Friday, March 8, 2019

Syekh KH Kholil Bangkalan Madura

KH Kholil Bangkalan Madura

Hari Selasa tanggal 11 Jumadil Akhir 1235 H atau 27 Januari 1820 M, Abdul Lathif seorang Kyai di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, ujung Barat Pulau Madura, Jawa Timur, merasakan kegembiraan yang teramat sangat. Karena hari itu, dari rahim istrinya lahir seorang anak laki-laki yang sehat, yang diberinya nama Muhammad Kholil, yang kelak akan terkenal dengan nama Mbah Kholil.

KH. Abdul Lathif sangat berharap agar anaknya di kemudian hari menjadi pemimpin umat, sebagaimana nenek moyangnya. Seusai mengadzani telinga kanan dan mengiqamati telinga kiri sang bayi, KH. Abdul Lathif memohon kepada Allah agar Dia mengabulkan permohonannya.
Mbah Kholil kecil berasal dari keluarga ulama. Ayahnya, KH. Abdul Lathif, mempunyai pertalian darah dengan Sunan Gunung Jati. Ayah Abdul Lathif adalah Kyai Hamim, anak dari Kyai Abdul Karim. Yang disebut terakhir ini adalah anak dari Kyai Muharram bin Kyai Asror Karomah bin Kyai Abdullah bin Sayyid Sulaiman. Sayyid Sulaiman adalah cucu Sunan Gunung Jati. Maka tak salah kalau KH. Abdul Lathif mendambakan anaknya kelak bisa mengikuti jejak Sunan Gunung Jati karena memang dia masih terhitung keturunannya.

Oleh ayahnya, ia dididik dengan sangat ketat. Mbah Kholil kecil memang menunjukkan bakat yang istimewa, kehausannya akan ilmu, terutama ilmu Fiqh dan nahwu, sangat luar biasa. Bahkan ia sudah hafal dengan baik Nazham Alfiyah Ibnu Malik (seribu bait ilmu Nahwu) sejak usia muda. Untuk memenuhi harapan dan juga kehausannya mengenai ilmu Fiqh dan ilmu yang lainnya, maka orang tua Mbah Kholil kecil mengirimnya ke berbagai pesantren untuk menimba ilmu.

Belajar ke Pesantren
Mengawali pengembaraannya, sekitar tahun 1850-an, ketika usianya menjelang tiga puluh, Mbah Kholil muda belajar kepada Kyai Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur. Dari Langitan beliau pindah ke Pondok Pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Kemudian beliau pindah ke Pondok Pesantren Keboncandi. Selama belajar di Pondok Pesantren ini beliau belajar pula kepada Kyai Nur Hasan yang menetap di Sidogiri, 7 kilometer dari Keboncandi. Kyai Nur Hasan ini, sesungguhnya, masih mempunyai pertalian keluarga dengannya.
Jarak antara Keboncandi dan Sidogiri sekitar 7 Kilometer. Tetapi, untuk mendapatkan ilmu, Mbah Kholil muda rela melakoni perjalanan yang terbilang lumayan jauh itu setiap harinya. Di setiap perjalanannya dari Keboncandi ke Sidogiri, ia tak pernah lupa membaca Surah Yasin. Ini dilakukannya hingga ia -dalam perjalanannya itu- khatam berkali-kali.

Orang yang Mandiri
Sebenarnya, bisa saja Mbah Kholil muda tinggal di Sidogiri selama nyantri kepada Kyai Nur Hasan, tetapi ada alasan yang cukup kuat bagi dia untuk tetap tinggal di Keboncandi, meskipun Mbah Kholil muda sebenarnya berasal dari keluarga yang dari segi perekonomiannya cukup berada. Ini bisa ditelisik dari hasil yang diperoleh ayahnya dalam bertani.

Akan tetapi, Mbah Kholil muda tetap saja menjadi orang yang mandiri dan tidak mau merepotkan orangtuanya. Karena itu, selama nyantri di Sidogiri, Mbah Kholil tinggal di Keboncandi agar bisa nyambi menjadi buruh batik. Dari hasil menjadi buruh batik itulah dia memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Sewaktu menjadi Santri Mbah Kholil telah menghafal beberapa matan, seperti Matan Alfiyah Ibnu Malik (Tata Bahasa Arab). Disamping itu beliau juga seorang Hafidz Al-Quran. Beliau mampu membaca Al-Qur’an dalam Qira’at Sab’ah (tujuh cara membaca Al-Quran).

Ke Mekkah
Kemandirian Mbah Kholil muda juga nampak ketika ia berkeinginan untuk menimba ilmu ke Mekkah. Karena pada masa itu, belajar ke Mekkah merupakan cita-cita semua santri. Dan untuk mewujudkan impiannya kali ini, lagi-lagi Mbah Kholil muda tidak menyatakan niatnya kepada orangtuanya, apalagi meminta ongkos kepada kedua orangtuanya.

Kemudian, setelah Mbah Kholil memutar otak untuk mencari jalan kluarnya, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke sebuah pesantren di Banyuwangi. Karena, pengasuh pesantren itu terkenal mempunyai kebun kelapa yang cukup luas. Dan selama nyantri di Banyuwangi ini, Mbah Kholil nyambi menjadi “buruh” pemetik kelapa pada gurunya. Untuk setiap pohonnya, dia mendapat upah 2,5 sen. Uang yang diperolehnya tersebut dia tabung. Sedangkan untuk makan, Mbah Kholil menyiasatinya dengan mengisi bak mandi, mencuci dan melakukan pekerjaan rumah lainnya, serta menjadi juru masak teman-temannya. Dari situlah Mbah Kholil bisa makan gratis.
Akhirnya, pada tahun 1859 M, saat usianya mencapai 24 tahun, Mbah Kholil memutuskan untuk pergi ke Mekkah. Tetapi sebelum berangkat, Mbah Kholil menikah dahulu dengan Nyai Asyik, anak perempuan Lodra Putih.

Setelah menikah, berangkatlah dia ke Mekkah. Dan memang benar, untuk ongkos pelayarannya bisa tertutupi dari hasil tabungannya selama nyantri di Banyuwangi, sedangkan untuk makan selama pelayaran, konon, Mbah Kholil berpuasa. Hal tersebut dilakukan Mbah Kholil bukan dalam rangka menghemat uang, akan tetapi untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, agar perjalanannya selamat.

Pada tahun 1276 H/1859 M, Mbah Kholil Belajar di Mekkah. Di Mekkah Mbah Kholil belajar dengan Syeikh Nawawi Al-Bantani (Guru Ulama Indonesia dari Banten). Diantara gurunya di Mekkah ialah Syeikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Mustafa bin Muhammad Al-Afifi Al-Makki, Syeikh Abdul Hamid bin Mahmud Asy-Syarwani. Beberapa sanad hadits yang musalsal diterima dari Syeikh Nawawi Al-Bantani dan Abdul Ghani bin Subuh bin Ismail Al-Bimawi (Bima, Sumbawa).

Sebagai pemuda Jawa (sebutan yang digunakan orang Arab waktu itu untuk menyebut orang Indonesia) pada umumnya, Mbah Kholil belajar pada para Syeikh dari berbagai madzhab yang mengajar di Masjid Al-Haram. Namun kecenderungannya untuk mengikuti Madzhab Syafi’i tak dapat disembunyikan. Karena itu, tak heran kalau kemudian dia lebih banyak mengaji kepada para Syeikh yang bermadzhab Syafi’i.

Konon, selama di Mekkah, Mbah Kholil lebih banyak makan kulit buah semangka ketimbang makanan lain yang lebih layak. Realitas ini –bagi teman-temannya, cukup mengherankan. Teman seangkatan Mbah Kholil antara lain: Syeikh Nawawi Al-Bantani, Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, dan Syeikh Muhammad Yasin Al-Fadani. Mereka semua tak habis pikir dengan kebiasaan dan sikap keprihatinan temannya itu.

Kebiasaan memakan kulit buah semangka kemungkinan besar dipengaruhi ajaran ngrowot (vegetarian) dari Al-Ghazali, salah seorang ulama yang dikagumi dan menjadi panutannya.
Mbah Kholil sewaktu belajar di Mekkah seangkatan dengan KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Chasbullah dan KH. Muhammad Dahlan. Namum Ulama-ulama dahulu punya kebiasaan memanggil Guru sesama rekannya, dan Mbah Kholil yang dituakan dan dimuliakan di antara mereka.

Sewaktu berada di Mekkah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Mbah Kholil bekerja mengambil upah sebagai penyalin kitab-kitab yang diperlukan oleh para pelajar. Diriwayatkan bahwa pada waktu itulah timbul ilham antara mereka bertiga, yaitu: Syeikh Nawawi Al-Bantani, Mbah Kholil dan Syeikh Shaleh As-Samarani (Semarang) menyusun kaidah penulisan Huruf Pegon. Huruf Pegon ialah tulisan Arab yang digunakan untuk tulisan dalam bahasa Jawa, Madura dan Sunda. Huruf Pegon tidak ubahnya tulisan Melayu/Jawi yang digunakan untuk penulisan bahasa Melayu.
Mbah Kholil cukup lama belajar di beberapa pondok pesantren di Jawa dan Mekkah. Maka sewaktu pulang dari Mekkah, beliau terkenal sebagai ahli/pakar nahwu, fiqh, tarekat dan ilmu-ilmu lainnya. Untuk mengembangkan pengetahuan keislaman yang telah diperolehnya, Mbah Kholil selanjutnya mendirikan pondok-pesantren di Desa Cengkebuan, sekitar 1 kilometer arah Barat Laut dari desa kelahirannya.

Kembali ke Tanah Air
Sepulangnya dari Tanah Arab (tak ada catatan resmi mengenai tahun kepulangannya), Mbah Kholil dikenal sebagai seorang ahli Fiqh dan Tarekat. Bahkan pada akhirnya, dia pun dikenal sebagai salah seorang Kyai yang dapat memadukan kedua hal itu dengan serasi. Dia juga dikenal sebagai al-Hafidz (hafal Al-Qur’an 30 Juz). Hingga akhirnya, Mbah Kholil dapat mendirikan sebuah pesantren di daerah Cengkubuan, sekitar 1 Kilometer Barat Laut dari desa kelahirannya.

Dari hari ke hari, banyak santri yang berdatangan dari desa-desa sekitarnya. Namun, setelah putrinya, Siti Khatimah dinikahkan dengan keponakannya sendiri, yaitu Kyai Muntaha; pesantren di Desa Cengkubuan itu kemudian diserahkan kepada menantunya. Mbah Kholil sendiri mendirikan pesantren lagi di daerah Kademangan, hampir di pusat kota; sekitar 200 meter sebelah Barat alun-alun kota Kabupaten Bangkalan. Letak Pesantren yang baru itu, hanya selang 1 Kilometer dari Pesantren lama dan desa kelahirannya.

Di tempat yang baru ini, Mbah Kholil juga cepat memperoleh santri lagi, bukan saja dari daerah sekitar, tetapi juga dari Tanah Seberang Pulau Jawa. Santri pertama yang datang dari Jawa tercatat bernama Hasyim Asy’ari, dari Jombang.

Di sisi lain, Mbah Kholil disamping dikenal sebagai ahli Fiqh dan ilmu Alat (nahwu dan sharaf), ia juga dikenal sebagai orang yang “waskita,” weruh sak durunge winarah (tahu sebelum terjadi). Malahan dalam hal yang terakhir ini, nama Mbah Kholil lebih dikenal.

Geo Sosio Politika
Pada masa hidup Mbah Kholil, terjadi sebuah penyebaran Ajaran Tarekat Naqsyabandiyah di daerah Madura. Mbah Kholil sendiri dikenal luas sebagai ahli tarekat; meskipun tidak ada sumber yang menyebutkan kepada siapa Mbah Kholil belajar Tarekat. Tapi, menurut sumber dari Martin Van Bruinessen (1992), diyakini terdapat sebuah silsilah bahwa Mbah Kholil belajar kepada Kyai ‘Abdul Adzim dari Bangkalan (salah satu ahli Tarekat Naqsyabandiyah Muzhariyah). Tetapi, Martin masih ragu, apakah Mbah Kholil penganut Tarekat tersebut atau tidak?

Masa hidup Mbah Kholil, tidak luput dari gejolak perlawanan terhadap penjajah. Tetapi, dengan caranya sendiri Mbah Kholil melakukan perlawanan.

Pertama: Ia melakukannya dalam bidang pendidikan. Dalam bidang ini, Mbah Kholil mempersiapkan murid-muridnya untuk menjadi pemimpin yang berilmu, berwawasan, tangguh dan mempunyai integritas, baik kepada agama maupun bangsa. Ini dibuktikan dengan banyaknya pemimpin umat dan bangsa yang lahir dari tangannya; salah satu diantaranya adalah KH. Hasyim Asy’ari, Pendiri Pesantren Tebu Ireng.

Kedua: Mbah Kholil tidak melakukan perlawanan secara terbuka, melainkan ia lebih banyak berada di balik layar. Realitas ini tergambar, bahwa ia tak segan-segan untuk memberi suwuk (mengisi kekuatan batin, tenaga dalam) kepada pejuang. Mbah Kholil pun tidak keberatan pesantrennya dijadikan tempat persembunyian.

Ketika pihak penjajah mengetahuinya, Mbah Kholil ditangkap dengan harapan para pejuang menyerahkan diri. Tetapi, ditangkapnya Mbah Kholil, malah membuat pusing pihak Belanda. Karena ada kejadian-kejadian yang tidak bisa mereka mengerti; seperti tidak bisa dikuncinya pintu penjara, sehingga mereka harus berjaga penuh supaya para tahanan tidak melarikan diri.

Di hari-hari selanjutnya, ribuan orang datang ingin menjenguk dan memberi makanan kepada Mbah Kholil, bahkan banyak yang meminta ikut ditahan bersamanya. Kejadian tersebut menjadikan pihak Belanda dan sekutunya merelakan Mbah Kholil untuk dibebaskan saja.

Mbah Kholil adalah seorang ulama yang benar-benar bertanggung jawab terhadap pertahanan, kekukuhan dan maju-mundurnya agama Islam dan bangsanya. Beliau sadar benar bahwa pada zamannya, bangsanya adalah dalam suasana terjajah oleh bangsa asing yang tidak seagama dengan yang dianutnya.

Beliau dan keseluruhan suku bangsa Madura seratus persen memeluk agama Islam, sedangkan bangsa Belanda, bangsa yang menjajah itu memeluk agama Kristiani. Sesuai dengan keadaan beliau sewaktu pulang dari Mekkah yang telah berumur lanjut, tentunya Mbah Kholil tidak melibatkan diri dalam medan perang, memberontak dengan senjata tetapi mengkaderkan pemuda di pondok pesantren yang diasaskannya.

Mbah Kholil sendiri pernah ditahan oleh penjajah Belanda karena dituduh melindungi beberapa orang yang terlibat melawan Belanda di pondok pesantrennya. Beberapa tokoh ulama maupun tokoh-tokoh kebangsaan lainnya yang terlibat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tidak sedikit yang pernah mendapat pendidikan dari Mbah Kholil.

Diantara sekian banyak murid Mbah Kholil yang cukup menonjol dalam sejarah perkembangan agama Islam dan bangsa Indonesia ialah KH. Hasyim Asy’ari (pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, dan pengasas Nahdlatul Ulama/NU), KH. Abdul Wahab Chasbullah (pendiri Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang), KH. Bisri Syansuri (pendiri Pondok Pesantren Denanyar, Jombang), KH. Ma’shum (pendiri Pondok Pesantren Lasem, Rembang, adalah ayahanda KH. Ali Ma’shum), KH. Bisri Mustofa (pendiri Pondok Pesantren Rembang), dan KH. As’ad Syamsul `Arifin (pengasuh Pondok Pesantren Asembagus, Situbondo).

Karomah Mbah Kholil
Ulama besar yang digelar oleh para Kyai sebagai “Syaikhuna” yakni guru kami, karena kebanyakan Kyai-Kyai dan pengasas pondok pesantren di Jawa dan Madura pernah belajar dan nyantri dengan beliau. Pribadi yang dimaksudkan ialah Mbah Kholil. Tentunya dari sosok seorang Ulama Besar seperti Mbah Kholil mempunyai karomah.

Istilah karomah berasal dari bahasa Arab. Secara bahasa berarti mulia, Syeikh Thahir bin Shaleh Al-Jazairi dalam kitab Jawahirul Kalamiyah mengartikan kata karomah adalah perkara luar biasa yang tampak pada seorang wali yang tidak disertai dengan pengakuan seorang Nabi.

Adapun karomah Mbah Kholil diantaranya:

1. Membelah Diri

Kesaktian lain dari Mbah Kholil, adalah kemampuannya membelah diri. Dia bisa berada di beberapa tempat dalam waktu bersamaan. Pernah ada peristiwa aneh saat beliau mengajar di pesantren. Saat berceramah, Mbah Kholil melakukan sesuatu yang tak terpantau mata. ”Tiba-tiba baju dan sarung beliau basah kuyup,” Cerita KH. Ghozi.
Para santri heran. Sedangkan beliau sendiri cuek, tak mau menceritakan apa-apa. Langsung ngeloyor masuk rumah, ganti baju.
Teka-teki itu baru terjawab setengah bulan kemudian. Ada seorang nelayan sowan ke Mbah Kholil. Dia mengucapkan terimakasih, karena saat perahunya pecah di tengah laut, langsung ditolong Mbah Kholil.
”Kedatangan nelayan itu membuka tabir. Ternyata saat memberi pengajian, Mbah Kholil dapat pesan agar segera ke pantai untuk menyelamatkan nelayan yang perahunya pecah. Dengan karomah yang dimiliki, dalam sekejap beliau bisa sampai laut dan membantu si nelayan itu,” Papar KH. Ghozi yang kini tinggal di Wedomartani Ngemplak Sleman ini.

2. Menyembuhkan Orang Lumpuh Seketika

Dalam buku yang berjudul “Tindak Lampah Romo Yai Syeikh Ahmad Jauhari Umar” menerangkan bahwa Mbah Kholil Bangkalan termasuk salah satu guru Romo Yai Syeikh Ahmad Jauhari Umar yang mempunyai karomah luar biasa. Diceritakan oleh penulis buku tersebut sebagai berikut:
“Suatu hari, ada seorang keturunan Cina sakit lumpuh, padahal ia sudah dibawa ke Jakarta tepatnya di Betawi, namun belum juga sembuh. Lalu ia mendengar bahwa di Madura ada orang sakti yang bisa menyembuhkan penyakit. Kemudian pergilah ia ke Madura yakni ke Mbah Kholil untuk berobat. Ia dibawa dengan menggunakan tandu oleh 4 orang, tak ketinggalan pula anak dan istrinya ikut mengantar.
Di tengah perjalanan ia bertemu dengan orang Madura yang dibopong karena sakit (kakinya kerobohan pohon). Lalu mereka sepakat pergi bersama-sama berobat ke Mbah Kholil. Orang Madura berjalan di depan sebagai penunjuk jalan. Kira-kira jarak kurang dari 20 meter dari rumah Mbah Kholil, muncullah Mbah Kholil dalam rumahnya dengan membawa pedang seraya berkata: “Mana orang itu?!! Biar saya bacok sekalian.”
Melihat hal tersebut, kedua orang sakit tersebut ketakutan dan langsung lari tanpa ia sadari sedang sakit. Karena Mbah Kholil terus mencari dan membentak-bentak mereka, akhirnya tanpa disadari, mereka sembuh. Setelah Mbah Kholil wafat kedua orang tersebut sering ziarah ke makam beliau.

3. Kisah Pencuri Timun Tidak Bisa Duduk

Pada suatu hari petani timun di daerah Bangkalan sering mengeluh. Setiap timun yang siap dipanen selalu kedahuluan dicuri maling. Begitu peristiwa itu terus-menerus, akhirnya petani timun itu tidak sabar lagi. Setelah bermusyawarah, maka diputuskan untuk sowan ke Mbah Kholil. Sesampainya di rumah Mbah Kholil, sebagaimana biasanya Kyai tersebut sedang mengajarkan kitab Nahwu. Kitab tersebut bernama Jurumiyah, suatu kitab tata bahasa Arab tingkat pemula.

“Assalamu’alaikum, Kyai,” Ucap salam para petani serentak.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,“ Jawab Mbah Kholil.
Melihat banyaknya petani yang datang. Mbah Kholil bertanya: “Sampean ada keperluan, ya?”
“Benar, Kyai. Akhir-akhir ini ladang timun kami selalu dicuri maling, kami mohon kepada Kyai penangkalnya,” Kata petani dengan nada memohon penuh harap.
Ketika itu, kitab yang dikaji oleh Kyai kebetulan sampai pada kalimat “qoma zaidun” yang artinya “zaid telah berdiri”. Lalu serta-merta Mbah Kholil berbicara sambil menunjuk kepada huruf “qoma zaidun”.
“Ya.., Karena pengajian ini sampai ‘qoma zaidun’, ya ‘qoma zaidun’ ini saja pakai sebagai penangkal,” Seru Kyai dengan tegas dan mantap.
“Sudah, Pak Kyai?” Ujar para petani dengan nada ragu dan tanda tanya.
“Ya sudah,” Jawab Mbah Kholil menandaskan.
Mereka puas mendapatkan penangkal dari Mbah Kholil. Para petani pulang ke rumah mereka masing-masing dengan keyakinan kemujaraban penangkal dari Mbah Kholil.

Keesokan harinya, seperti biasanya petani ladang timun pergi ke sawah masing-masing. Betapa terkejutnya mereka melihat pemandangan di hadapannya. Sejumlah pencuri timun berdiri terus-menerus tidak bisa duduk. Maka tak ayal lagi, semua maling timun yang selama ini merajalela diketahui dan dapat ditangkap. Akhirnya penduduk berdatangan ingin melihat maling yang tidak bisa duduk itu, semua upaya telah dilakukan, namun hasilnya sia-sia. Semua maling tetap berdiri dengan muka pucat pasi karena ditonton orang yang semakin lama semakin banyak.

Satu-satunya jalan agar para maling itu bisa duduk, maka diputuskan wakil petani untuk sowan ke Mbah Kholil lagi. Tiba di kediaman Mbah Kholil, utusan itu diberi obat penangkal. Begitu obat disentuhkan ke badan maling yang sial itu, akhirnya dapat duduk seperti sedia kala. Dan para pencuri itupun menyesal dan berjanji tidak akan mencuri lagi di ladang yang selama ini menjadi sasaran empuk pencurian.

Maka sejak saat itu, petani timun di daerah Bangkalan menjadi aman dan makmur. Sebagai rasa terima kasih kepada Mbah Kholil, mereka menyerahkan hasil panenannya yaitu timun ke pondok pesantren berdokar-dokar. Sejak itu, berhari-hari para santri di pondok kebanjiran timun, dan hampir-hampir di seluruh pojok-pojok pondok pesantren dipenuhi dengan timun.

4. Kisah Ketinggalan Kapal Laut

Kejadian ini pada musim haji. Kapal laut pada waktu itu, satu-satunya angkutan menuju Mekkah. Semua penumpang calon haji naik ke kapal dan bersiap-siap, tiba-tiba seorang wanita berbicara kepada suaminya: “Pak, tolong saya belikan anggur, saya ingin sekali,” Ucap istrinya dengan memelas.

“Baik, kalau begitu. Mumpung kapal belum berangkat, saya akan turun mencari anggur,” Jawab suaminya sambil bergegas ke luar kapal.
Suaminya mencari anggur di sekitar ajungan kapal, nampaknya tidak ditemui penjual buah anggur seorangpun. Akhirnya dicobanya masuk ke pasar untuk memenuhi keinginan istrinya tercinta. Dan meski agak lama, toh akhirnya anggur itu didapat juga. Betapa gembiranya sang suami mendapatkan buah anggur itu. Dengan agak bergegas, dia segera kembali ke kapal untuk menemui isterinya. Namun betapa terkejutnya setelah sampai ke ajungan, kapal yang akan ditumpangi semakin lama semakin menjauh. Sedih sekali melihat kenyataan ini. Ia duduk termenung tidak tahu apa yang mesti diperbuat.

Di saat duduk memikirkan nasibnya, tiba-tiba ada seorang laki-laki datang menghampirinya. Dia memberikan nasihat: “Datanglah kamu kepada Mbah Kholil Bangkalan, utarakan apa musibah yang menimpa dirimu!” Ucapnya dengan tenang.

“Mbah Kholil?” Pikirnya. “Siapa dia, kenapa harus ke sana, bisakah dia menolong ketinggalan saya dari kapal?” Begitu pertanyaan itu berputar-putar di benaknya.
“Segeralah ke Mbah Kholil minta tolong padanya agar membantu kesulitan yang kamu alami, insya Allah,” Lanjut orang itu menutup pembicaraan.
Tanpa pikir panjang lagi, berangkatlah sang suami yang malang itu ke Bangkalan. Setibanya di kediaman Mbah Kholil, langsung disambut dan ditanya: “Ada keperluan apa?”
Lalu suami yang malang itu menceritakan apa yang dialaminya mulai awal hingga datang ke Mbah Kholil. Tiba-tiba Kyai itu berkata: “Lho, ini bukan urusan saya, ini urusan pegawai pelabuhan. Sana pergi!”
Lalu suami itu kembali dengan tangan hampa. Sesampainya di pelabuhan sang suami bertemu lagi dengan orang laki-laki tadi yang menyuruh ke Mbah Kholil, lalu bertanya: ”Bagaimana, sudah bertemu Mbah Kholil?”
“Sudah, tapi saya disuruh ke petugas pelabuhan,” Katanya dengan nada putus asa.
“Kembali lagi, temui Mbah Kholil!” Ucap orang yang menasehati dengan tegas tanpa ragu.
Maka sang suami yang malang itupun kembali lagi ke Mbah Kholil. Begitu dilakukannya sampai berulang kali. Baru setelah ketiga kalinya, Mbah Kholil berucap: “Baik kalau begitu, karena sampeyan ingin sekali, saya bantu sampeyan.”
“Terima kasih Kyai,” Kata sang suami melihat secercah harapan.
“Tapi ada syaratnya,” Ucap Mbah Kholil.
“Saya akan penuhi semua syaratnya,” Jawab orang itu dengan sungguh-sungguh.
Lalu Mbah Kholil berpesan: “Setelah ini, kejadian apapun yang dialami sampeyan jangan sampai diceritakan kepada orang lain, kecuali saya sudah meninggal. Apakah sampeyan sanggup?” Seraya menatap tajam.
“Sanggup Kyai,“ Jawabnya spontan.
“Kalau begitu ambil dan pegang anggurmu pejamkan matamu rapat-rapat,” Kata Mbah Kholil.
Lalu sang suami melaksanakan perintah Mbah Kholil dengan patuh. Setelah beberapa menit berlalu dibuka matanya pelan-pelan. Betapa terkejutnya dirinya sudah berada di atas kapal tadi yang sedang berjalan. Takjub heran bercampur jadi satu, seakan tak mempercayai apa yang dilihatnya. Digosok-gosok matanya, dicubit lengannya. Benar kenyataan, bukannya mimpi, dirinya sedang berada di atas kapal. Segera ia temui istrinya di salah satu ruang kapal.

“Ini anggurnya, dik. Saya beli anggur jauh sekali,” Dengan senyum penuh arti seakan tidak pernah terjadi apa-apa dan seolah-olah datang dari arah bawah kapal.
Padahal sebenarnya dia baru saja mengalami peristiwa yang dahsyat sekali yang baru kali ini dialami selama hidupnya. Terbayang wajah Mbah Kholil. Dia baru menyadarinya bahwa beberapa saat yang lalu, sebenarnya dia baru saja berhadapan dengan seseorang yang memiliki karomah yang sangat luar biasa.

Sayyid ‘Abdullah bin Shadaqah bin Zaini Dahlan al-Jailani

Sayyid ‘Abdullah bin Shadaqah bin Zaini Dahlan al-Jailani 




adalah seorang ulama besar yang dilahirkan pada tahun 1290H /1291H (1874M /1875M) di Kota Makkah al-Mukarromah. Beliau lahir dalam keluarga u`lama yang sholeh. Ayahanda beliau adalah saudara kandung Syaikhul Islam Mufti Haramain Sayyidi Ahmad Zaini Dahlan, u`lama dan mufti Hijaz yang masyhur, manakala bunda beliau adalah saudara perempuan Sayyidi Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi ( Pengarang kitab I`anathuttholibin ).

Nasab penuh beliau adalah  

Sayyid ‘Abdullah bin Shadaqah bin Zaini Dahlan bin Ahmad Dahlan bin ‘Utsman Dahlan bin Ni’matUllah bin ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Utsman bin ‘Athoya bin Faaris bin Musthofa bin Muhammad bin Ahmad bin Zaini bin Qaadir bin ‘Abdul Wahhaab bin Muhammad bin ‘Abdur Razzaaq bin ‘Ali bin Ahmad bin Ahmad (Mutsanna) bin Muhammad bin Zakariyya bin Yahya bin Muhammad bin Abi ‘Abdillah bin al-Hasan bin Sayyidina ‘Abdul Qaadir al-Jilani, Sulthanul Awliya` bin Abi Sholeh bin Musa bin Janki Dausat Haq bin Yahya az-Zaahid bin Muhammad bin Daud bin Muusa al-Juun bin ‘Abdullah al-Mahd bin al-Hasan al-Mutsanna bin al-Hasan as-Sibth bin Sayyidinal-Imam ‘Ali & Sayyidatina Fathimah al-Batuul radhiyaAllahu`anhum ajma`in.
 
Tatkala beliau berusia 6 tahun, ayahandanya wafat, Sidi Ahmad Zaini Dahlan telah mengambil tugas ayahandanya untuk menjaga dan memberi pendidikan yang sempurna kepadanya. Pamannya ini turut mengasihi dirinya serta memberikan perhatian besar terhadapnya. Beliau berada di bawah asuhan pamannya ini sehinggalah ulama besar Hijaz ini wafat di Kota Madinah al-Munawwarah pada tahun 1304H (1887M).

Setelah pemergian pamannya yang mulia, Sayyid ‘Abdullah kembali ke Kota Makkah dan menyambung pengajiannya dengan para u`lama di sana, antaranya dengan pamannya Sayyidi Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi, Syaikh Muhammad Husain al-Khayyath, Habib Husain bin Muhammad al-Habsyi dan lain-lain ulama terkemuka. Kedalaman ilmunya diakui para ulama sehingga beliau diberi kepercayaan untuk menjadi Imam dalam Masjidil Harom di Maqam Ibrahim (tempat bagi Imam mazhab Syafi’i ) serta menjadi tenaga pengajar di Masjidil Haram yang mengendali halaqoh ilmu di Babus Salam.
Sayyid ‘Abdullah terkenal sebagai u`lama yang suka mengembara dari satu tempat ke satu tempat demi menyebarkan risalah dakwah dan ilmu. Beliau telah merantau ke banyak tempat seperti Zanzibar, Yaman, India, Mesir, Bahrain, Iraq, Syam, India, Sri Lanka, Tanah Melayu, Singapura, Jawa dan Sulawesi. Beliau juga telah mendirikan berbagai madrasah di tempat-tempat tersebut. Apa yang menarik ialah sewaktu di Tanah Melayu beliau telah dilantik menjadi Syaikhul Islam (Mufti) Kedah kedua. Namun jawatan tersebut hanya disandangnya kira-kira setahun yaitu dari 1904M sehingga 1905M dan dilepaskannya karena beliau berhasrat untuk kembali ke Makkah.
Setelah lama berkelana, akhirnya Sayyid ‘Abdullah telah memilih untuk menetap di Desa Ciparay Girang, Karang Pawitan dalam daerah Garut, Jawa Barat. Di situlah beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tahun 1943 M, setelah menjalani hidup yang penuh keta`atan dan keberkatan. Beliau meninggalkan beberapa karangan, antaranya:-

1. Irsyad Dzil Ahkam;
2. Zubdatus Sirah an-Nabawiyyah;
3. Tuhfatuth Thullab fi qawa’idil i’raab;
4. Khulaashah at-Tiryaaq min samuum asy-Syiqaaq;
5. Irsyadul Ghaafil ila maafiith thoriiqatit Tijaaniyyati minal baathil;
6. Fatwa fi ibthal thoriqah wahdatil wujud.

Mudah-mudahan Allah senantiasa mencucuri Rahmat dan Ridho-Nya kepada Sayyidi ‘Abdullah bin Shodaqoh Dahlan al-Jilani al-Hasani. …… Hadiyatan liruhihi al-Fatihah………….

Syekh KH Ali Mas'ud

Karomah Mbah Ali Mas'Ud Pagerwojo

KH. Ali Mas'ud (Mbah Ud) Pagerwojo Sidoarjo merupakan satu dari sedikit Ulama Sidoarjo yang diberi pangkat kewalian oleh Allah SWT. Kisah hidupnya sampai sekarang terus dibicarakan banyak orang. Banyak riwayat cerita yang berkembang di masyarakat kelurahan Kauman Sidoarjo, Daleman dan sekitarnya termasuk warga Pucang Anom Sidoarjo, mereka tahu betul siapa Mbah Ud, Ulama yang dikenal memiliki karomah.

Tidak betah dirumah
Warga sekitar sudah sangat hafal dengan kebiasaan Mbah Ud, beliau ini tidak pernah betah diam dirumah, kebiasaannya keliling dari rumah ke rumah, warga sekitar yang rumahnya didatangi Mbah Ud akan membawa arti tersendiri. Kedatangannya oleh warga dijadikan penanda/peringatan bagi si tuan rumah
Perilaku jadzab Mbah Ud menjadi cerita yang tak pernah habis, seperti halnya cerita para wali-wali Allah SWT.
Suatu ketika, rumah salah seorang warga Kauman didatangi Mbah Ud, tanpa basa-basi Mbah Ud langsung nyelonong masuk rumah, saat itu dirumah tersebut ada salah satu keluarganya meninggal dunia, tiba-tiba Mbah Ud bilang "Khusnul Khotimah" ucapan ini terlontar beberapa kali dari mulutnya, setelah itu Mbah Ud langsung pergi dari rumah orang tersebut.

Cerita sampai ke Jombang
Suatu ketika saya berziarah kemakam Mbah Sayyid Sulaiman Mbetek Mojoagung Jombang, seperti biasa sebelum ke makam mampir dulu ke tempat wudlu masjid dikomplek makam Mbah Sayyid Sulaiman, cuci muka menyegarkan wajah karena selama dijalan cuacanya lumayan panas
Setelah selesai wudlu langsung menuju ke Makam, kebetulan peziarah waktu itu tidak terlalu banyak. Jadi agak longgar tempatnya, langsung saja saya duduk dekat pesarean, disamping kiri saya jaraknya sekitar 1 meter ada kakek tua kira-kira umurnya kisaran 80 tahun,.
Sesaat kemudian kakek ini menghampiri saya, memperkenalkan diri kalau aslinya Malang, lebih tepatnya Malang Selatan daerah Bululawang arah Dampit, Kakek ini mengaku namanya Mbah Tori, beliau bilang sering berziarah ke Makam Mbah Sayyid Sulaiman. Meski usianya terbilang sudah sangat tua, badannya cukup sehat dan kelihatan segar mukanya
Dirinya sering berziarah ke Makam para Wali, termasuk makam-makam wali ditanah Jawa ini sudah pernah dia datangi, setelah dari sini  (Makam Mbah Sayyid) Mbah Tori akan melanjutkan perjalanan ke Makam Mbah Ud.
Sambil memperlihatkan sepeda onthel yang dibekali beberapa baju ganti, Mbah Tori mengaku sendirian selama puluhan tahun berziarah,hanya  ditemani sepeda onthelnya.
Mbah Tori bercerita tentang karomah Mbah Ud, suatu ketika waktu usianya masih muda dia ziarah ke Makam Mbah Sayyid Sulaiman, Mbah Tori sering bertemu Mbah Ud saat ziarah ke Mbah Sayyid, dulu waktu masih hidup Mbah ud sering kesini ngumpul sama para musafir.

Doa Mbah Ud
Suatu ketika ada orang yang hajatan mengirim tumpeng ke Masjid Mbah Sayyid Sulaiman, tumpeng ini disuguhkan ke para musafir yang tinggal di komplek makam Mbah Sayyid, saat itu ada Mbah Ud termasuk saya ngumpul bersama, siap-siap untuk makan tumpeng orang syukuran tadi.
Para musafir meminta Mbah Ud untuk mendoakan, sebelum didoakan Mbah Ud membuka tumpengan dengan disaksikan para musafir yang hadir, saat dibuka lauk pauknya sangat sedikit sekali, melihat lauknya sedikit Mbah Ud bilang dengan suara menggerutu dalam bahasa jawa "wong medit" artinya orang pelit.
Kemudian tumpeng ditutup kembali seperti semula sama daun pisang oleh Mbah Ud untuk dido'akan, para musafir sudah tidak sabar menanti tumpeng untuk segera dimakan.
Selesai berdo'a, Mbah Ud kemudian membuka tumpengnya, alangkah kagetnya para musafir yang hadir saat itu, awalnya lauknya sedikit sekali, setelah tutup daun pisang dibuka Mbah Ud,  lauk yang ada di tumpeng tadi  jadi banyak, awalnya tidak ada lauk ayamnya sekarang jadi ada, akhirnya tumpeng tadi ikannya cukup dimakan para musafir yang ada di Makam Mbah Sayyid Sulaiman.

Cerita dari Makam Sunan Giri Gresik
Suatu ketika, sore menjelang maghrib sepulang dari kerja, saya berziarah kemakam Sunan Giri Gresik. Perjalanan dari tempat kerja menuju makam Sunan Giri kurang lebih sekitar 1 jam perjalanan.

Tiba di makam sekitar pukul 6 sore, saya  langsung menuju Masjid Sunan Giri untuk sholat maghrib, setelah selesai sholat lanjut ziarah ke makam, letaknya bersebelahan dengan masjid, masjid dan makam Sunan Giri jadi satu komplek.
Malam itu peziarah cukup banyak, ada beberapa kendaraan memakai nomer polisi luar daerah jawa timur, seperti daerah Jawa Tengah, Jawa Barat dan yang terbanyak kendaraan nomer polisi daerah Jawa Timur
Selepas ziarah mampir ke warung nasi langganan saya, lokasi warungnya  ditempat parkiran bawah, dekat pintu utama masuk Makam. Disana ketemu dengan peziarah bapak-bapak usianya sekitar 50 an tahun.
Bapak ini bilang kalau tinggalnya di Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik, perjalanan dari Bunga ke Makam sekitar 1 jam perjalanan,  jaraknya sama dengan tempat tinggal saya daerah Sidoarjo.
Saat saya mengaku dari Sidoarjo, tiba-tiba bapak ini dengan semangatnya bercerita tentang sosok Mbah Ud, dari cerita bapak ini, sosok Mbah Ud tidak asing bagi masyarakat Bungah Gresik.

Selamatkan kapal
"Mbah Ud dulu sewaktu masih hidup sering pergi ke daerah Bungah Gresik, warga Bungah sangat akrab dengan Mbah Ud, ulama yang dikenal karomahnya itu. Suatu ketika saat Mbah Ud pergi ke Bungah Gresik dengan naik becak, ditengah perjalanan ke Bungah tiba-tiba Mbah Ud minta becaknya dihentikan, setelah becak berhenti Mbah Ud pergi tanpa pamit, tukang becaknya bingung.
Tidak lama kemudian Mbah Ud muncul lagi, si tukang becak ini mencoba bertanya "dari mana tadi Mbah? Dengan wajah datar Mbah Ud menjawab pertanyaan si tukang becak, "teko segoro, nolong kapal arep ngguling" artinya "dari laut, menolong kapal yang mau terguling", sambil memperlihatkan tangan dan bajunya yang basah".

Wali  Jadzab
Banyak cerita yang mengatakan bahwa Mbah Ud adalah Wali Allah yang Jadzab, lantas apa yang dimaksud jadzab?
Dalam istilah tasawuf Jadzab adalah suatu maqom atau keadaan di luar kesadaran seseorang, atau bahkan, sudah tidak tertaklif secara syariat? asal-usul lafadz JADZAB adalah-Jadzaba-Yajdzibu-Jadzban-yang berarti mempunyai makna "menarik".
Sementara obyek atau maf'ulnya adalah majdzub yang berarti mengandung makna tertarik, di dalam istilah sufi, biasanya jadzab di gunakan terhadap situasi bagi seseorang yang sedang mengalami (khoriqul adat) atau jenis yang lain,seperti nyleneh, keluar dari adat kebiasaan umum, atau mungkin bisa di kategorikan orang gila yang berkeramat.

Di katakan gila sebab munculnya pemahaman bahwa jadzab adalah hilangnya keumuman secara manusia, tentu beda dengan arti dari gila sendiri, sebab gila di dalam bahasa arabnya adalah Junna-Junuunan-gila- atau, Janna-Yajunnu-Jannan-yang artinya menutup.
Secara etimologis, jadzab adalah bentuk mubalaghah dari kata jadzaba, yang artinya "menarik", dan dalam format mubalaghah (superlatif) dapat diartikan "sangat menarik". Dalam terminologi pesantren, ia sering digunakan dalam konteks pengalaman batin dan pemahaman seseorang yang dimanifestasikan dalam perbuatan dan kata yang kurang dapat dipahami oleh publik.


Habib Hamid Bin Abbas Bahasyim







AL QUTHUB AL HABIB HAMID BIN 'ABBAS BAHASYIM ( WALI MAJEDZUB ASAL KALIMANTAN )
Beliau masyhur dikenal dengan julukan "Habib Basirih / Datuk Keramat Basirih". Begitulah orang kalimantan mengenal Beliau karena Beliau tinggal dan di makamkan di kampung Basirih (Banjarmasin-Kalimantan Selatan),Di mata orang Kalimantan Beliau adalah seorang Wali Quthub yang Waro' dan memiliki berbagai kelebihan/karomah yang luar biasa dan ajaib. Tanah makam beliau naik secara sendirinya membentuk sebuah tumpukkan gunungan kecil dan selalu tercium bau harum. Beliau memiliki sebuah kolam sumur tempat beliau mandi yang sampai sekarang masih terawat apik disekitar komplek makam beliau. Air kolam tersebut dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan memberikan banyak berkah lainnya.

(Wallahu'alam,, sungguh ALLAH SWT Maha Sempurna dengan menampakkan kekuasaannya kepada seorang Walinya).
Tak secara jelas kami mengetahui kapan beliau lahir dan sejak kapan Beliau menetap di Kalimantan dan kenapa Banjarmasin ibu kota Kalimantan Selatan jadi tempat singgah terakhir Beliau.

Nasab Al Habib Hamid:
Beliau seketurunan dengan Sunan Ampel (Surabaya).Yang mempertemukan keduanya adalah mereka sama-sama keturunan dari Waliyullah Muhammad Shohib Mirbath (keturunan generasi ke-16 dari Rosulullah SAW). Silsilah kedua Auliya ini bertemu di Alwi Ummul Faqih bin Muhammad Shohib Mirbath. Sunan Ampel dari jalur putra Alwi Ummul Faqih yang bernama Abdul Malik (yang hijrah dari Tarim, Hadramaut, Yaman ke India) sedang Habib Basirih dari jalur putra Alwi yang bernama Abdurrahman. Jika Sunan Ampel adalah keturunan ke-23 dari Rasulullah Muhammad SAW, maka Habib Basirih merupakan keturunan ke-36. Dari segi usia, Sunan Ampel lebih tua dan lebih sepuh dari Habib Basirih yang hidup di masa yang lebih muda. Habib Basirih hidup di zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Sunan Ampel hidup sekitar 400 tahun sebelum Habib Basirih
Satu versi menyebut Habib Awad masuk ke Banjar lewat Sampit, Kalteng. Keterangan anggota keluarga Bahasyim lainnya menyebut bahwa Habib Awad bermakam di Bima, Nusa Tenggara Barat. Oleh karena itu antara Bahasyim di Banjar dengan Bahasyim di Bima ada pertalian persaudaraan. Satu versi lain menyebutkan bahwa salah satu cucu Habib Awad bin Umar ada yang hijrah ke Bima dan kemudian menurunkan keluarga besar Bahasyim di Bima. Tapi sebagian besar anggota keluarga Bahasyim berpandangan bahwa Habib Awad adalah Bahasyim tertua (paling awal) yang datang ke Tanah Banjar (Lihat Mata Banua, 8 Agustus: Kisah Para Penebang Kayu Trah Bahasyim Basirih).
Selain dapat ditempuh lewat jalan darat (ada rute trayek angkutan kota/taksi kuning yang melintasi dan menuju Kubah Habib Basirih), peziarah juga dapat mengunjungi petilasan Basirih lewat jalur sungai. Belum ada biro perjalanan wisata yang menggarap rute alternatif via jalan sungai ini sebagai bagian dari paket wisatanya. Sebelum mencapai Kubah Habib Basirih, beberapa ratus meter sebelumnya terdapat pula makam ibu beliau yakni Syarifah Ra’anah. Makam Habib Basirih dan ibundanya masuk dalam daftar inventaris binaan Dinas Pariwisata Kota Banjarmasin. Keduanya digolongkan sebagai objek wisata religius (spiritual) yang layak dikunjungi. Makam Habib Abbas bin Abdullah Bahasyim, suami Syarifah Ra’anah dan ayahanda Habib Basirih justru tak diketahui keberadaannya hingga kini.

Beberapa pihak menduga makam beliau berkumpul di pemakaman habaib di Basirih seberang sungai di dekat Masjid Jami Darut Taqwa Kelurahan Basirih, Banjar Selatan. Masjid ini menurut keterangan didirikan tahun 1822 oleh H Mayasin. Pada tahun 1848 keluarga Habib Basirih pernah merehab masjid ini.Versi lain mengatakan Habib Abbas bermakam di wilayah Sungai Baru. Habbis Abbas dikenal sebagai saudagar kaya raya dan mempunyai kapal dagang. Beliau juga disebut-sebut mempunyai tanah yang cukup luas di wilayah Basirih di samping di Sungai Baru (kini nama sebuah kelurahan di sekitar Jalan A Yani dan Jalan Pekapuran).

Nama Basirih bersinar tak lepas dari sosok Habib Hamid. Beliau pernah berkhalwat (mengurung diri dan melakukan sejumlah amalan) sekian tahun di dalam sebuah rumah (gubuk) kecil tak jauh dari makamnya sekarang. Pada zaman Jepang, Habib Hamid keluar dari pertapaannya. Sejumlah kelakuan aneh beliau belakangan dipahami sebagai pekerjaan kewalian beliau menyelamatkan orang lain. Suatu kali, misalnya, dengan menggunakan gayung, Habib Hamid memindahkan air dari satu tempat ke tempat lain. Orang-orang menilai pekerjaan itu sebagai perbuatan tak bermakna. Padahal, itu adalah cara Habib Hamid menyelamatkan kapal penumpang yang nyaris karam di lautan luas. Sebab di belakang hari ada orang datang ke rumah beliau dan mengucapkan terima kasih atas pertolongan Habib Basirih waktu kapal mereka hampir karam di tengah laut.

Perbuatan Habib Hamid lainnya yang spektakuler adalah menghidupkan kambing mati. Suatu hari, seorang tetangga mengatakan kepada beliau bahwa di batang (rakitan kayu gelondongan di atas sungai yang dapat berfungsi untuk tempat mandi dsbnya) milik Habib Basirih terdapat bangkai kambing yang sudah membusuk. Bersama Habib Hamid, tetangga itu turun ke batang untuk membuktikan penglihatannya. Tetangga itu kaget ketika matanya menatap seekor kambing hidup terikat di batang Habib Hamid.Ulah Habib Hamid lainnya adalah beliau pernah duduk di atas tanggui (penutup kepala berbentuk bundar terbuat dari daun nipah) menyeberangi Sungai Basirih menengok keponakannya Habib Ahmad bin Hasan bin Alwi bin Idrus Bahasyim (Habib Batillantang).
“Waktu kecil saya pernah diberi gulungan benang layang-layang,” ujar Habib Abdul Kadir bin Ghasim bin Thaha Bahasyim, 86 tahun. Gulungan benang layang-layang itu kemudian dipahami oleh Habib Abdul Kadir sebagai perjalanan hidupnya yang sepanjang tali benang layang-layang. HabibAbdul Kadir bekerja di kapal dagang dan berlayar mengarungi berbagai penjuru wilayah pedalaman Kalimantan.Beberapa wanita tua di Basirih mengungkapkan pernah diajak orangtuanya berziarah ke Habib Basirih ketika beliau hidup untuk minta ‘berkah’. Beberapa orang tua meminta air kepada Habib Basirih dengan hajat agar anak-anak mereka pandai mengaji. Setalah diberi ‘air penenang’ anak-anak kecil mereka pun lancar membaca Kitab Suci AlQur’an.

Kisah lainnya, beberapa pria dari atas perahu melintas di depan batang Habib Basirih. Mereka mengolok-olok Habib Basirih ketika beliau sedang mandi di atas batang. Gerak-gerik Habib Basirih yang ganjil menyulut mereka mengeluarkan ucapan yang kurang pantas. Tiba-tiba, perahu mereka menabrak tebing sisi sungai dan kandas. Cerita lainnya, yang masyhur beredar di Basirih, seorang pedagang ikan berperahu menolak panggilan singgah Habib Hamid. Si pedagang berpikir tak mungkin Habib Basirih membayar dagangannya. Akibatnya, selama satu hari penuh tak satupun barang jualan pedagang ikan tersebut ada yang laku. Sementara pedagang lainnya yang menghampiri panggilan Habib Basirih, berkayuh menuju rumah lebih cepat sebab dagangannya hari itu tak bersisa.
Habib Hamid banyak mengungkapkan sesuatu dengan bahasa perlambang (isyarat). Hanya segelintir orang yang paham dengan perkataannya. Suatu hari datang seorang Jepang menemui Habib Basirih. Si Jepang kemudian berjanji setelah urusannya di Makasar selesai akan kembali membawa Habib Basirih ke rumah sakit jiwa. “Pesawat orang Jepang itu jatuh dalam perjalanan ke Makassar,” ujar Syarifah Khadijah binti Habib Hasan Bahasyim, 70 tahun, cucu Habib Basirih.“Selesai berkhalwat di sebuah rumah kecil, Habib Basirih naik ke rumah ini,” ujar Syarifah Khadijah. Kenang-kenangan fisik yang tersisa dari Habib Basirih yang bisa disaksikan adalah foto beliau bersama anak cucunya pada tahun 1949, beberapa waktu sebelum beliau berpulang ke rahmatullah. “Waktu ditawari difoto Habib Basirih cuma tersenyum, menolak tidak, mengiyakan tidak. Tukang fotonya namanya Beng Kiang,” tutur Syarifah Khodijah.

Seperti diketahui, Habib Hamid mempunyai 4 anak, 3 putri dan 1 putra. Saya tidak membicarakan ke 3 putri beliau, karena otomatis garis keturunan beliau terputus (maksudnya tidak menurunkan fam Bahasyim dari habib Hamid lagi kepada anak2 nya)
Dari 1 putra beliau yang bernama Habib Hasan Bahasyim mendapat 1 anak laki-laki bernama Habib 'Idrus Bahasyim dan beberapa anak perempuan (termasuk Syarifah Khodijah Bahasyim yang masih hidup)
Alm.Habib 'Idrus (satu-satunya cucu laki-laki habib Hamid) kemudian kawin 2 kali dengan anak anak sbb :

Dari Syarifah Raguan Baragbah (istri pertama) ;
1. Syarifah Fizria Maryam (Banjarbaru)
2. Habib Fitri Hamid (kubah Basirih)
3. Habib Fathurrachman Bahasyim (Banjarmasin)
4. Habib Fadil Bahasyim (Samarinda)
Dari Syarifah Hani Bilfagih (istri kedua)
1. Habib 'Ali Bahasyim (Jakarta)
2. Syarifah Zuraida Bahasyim (Banjarmasin)
3. Habib Fuad Bahasyim (Banjarmasin)

Jumlah pengunjung di Kubah Habib Basirih walau belum dapat dibandingkan dengan makam Sunan Ampel di Ampel, Surabaya tak mengurangi ketokohan beliau. Sunan Ampel adalah tokoh utama Wali Songo, sebuah dewan (forum) ulama kelas wahid di zaman Kesultanan Demak. Dari segi usia, Sunan Ampel lebih tua dan lebih sepuh dari Habib Basirih yang hidup di masa yang lebih muda. Habib Basirih hidup di zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Sunan Ampel hidup sekitar 400 tahun sebelum Habib Basirih. Yang mempertemukan keduanya adalah mereka sama-sama keturunan dari Waliyullah Muhammad Shahib Mirbath (keturunan generasi ke-16 dari Rasulullah Muhammad SAW). Silsilah kedua tokoh ini bertemu di Alwi Umul Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath. Sunan Ampel dari jalur putra Alwi Umul Faqih yang bernama Abdul Malik (yang hijrah dari Tarim, Hadramaut, Yaman ke India) sedang Habib Basirih dari jalur putra Alwi yang bernama Abdurrahman. Jika Sunan Ampel adalah keturunan ke-23 dari Rasulullah Muhammad SAW, maka Habib Basirih merupakan keturunan ke-36.

NASAB HABIB BASIRIH

adalah sebagai berikut: Hamid bin Abbas bin Abdullah bin Husin bin Awad bin Umar bin Ahmad bin Syekh bin Ahmad bin Abdullah bin Aqil bin Alwi bin Muhammad bin Hasyim bin Abdullah bin Ahmad bin Alwi bin Ahmad AlFaqih bin Abdurrahman bin Alwi Umul Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath.

Leluhur Bahasyim di Banjar adalah Habib Awad bin Umar. Habib Awad bin Umar adalah keturunan ke-32 dari Rasulullah Muhammad SAW. Tak ada keterangan jelas perihal asal usul dan di mana Habib Awad tinggal selama hidupnya. Apakah beliau kelahiran Hadramaut (Yaman) atau ada pendahulunya yang berdiam di salah satu daerah di negeri ini dan kemudian hijrah ke nusantara.
Satu versi menyebut Habib Awad masuk ke Banjar lewat Sampit, Kalteng. Keterangan anggota keluarga Bahasyim lainnya menyebut bahwa Habib Awad bermakam di Bima, Nusa Tenggara Barat. Oleh karena itu antara Bahasyim di Banjar dengan Bahasyim di Bima ada pertalian persaudaraan. Satu versi lain menyebutkan bahwa salah satu cucu Habib Awad bin Umar ada yang hijrah ke Bima dan kemudian menurunkan keluarga besar Bahasyim di Bima. Tapi sebagian besar anggota keluarga Bahasyim berpandangan bahwa Habib Awad adalah Bahasyim tertua (paling awal) yang datang ke Tanah Banjar (Lihat Mata Banua, 8 Agustus: Kisah Para Penebang Kayu Trah Bahasyim Basirih).
Selain dapat ditempuh lewat jalan darat (ada rute trayek angkutan kota/taksi kuning yang melintasi dan menuju Kubah Habib Basirih), peziarah juga dapat mengunjungi petilasan Basirih lewat jalur sungai. Belum ada biro perjalanan wisata yang menggarap rute alternatif via jalan sungai ini sebagai bagian dari paket wisatanya. Sebelum mencapai Kubah Habib Basirih, beberapa ratus meter sebelumnya terdapat pula makam ibu beliau yakni Syarifah Ra’anah. Makam Habib Basirih dan ibundanya masuk dalam daftar inventaris binaan Dinas Pariwisata Kota Banjarmasin. Keduanya digolongkan sebagai objek wisata religius (spiritual) yang layak dikunjungi. Makam Habib Abbas bin Abdullah Bahasyim, suami Syarifah Ra’anah dan ayahanda Habib Basirih justru tak diketahui keberadaannya hingga kini.

Beberapa pihak menduga makam beliau berkumpul di pemakaman habaib di Basirih seberang sungai di dekat Masjid Jami Darut Taqwa Kelurahan Basirih, Banjar Selatan. Masjid ini menurut keterangan didirikan tahun 1822 oleh H Mayasin. Pada tahun 1848 keluarga Habib Basirih pernah merehab masjid ini.Versi lain mengatakan Habib Abbas bermakam di wilayah Sungai Baru. Habbis Abbas dikenal sebagai saudagar kaya raya dan mempunyai kapal dagang. Beliau juga disebut-sebut mempunyai tanah yang cukup luas di wilayah Basirih di samping di Sungai Baru (kini nama sebuah kelurahan di sekitar Jalan A Yani dan Jalan Pekapuran).

Nama Basirih bersinar tak lepas dari sosok Habib Hamid. Beliau pernah berkhalwat (mengurung diri dan melakukan sejumlah amalan) sekian tahun di dalam sebuah rumah (gubuk) kecil tak jauh dari makamnya sekarang. Pada zaman Jepang, Habib Hamid keluar dari pertapaannya. Sejumlah kelakuan aneh beliau belakangan dipahami sebagai pekerjaan kewalian beliau menyelamatkan orang lain. Suatu kali, misalnya, dengan menggunakan gayung, Habib Hamid memindahkan air dari satu tempat ke tempat lain. Orang-orang menilai pekerjaan itu sebagai perbuatan tak bermakna. Padahal, itu adalah cara Habib Hamid menyelamatkan kapal penumpang yang nyaris karam di lautan luas. Sebab di belakang hari ada orang datang ke rumah beliau dan mengucapkan terima kasih atas pertolongan Habib Basirih waktu kapal mereka hampir karam di tengah laut.

Perbuatan Habib Hamid lainnya yang spektakuler adalah menghidupkan kambing mati. Suatu hari, seorang tetangga mengatakan kepada beliau bahwa di batang (rakitan kayu gelondongan di atas sungai yang dapat berfungsi untuk tempat mandi dsbnya) milik Habib Basirih terdapat bangkai kambing yang sudah membusuk. Bersama Habib Hamid, tetangga itu turun ke batang untuk membuktikan penglihatannya. Tetangga itu kaget ketika matanya menatap seekor kambing hidup terikat di batang Habib Hamid.Ulah Habib Hamid lainnya adalah beliau pernah duduk di atas tanggui (penutup kepala berbentuk bundar terbuat dari daun nipah) menyeberangi Sungai Basirih menengok keponakannya Habib Ahmad bin Hasan bin Alwi bin Idrus Bahasyim (Habib Batillantang).
“Waktu kecil saya pernah diberi gulungan benang layang-layang,” ujar Habib Abdul Kadir bin Ghasim bin Thaha Bahasyim, 86 tahun. Gulungan benang layang-layang itu kemudian dipahami oleh Habib Abdul Kadir sebagai perjalanan hidupnya yang sepanjang tali benang layang-layang. HabibAbdul Kadir bekerja di kapal dagang dan berlayar mengarungi berbagai penjuru wilayah pedalaman Kalimantan.Beberapa wanita tua di Basirih mengungkapkan pernah diajak orangtuanya berziarah ke Habib Basirih ketika beliau hidup untuk minta ‘berkah’. Beberapa orang tua meminta air kepada Habib Basirih dengan hajat agar anak-anak mereka pandai mengaji. Setalah diberi ‘air penenang’ anak-anak kecil mereka pun lancar membaca Kitab Suci AlQur’an.

Kisah lainnya, beberapa pria dari atas perahu melintas di depan batang Habib Basirih. Mereka mengolok-olok Habib Basirih ketika beliau sedang mandi di atas batang. Gerak-gerik Habib Basirih yang ganjil menyulut mereka mengeluarkan ucapan yang kurang pantas. Tiba-tiba, perahu mereka menabrak tebing sisi sungai dan kandas. Cerita lainnya, yang masyhur beredar di Basirih, seorang pedagang ikan berperahu menolak panggilan singgah Habib Hamid. Si pedagang berpikir tak mungkin Habib Basirih membayar dagangannya. Akibatnya, selama satu hari penuh tak satupun barang jualan pedagang ikan tersebut ada yang laku. Sementara pedagang lainnya yang menghampiri panggilan Habib Basirih, berkayuh menuju rumah lebih cepat sebab dagangannya hari itu tak bersisa.
Habib Hamid banyak mengungkapkan sesuatu dengan bahasa perlambang (isyarat). Hanya segelintir orang yang paham dengan perkataannya. Suatu hari datang seorang Jepang menemui Habib Basirih. Si Jepang kemudian berjanji setelah urusannya di Makasar selesai akan kembali membawa Habib Basirih ke rumah sakit jiwa. “Pesawat orang Jepang itu jatuh dalam perjalanan ke Makassar,” ujar Syarifah Khadijah binti Habib Hasan Bahasyim, 70 tahun, cucu Habib Basirih.“Selesai berkhalwat di sebuah rumah kecil, Habib Basirih naik ke rumah ini,” ujar Syarifah Khadijah. Kenang-kenangan fisik yang tersisa dari Habib Basirih yang bisa disaksikan adalah foto beliau bersama anak cucunya pada tahun 1949, beberapa waktu sebelum beliau berpulang ke rahmatullah. “Waktu ditawari difoto Habib Basirih cuma tersenyum, menolak tidak, mengiyakan tidak. Tukang fotonya namanya Beng Kiang,” tutur Syarifah Khadidjah

Syekh KH Muhammad Abdussamad

Datu Sanggul
Demikian masyarakat menyebutnya, adalah seorang ulama dan tokoh masyarakat, khususnya di wilayah Tatakan, Tapin Selatan, Tapin. Ia hidup sekitar abad ke-18 M, satu zaman dengan Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Ia berasal dari Palembang[1] (versi lain mengatakan: Aceh[2]/Hadramaut[2]), kemudian melanglang buana ke berbagai penjuru untuk menuntut ilmu, hingga akhirnya tiba di Tatakan dan berguru dengan Datu Suban[1][2], seorang ulama besar yang ada di Tatakan, Tapin Selatan, Tapin juga, hingga akhir hayatnya dan makamnya terus diziarahi oleh masyarakat.[1]
Atas jasa-jasanya pada masyarakat, namanya dijadikan nama sebuah rumah sakit di Rantau, RSUD Datu Sanggul[3]

Nama

Dalam salah satu riwayat diceritakan, Datu Sanggul disebutkan bernama asli Syekh Muhammad Abdussamad. Dalam riwayat lainnya, disebutkan bahwa nama dia adalah Ahmad Sirajul Huda.[1][2][4] 

Gelar Datu Sanggul

Salah satu riwayat menceritakan, hal tersebut karena ketekunannya dalam dalam mentaati perintah gurunya di dalam khalwat khusus yang sama artinya dengan ‘menyanggul’ atau menunggu (turunnya) ilmu dari Allah SWT
Ada juga yang mengatakan ia sering menyanggul (bahasa lokal) atau menghadang pasukan tentara Belanda di perbatasan Kampung Muning, sehingga tentara Belanda pun kocar-kacir dibuatnya.
Versi lainnya lagi menyebutkan, gelar Datu Sanggul itu karena kegemaran dia menyanggul (menunggu) binatang buruan.
Ada juga yang mengatakan rambutnya yang panjang dan selalu disanggul (digelung).

Keperibadian 

Ketulusan hatinya dalam melaksanakan ibadah, dan ketaqwaannya dalam menegakkan kalimat-kalimat Allah, serta keramat yang diberikan Allah kepadanya, membuat ia tesrkenal sampai ke pelosok negeri.
Satu hal yang amat tergambar dalam sosok Datu Sanggul, adalah ketekunannya dalam menuntut dan menyempurnakan ilmu.

Syair

Datu Sanggul sangat terkenal pula dengan syair-syairnya yang begitu puitis dan penuh makna.
Salah satu syair yang sangat terkenal adalah syair pantun “Saraba Ampat[1][5] (bahasa banjar: Serba Empat). Syair tersebut berbahasa Banjar yang sarat dengan pelajaran tasawuf. Di antara petikan syair tersebut berbunyi;
“Allah jadikan saraba ampat. Syariat tharikat hakikat ma'rifat. Menjadi satu di dalam khalwat. Rasa nyamannya tiada tersurat”.
— Datu Sanggul
Ada lagi syair ma'rifat lainnya:
“Jangan susah mencari bilah. Bilah ada di rapun buluh. Jangan susah mencari Allah. Allah ada di batang tubuh”
— Datu Sanggul
Kemudian, ada lagi syair lain yang berbunyi:
"Riau-riau padang si bundan. Di sana padang si tamu-tamu. Rindu dendam tengadah bulan. Di hadapan Allah kita bertemu”.
— Datu Sanggul
Syair itu dilantunkan Datu Sanggul saat muncul dari tengah sungai dan berjalan di atas air dengan tenangnya tanpa basah sama sekali terkecuali pada anggota wudhu.

Riwayat

Pada waktu itu, di kerajaan Banjar yang masyarakatnya sangat menjunjung tinggi nilai agama, mewajibkan bagi laki laki yang sudah aqil balik atau sudah dewasa untuk melaksanakan salat Jum’at di masjid kampung masing masing. Kalau tidak melaksanakan kewajiban tersebut, akan didenda.
Dalam riwayat, Datu Sanggul dipercayai memiliki keramat melaksanakan Salat Jum’at di Masjidil Haram setiap Jum’atnya. Karena itu, setiap hari Jum’at itu pun dia harus membayar denda kepada kerajaan sampai habis harta dia, hingga suatu saat yang tertinggal hanya kuantan dan landai (alat untuk memasak nasi dan sayuran).
Dalam kondisi itu, setelah didesak oleh istri dia karena tidak ada lagi barang yang bisa dipakai untuk membayar denda, Datu Sanggul akhirnya berjanji untuk melaksanakan salat Jum'at di masjid kampungnya. Kala itu, sungai di kampungnya sedang meluap dan hampir terjadi banjir lantaran hujan yang sangat lebat pada malam harinya.
Di saat para jamaah sedang berwudhu di pinggir sungai,tiba-tiba Datu Sanggul datang dan langsung terjun ke sungai yang sedang meluap tersebut. Dia bercebur lengkap dengan pakaiannya. Orang-orang berteriak dan menjadi gempar. Dan tiba-tiba lagi, di tengah kegemparan masyarakat itu, Datu Sanggul muncul dari tengah sungai dan berjalan di atas air dengan tenangnya, lalu langsung memasuki masjid. Lebih mengherankan, pakaian dia tidak basah sama sekali, kecuali anggota wudhunya.
Masyarakat semakin terkejut, tatkala imam mengangkat takbir memulai salat Jum’at diikuti jamaah lain, Datu Sanggul hanya melantunkan syair tadi; "Riau-riau padang si bundan. Di sana padang si tamu-tamu. Rindu dendam tengadah bulan. Di hadapan Allah kita bertemuAllahu Akbar”.
Bersamaan ucapan Allahu Akbar itu, tubuh dia mengawang-awang hingga selesai orang mengerjakan salat Jum'at. Melihat keadaan Datu Sanggul yang demikian, orang-orang yang berada di masjid semakin keheranan.
"Aku tadi salat di Makkah. Kebetulan di sana ada selamatan dan aku meminta sedikit, mari kita cicipi bersama walau sedikit"
— Datu Sanggul
Demikian kata Datu Sanggul di saat orang-orang masih keheranan.
Sejak saat itulah, masyarakat percaya sepenuhnya bahwa Datu Sanggul adalah seorang Waliyullah. Barang-barang Datu Sanggul yang semula disita pun dikembalikan oleh kerajaan.

Bersama Datu Kalampayan 

Dalam riwayat lagi, keramat Datu Sanggul ini pun dibuktikan Datu Kalampayan, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.[1][2]
Pada suatu hari Jum’at di Kota Mekkah, Datu Kalampayan ada di sana. Sewaktu di Masjid Mekkah untuk melaksanakan salat Jum’at berjamaah, Datu Kalampayan melihat seseorang sembahyang di dekatnya. Dia tertarik untuk mengetahui, karena orang itu mengenakan baju palimbangan hitam dan celana hitam serta memakai laung. Datu Kalampayan yakin bahwa ia bukan orang-orang Mekkah, karena orang-orang Mekkah tidak ada yang berpakaian demikian. Pakaian seperti itu hanya dipakai oleh orang Banjar atau orang tanah Jawa. Dan peristiwa itu dilihat Datu Kalampayan selama beberapa kali Jum’at. “Tidak salah lagi, ini pasti orang Banjar,” ujar Datu Kalampayan kala itu.
Lalu, Datu Kalampayan mengulurkan tangannya, kemudian mereka bersalaman. Tak puas bertemu di masjid, Datu Kalampayan membawa orang itu ke rumahnya. Syekh Muhammad Arsyad lalu bertanya dan dijawab orang tersebut bahwa ia bernama Datu Sanggul. Datu Kalampayan bertanya pula: “Saudara ini orang mana, asal negeri mana dan sudah berapa lama tinggal di Mekkah.”
Datu Sanggul menjawab pertanyaan itu dengan senyum. “Saya setiap Jum’at datang ke sini untuk bersembahyang, dan aku berasal dari Banjar. Tempat diamku di Banjar. Jelasnya Tatakan,” ujarnya.
“Jauh juga. Kalau begitu melewati Martapura, Kayu Tangi. Melalui tempat tinggalku. Itu sangat jauh. Jika demikian dengan apa ke mari setiap Jum’at?,” ujar Datu Kalampayan bertanya.
Datu Sanggul pun menjawab, “Aku tidak memakai apa-apa. Hanya karena hendak ke mari saja, dan kebetulan Allah SWT memberikan kekuatan kepadaku sehingga aku sampai ke sini.”
Terpikir dalam hati Datu Kalampayan tentang kedatangan Datu Sanggul itu, apakah ia memang masih waras atau orang yang terganggu pikirannya. Jawaban Datu Sanggul tadi dirasanya tak masuk akal sehat. Sebab mungkinkah jarak yang demikian jauhnya antara Tatakan dan Mekkah bisa dicapai hanya dalam waktu begitu singkat, dan bahkan tidak memakai apa-apa. Namun dari dialek bahasanya, Datu Kalampayan yakin bahwa Datu Sanggul adalah berasal dari Banjar.
Untuk menguji ketidakpercayaannya itu, Datu Kalampayan pun kemudian berkata kepada Datu Sanggul. “Kalau betul engkau pulang pergi dari Tatakan ke sini, coba tolong hari Jum’at yang akan datang bawakan aku oleh-oleh dari kampung. Aku sudah sangat lama tidak pulang. Mungkin sudah mencapai waktu 30 tahun. Selama ini aku selalu berada di Mekkah tak pernah ke mana-mana. Nah kira-kira musim buah apa di kampung kita? Bawakan ke mari untukku, terutama di Martapura sekarang ini musim apa kiranya,” ujar Datu Kalampayan.
Datu Sanggul lalu berdiri di depan jendela. Tangannya dilambaikannya ke luar jendela. Ketika ia menarik kembali tangannya, ada sebiji durian dan kuini. “Nah, Datu Kayu Tangi ambil durian dan kuini ini. Ini datang dari Sungkai,” kata Datu Sanggul.
Buah itu diterima Datu Kalampayan, dan diperiksa masih ada getah dari tangkai kuini itu. Sama seperti baru dipetik dari samping rumah. Durian dan kuini tersebut masak pula. Segera Datu Kalampayan mengupas dan memakannya. Memang betul durian dan kuini. Di Mekkah kedua buah tersebut tidak ada. Kuini Jawa saja tidak terdapat, kecuali jenis asam-asaman lain. Dan saat Datu Kalampayan kembali ke Tanah Banjar, ia semakin kaget karena ada buah kuini dari kerajaan Banjar yang tiba-tiba menghilang. Rupanya, buah kuini itulah yang dipetikkan Datu Sanggul untuk Datu Kalampayan.
Sejak pertemuan awal itu, Datu Sanggul dan Datu Kalampayan semakin sering bertemu di setiap salat Jum’at. Dan karena sering bertemu, maka terjalinlah persahabatan antara keduanya. Sering Datu Sanggul dibawa ke kediaman Syeikh Muhammad Arsyad. Datu Sanggul pun tidak pernah menolak. Dari persahabatan keduanya ini pula kemudian ada satu kitab yang dikenal Kitab Barencong.[1][2] Yakni, kitab yang dibagi dua secara diagonal. Satu bagian dipegang oleh Datu Kalampayan, dan sebagian lainnya dibawa oleh Datu Sanggul.

 Wafat

Datu Sanggul lebih muda wafat, yakni pada tahun pertama kedatangan Syekh Muhammad Arsyad di Tanah Banjar. Berkat keterangan Syekh Muhammad Arsyad-lah identitas kealiman dan ketinggian ilmu Datu Sanggul terkuak serta diketahui oleh masyarakat luas, sehingga mereka yang asalnya menganggap “Sang Datu” sebagai orang yang tidak pernah salat Jumat sehingga tidak layak untuk dimandikan, pada akhirnya berbalik menjadi hormat setelah diberitakan oleh Syekh Muhammad Arsyad sosok Datu Sanggul yang sebenarnya.[2]
Menjelang akhir hayatnya, Datu Sanggul minta dibawakan kain kafan kepada Datu Kalampayan apabila Datu Kalampayan selesai menuntut ilmu dari Mekkah (pulang ke Tanah Banjar). Dan ternyata, kain kafan itu digunakan untuk mengkafani Datu Sanggul sendiri yang berpulang ke hadirat Allah bertepatan dengan pulangnya Datu Kalampayan dari Mekkah ke Tanah Banjar.[1]

Makam 

Makam Datu Sanggul ramai diziarahi oleh masyarakat, terlebih apabila hari libur panjang tiba. Para peziarah tidak hanya warga Tapin tetapi juga berasal dari Barikin, Hulu Sungai Tengah (HST), bahkan mobil berpelat KH (Kalteng) dan KT (Kaltim) pun tampak parkir di halaman kompleks makam tersebut.[6]
Menurut penjaga Makam Datu Sanggul Rantau, Misrani, sudah menjadi kebiasaan setiap tahun, pascalebaran satu hari, banyak orang menziarahi Makam Datu Sanggul.[7]

Lihat juga

Referensi

  1. ^ a b c d e f g h Khairil/Dillah (Media Kalimantan) (25 Oktober 2014). "Datu Sanggul Waliyullah Nan Berlimpah Karomah".
  2. ^ a b c d e f g Berimbang (site) (2 Desember 2014). "Riwayat Datu Sanggul".
  3. ^ Find the Best (site). "RSU Datu Sanggul Rantau".
  4. ^ Admin. "Datu Sanggul".
  5. ^ Jalan Sufi (site) (Februari 2004). "Syair Serba Empat".
  6. ^ Hendra Gunawan (Tribun News) (17 Mei 2012). "Libur Panjang Makam Datu Sanggul Dipenuhi Peziarah".
  7. ^ Widiyabuana Slay (Tribun News) (1 September 2011). "Makam Datu Sanggul Jadi Incaran Peziarah di Hari Lebaran".
 
 
 



 

Syekh KH. Ahmad Hudari

KH Ahmad Hudari, Takdir Mengiringnya Jadi Seorang Pengajar.

KH Ahmad Hudari atau yang akrab disapa dengan Guru Hudari, dilahirkan di Martapura 8 April 1937 silam. Ayah beliau bernama Ali Tuah, dan ibu bernama Husnah. Dari garis ibunya, Guru Hudari merupakan keturunan ke-6 dari Datu Kalampayan. Yakni, Husnah binti Syekh Abdullah Khatib bin Syekh Muhammad Shaleh bin Syekh Hasanuddin bin Syekh M Arsyad al Banjari (Datu Kelampayan). Dengan demikian, Guru Hudari juga terkait satu keturunan dengan Syekh M Zaini bin Abdul Ghani, yakni pada Syekh Hasanuddin.

“Kalau dengan Guru Zaini, memang satu keturunan (terkait di Syekh Hasanuddin). Meski hitungannya, Guru Zaini keponakanku. Beliau sering memanggilku dengan ‘Suanang Hudari’. Tapi, orang itu hebat (Guru Zaini), ayah dan ibu sama-sama keturunan Datu Kelampayan. Kalau aku, hanya dari pihak ibu,” jelas Guru Hudari.

Di masa kecilnya, Guru Hudari pernah menempuh pendidikan di sekolah Belanda (Volksch School) selama 3 tahun. Mestinya, beliau melanjutkan pendidikan formal ke sekolah Benteng. Namun, beliau lebih memilih pendidikan Agama, yakni ke Pondok Pesantren Darussalam, Martapura yang pada waktu itu dipimpin KH Kasyful Anwar al Banjary.
Sekitar 10 tahun menjadi santri di Darussalam, Guru Hudari kemudian lulus pada tahun 1959. Setelah kelulusan, beliau dipercayakan untuk membantu mengajar di Pondok Pesantren Darussalam, dengan mengajar di tingkat tahdiri.
 
“Mungkin kalau sekarang sama dengan kelas nol,” ujar Guru Hudari.
Di masa lalu, jenjang pendidikan di Darussalam berbeda dengan jenjang atau tingkatan yang ada sekarang. Dulu, Darussalam terdiri dari Tahdiri, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah. Tahdiri ada 3 kelas, ibtidaiyah 3 kelas, Tsanawiyah 3 kelas, dan Aliyah 1 kelas.
“Satu kelas aliyah dulu, sama dengan tiga kelas aliyah sekarang,” kata Guru Hudari.
Kurang lebih 18 tahun menjadi pengajar di Darussalam, Guru Hudari juga memberi andil besar dalam dunia dakwah, khususnya di Martapura dan sekitarnya. Sebab, beliau juga tercatat menggelar majelis taklim di rumah dan di Makam Syekh M Arsyad al Banjary.
“Kalau yang di Makam Datu Kelampayan, itu bersama dengan Guru Masdar Sungai Tuan,” tutur Guru Hudari.


Syekh KH M Salim Ma’ruf


KH M Salim Ma’ruf lahir di kampung Keramat Kecamatan Martapura Timur Sekitar tahun 1913, ayah beliau bernama H Ma’ruf bin H Nafis asal Kampung Melayu seorang mu’azzin di Masjid Jami’ Al Karomah Martapura. KH Salim Ma’ruf kecil mendapat pendidikan agama dari ayah beliau sendiri di rumah, dan belajar membaca Alqur’an dengan Syech H Ali Bahwiris di kampung Keramat Martapura.

Beliau memperdalam ilmu-ilmu agama dengan beberapa orang guru, diantaranya KH Kasyful Anwar, KH Abdurrahman, KH Yusuf Jabal, KH Marzuki, KH Zainal Ilmi, Syech H Abdul Hamid dari Yaman. Diantara guru-guru beliau tersebut yang paling banyak beliau menimba ilmu adalah pada KH Kasyful Anwar.

Diantara ilmu yang dikuasai beliau yang menonjol adalah tafsir Alqur’an, ilmu Ushuluddin, ilmu Mantiq (logika) dan ilmu Wifiq (rajah/wafaq) di samping ilmu lain yang dikuasai beliau.
Tahun 1933 dalam usia 20 tahun beliau telah mendapat izin untuk mengajar agama dari mufti Martapura. Maka mengajarlah beliau di Langgar-Langgar atau Surau-Surau, di samping mengajar di Pondok Pesantren Darussalam atas permintaan KH Kasyful Anwar, yang kala itu menjadi Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Martapura.
Pada tahun 1942 sampai dengan 1944 beliau pergi ke Pontianak (Kalbar) dengan tujuan berdagang alias berniaga di Pontianak, kemudian masyarakat disana mengenal beliau sebagai orang yang alim, maka beliau diminta oleh Sultan Pontianak Sayyid Abdurrahman Al-Qodry untuk mengajar di istana Al Qodry.

Pada tahun 1945 beliau kembali ke Martapura dan bertekad mengabdi di Pondok Pesantren Darussalam untuk melaksanakan wasiat dari KH Kasyful Anwar untuk ikut membina dan memajukan Pondok Pesantren Darussalam yang pada waktu itu di pimpin oleh almarhum KH Abdul Qodir Hasan. Pada tahun 1969 beliau akhirnya dipercaya memimpin Pondok Pesantren Darussalam sepeninggal KH Anang Sya’rani Arif.
Sifat dan pembawaan beliau yang dikenal selama memimpin Pondok Pesantren Darussalam adalah kedisiplinannya yang keras dalam segala hal dan tegas dalam bersikap, suatu sifat yang tidak semua orang menyukainya namun didalamnya mengandung hikmah yang teramat dalam.

KH Salim Ma’ruf pernah menulis beberapa kitab diantaranya :

1.Al-I’lan fi Ma’nal iman wal Islam, berisi penjelasan tentang makna iman, Islam dan ihsan.
2.Risalah Muamalah, berisi pedoman mu’amalah dalam islam.
3.Qoulul Muallaq, berisi ilmu Mantiq atau Logika.
4.Hisnul Ummah, berisi kumpulan dzikir dan amalan sehari-hari.
5.Tashilul Murid fi ‘ilmit-tajwid, yang berisi tentang ilmu Tajwid.
Pada tanggal 1 Pebruari 1979 M / 2 Rabiul Awal 1400 H tepatnya malam Kamis subuh beliau menghembuskan nafas terakhir berpulang ke Rahmatullah. Beliau dimakamkan di kubah Jalan Kertak Baru Desa Pekauman Dalam, Kecamatan Martapura Timur.


Syekh KH. Anang Sya'rani Arif al-Banjari

 

KH. Anang Sya'rani Arif al-Banjari

KH. Anang Sya'rani bin KH. Muhammad Arif (lahir di Kampung Melayu, Martapura, tahun 1914, wafat 17 Juni 1969, umur 55 tahun)[1] adalah seorang ulama besar dari Martapura, Kalimantan Selatan Indonesia. Ia adalah pengasuh dan pemimpin Madrasah Darussalam, Martapura, dan juga guru dari ulama kharismatik Martapura, Syekh KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani al-Banjari.  

SILSILAH

Al-Arif billah Al-Muhaddits wal Mufassir Asy-Syeikh Haji Anang Sya'rani bin Fathul Jannah Haji Muhammad Arif bin Al-Alim Al-Fhadil Haji Abdullah Khattib bin Al-Alim Al-Allamah Khalifah Haji Hasanuddin bin Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari

BELAJAR DI MEKAH

Pendidikannya dimulai di usia dini. Ia mengaji kepada beberapa ulama yang ada di Martapura di antaranya kepada pamannya yang bernama KH Kasyful Anwar. Maka di bawah pengawasannya inilah ia bersama sepupunya, KH Syarwani Abdan Bangil, banyak mendapatkan ilmu pengetahuan.[butuh rujukan]
Pada tahun 1350 H/1930 M ia dan sepupunya berangkat ke tanah suci Makkah untuk menunaikan Ibadah haji sekaligus menimba ilmu di tempat sumbernya dengan diantar langsung oleh sang paman KH.Kasyful Anwar[1]. Setibanya di Makkah, mereka belajar dengan tekun, ibarat istilah "siang becermin kitab, malam bertongkat pensil".
Di antara guru guru yang banyak memberikan pelajaran kepada mereka adalah:
Dari didikan mereka yang penuh keikhlasan, akhirnya ia menjadi ulama ternama dan ahli dalam bidang ilmu hadist dan tafsir. Ia pun menyandang gelar Muhaddist yaitu seseorang yang ahli dan hafal dalam ribuan matan hadist lengkap dengan sanadnya. Ia juga Khalifah dari gurunya, Syeikh Umar Hamdan.
Karena ketekunan mereka berdua, maka terkenallah mereka berdua di tanah suci Makkah hingga diberi julukan Dua Mutiara dari Banjar.[butuh rujukan]

KEMBALI DARI MEKAH 

Setelah 22 tahun menimba ilmu di Makkah dan sempat menjadi pengajar di Masjidil Haram, Syekh Anang Sya'rani dan sepupunya pulang ke kampung halamannya Martapura sekitar tahun 1952. Begitu sampai, ia langsung menerima tongkat estafet kepemimpinan dari gurunya, KH.Kasyful Anwar. Selain sebagai pemimpin Madrasah Islamiyah Darussalam (sekarang: Pondok Pesantren Darussalam) periode kelima (1959-1969)[1], ia juga mengadakan pengajian khusus guru-guru di kediamannya di Kampung Melayu.[butuh rujukan]
Syekh Anang Sya'rani dikenal sebagai seorang ulama yang tak kenal lelah dalam mengajar, sekalipun dia dalam keadaan sakit, ia mengajar dengan berbaring. Ia juga dikenal sebagai ulama yang sangat gesit dalam memecahkan masalah, sehingga apabila ada guru-guru yang menemui masalah yang sulit, maka kepadanyalah mereka pergi untuk mencari jalan keluar atau pemecahannya. Dia juga sangat mencintai ilmu dan para penuntut ilmu, sehingga sampai akhir hayatnya ia masih aktif dan tetap mengajar.[butuh rujukan]
Di antara murid murid dia adalah:
  • KH.Mahfuzh Amin (Abah Pengasuh pondok Pesantren Ibnul Amin Pemangkih)
  • Abah Guru Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari
  • KH.Salim Ma'ruf
  • KH.Mukhtar HS (pengasuh Pondok Pesntren Ibnul Amin sekarang)
  • dan banyak lagi yang lainnya.
KARYA TULIS 

Di antara kitab kitab karangan dia adalah:
  • Thanwirut Thulab (ilmu yang menguraikan tentang Ushul Hadist)
  • Hidayatuz Zaman (berisi hadist hadist tentang akhir zaman)

WAFAT 

Sebelum dia wafat, Syekh Anang Sya'rani berwasiat dan menunjuk KH.Muhammad Salim Ma'ruf sebagai gantinya menjadi Pimpinan di Madrasah Darussalam sepeninggalnya.[butuh rujukan] Akhirnya pada tanggal 14 Jumadil Awwal (1969 M), dia berpulang ke rahmatullah membawa amal bakti yang tiada terhingga. Jasad dia dimakamkan di Kampung Melayu Tengah, Martapura, Kalimantan Selatan.[1]

BACA JUGA 


REFERENSI 

1.^ a b c d Humas Kemenag Banjar (28 Maret 2013). "Kakan Kemenag dan Tapin Hadiri Haul Syekh Anang Sya'rani Arif".

Pranala luar

 

 


 


Syekh KH.Muhammad Arsyad Al Banjari