipelihara makamnya oleh warga setempat,selain itu keanehan makam yang terletak dipinggir sungai itu berapa kali tergeros air sungai dan turun kebawah tp setelah itu makam itu naik dengan sendirinya dan tanah dibawahnya juga mengikuti makam tersebut….walllahu a’lam….

Syekh KH.Muhammad Arsyad Al Banjari