Maulana
Al Habib Abubakar Bin Muhammad Assegaf - Gresik :
“
Mutiara yang Berkilau dari Keluarga
Assegaf “
Bersama ayahnya beliau pindah ke Kota
Gresik. Tak lama kemudian ayah beliau wafat di Gresik, saat usia Habib Abubakar
masih delapan tahun. Kemudian beliau berangkat ke Kota Seiwun, Hadramaut. Di sana
Habib Abubakar tinggal di rumah pamannya Al-‘Arif Billah Al-Habib Syeikh bin
Umar bin Segaf Assegaf, yang mengajari ilmu fiqih dan ilmu tasawuf sampai Habib
Abubakar beranjak dewasa.
Selain itu, Habib Abubakar juga belajar
kepada para ulama besar di zamannya di Kota Seiwun. Diantaranya adalah Al-Imam
Al-Qutub Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (Shahib Maulid Simtuddurar),
Al Habib Muhammad bin Ali Assegaf, Al-Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi, Al-Habib
Ahmad bin Hasan Al-Attas, Al-Habib Abdurrahman Al-Masyhur, Al-Habib Syeikh bin
Idrus Al-Aydrus dan masih banyak lagi para ulama dan Auliya yang menjadi guru
beliau.
Di sana beliau menggunakan seluruh
waktunya untuk belajar, mengambil ijazah
dan bertabaruk dari para ulama dan
auliya yang berada di Kota Seiwun, Tarim dan kota-kota lainnya di Hadramaut
(Yaman). Setelah dirasa cukup dan atas izin dari para gurunya, beliaupun
meninggalkan Hadramaut dan kembali ke Indonesia, tepatnya pada tahun 1302H.
Kemudian, Habib Abubakar juga menimba
ilmu dan memperoleh ijazah dari para ulama dan auliya Habaib di Indonesia. Pada
suatu hari Jum’at ketika sedang khusyu mendengarkan khatib berkhutbah,
datanglah ilham Rabbaniyah dengan
lintasan hati rahmani dan sebuah izin
Rabbani kepada Habib Abubakar Assegaf
untuk beruzlah. Maka berkhalwatlah
beliau dengan penuh kesabaran dan ketabahan sampai lima belas tahun lamanya.
Pada saat menjelang keluar dari khalwatnya, beliau disambut oleh guru beliau
Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (Surabaya) seraya memeluknya dan berkata
:” Aku memohon dan bertawajjuh kepada
Allah selama tiga malam berturut-turut untuk mengeluarkan Abubakar bin Muhammad
Assegaf dari uzlahnya”.
Kepada masyarakat yang hadir pada majelis
di masa itu, Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi berkata seraya menunjuk
kepada Habib Abubakar Assegaf : “Abubakar
merupakan suatu khazanah daripada
khazanah keluarga ba’alawi, kami membukakannya untuk kemanfaatan manusia, baik
yang khusus maupun yang umum”.
Semenjak itu Al-Habib Abubakar Assegaf
mulai membuka majelis taklim (rakha)
di kediamannya di Kota Gresik. Dalam majelis tersebut yang dikaji adalah
kitab-kitab para salafusshalihin dari
kalangan ba’alawi. Setiap malam Jum’at Al-Habib Abubakar Assegaf mengadakan
pengajian kitab Ihya ‘Ulumuddin (karya Imam Ghazali). Dalam
waktu yang begitu singkat, beliau telah menjadi tumpuan bagi umat di zamannya.
Al-Habib Abubakar Assegaf telah mencapai maqam tingkatan Ash-Shiddiqiyah Al-Kubra. Beliau sebagai tempat rujukan para auliya dimasanya. Telah cukup sebagai bukti keluhuran maqam beliau yang telah mencapai kedudukan berjumpa dengan Rasulullah dalam keadaan terjaga. Beliau mengatakan :”Rasulullah telah datang kepadaku dan aku dalam keadaan terjaga. Beliau memelukku dan akupun memeluknya”.
Para ulama dan auliya bersepakat, bahwa maqam ijtima’ (bertemu) dengan Nabi SAW
dalam keadaan terjaga (bangun), adalah maqam
yang tertinggi diantara semua maqam.Ini
tidak lain dalah buah ittiba’
(peneladanan) yang sempurna terhadap Rasulullah SAW. Adapun kesempurnaan istiqamah beliau merupakan puncak dari
segala karamah dan kemuliaan yang ada
pada dirinya. Beliau adalah Al-Imam Al-Qutubul Fard Al-Habib Abubakar bin
Muhammad Assegaf.
Al-Habib Husein bin Muhammad Al-Haddad
(Jombang) mengatakan :”Al-Imam Al-Habib
Abubakar bin Muhammad Assegaf adalah
seorang pemimpin auliya’ saat ini. Beliau telah berada di puncak maqam yang
tertinggi, beliau mampu mengetahui hakekat dari segala sesuatu”.
Al-Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf, wafat pada malam Senin 17 Dzulhijjah1376H
dalam usia 91 tahun. Di saat menjelang akhir hayatnya, beliau selalu mengatakan
:”Aku berbahagia untuk berjumpa dengan Allah”. (“Semoga Allah
SWT selalu mencurahkan limpahan Rahmat dan KeRidhoan-Nya kepada Al-Habib
Abubbakar Assegaf beserta seluruh dzuriat Rasulullah SAW sampai akhir zaman...Amiiin
ya Robbal ‘Alamin”.)
Sumber Bacaan : “17 Habaib
Berpengaruh di Indonesia” oleh Abdul Qadir Umar Mauladdawilah, Tahun 2008.


No comments:
Post a Comment