Tuesday, April 2, 2019

Haji Muhammad Qusairi Hamzah



HM Qusairi Hamzah lahir di Banua Lawas, Kelua, Tabalong, 15 Desember 1978. Ayah Hamzah bin Suni dan ibu Siti Kamsiar binti Usin. Pendidikan SD dilanjutkan ke beberapa pesantren dari tahun 90-an antara lain pondok pesantren dekat kediaman, Pondok Pesantren Darussalam Martapura dan sempat mengaji duduk di Makkah Al Mukarramah selama dua tahun sambil menunaikan ibadah haji. Sekarang menetap di sebuah pesantren di Barabai. Sejak SD bercita-cita menjadi orang yang pandai dibidang agama (faqih fiddin) dan hobi menulis kaligrafi sambil berkarya. Beberapa karya buku telah selesai. Salah satunya Risalah Amaliyah yang dicetak Toko Buku (TB) Mutiara Banjarmasin.***

Saturday, March 16, 2019

Muhammad Ibn Sulaiman al-Jazuli al-Hasani

Muhammad Ibn Sulaiman al-Jazuli al-Hasani [Penulis Dalail al-Khayrat]

Al - Quthb al- Kamil , Al - Imam Abu Abdullah Muhammad bin Abdur Rahman bin Abi Bakr Ibn Suleiman Al - Jazuli Simlali al- Hassani al- Maghribi ( w. 869/1454 ) . Yang dimaksud dengan kakeknya , ia disebut segera Syaikh Muhammad bin Suleiman al- Jazuli . Dia berasal dari suku Berber dari Jazula yang menetap di daerah Sus Maroko antara Atlantik dan Pegunungan Atlas . Meskipun tanggal lahir Imam al - Jazouli ini belum diketahui , informasi yang cukup ada untuk memberikan garis besar dari asal-usulnya dan latar belakang . Nisba Nya ( Nama Attributional ) memberitahu kita dia datang dari suku Simlala , salah satu kelompok Berber Sanhaja paling penting dalam Jazula . Lingkungan politik bergolak Simlala pada abad kelima belas memaksa Syaikh untuk meninggalkan tanah airnya karena budaya kekerasan membuat beasiswa yang serius mustahil. Ternyata , yang sharif muda harus melakukan perjalanan sepanjang jalan ke Fez untuk mendapatkan pendidikan , karena kurangnya sumber daya intelektual Marrakech ( Maroko ) , tujuan biasa untuk siswa dari tengah dan selatan - Sahara Maroko , membuat studi di kota itu mungkin juga.
Ia belajar secara lokal dan kemudian melakukan perjalanan ke Madrasah AS- Saffareen di Fés , ibukota spiritual Maroko di mana kamarnya masih menunjukkan kepada pengunjung. Di Fes , Dia hafal empat volume Mudawwana Imam Malik dan bertemu ulama pada zamannya seperti Ahmad Zarruq , dan Muhammad bin ' Abdullah Amghar , yang menjadi Syaikh dalam tarekat atau jalan sufi . Setelah menetapkan perseteruan suku ia meninggalkan daerah dan menghabiskan empat puluh tahun ke depan di Makkah Mukarrama , Madina Munawwarah dan Yerusalem . Setelah itu , ia kembali ke Fez di mana ia menyelesaikan Dala'il al - Khayrat .
Dia mengambil jalan Shadiliya dari Syaikh Abu Abdullah Muhammad bin as- Saghir Amghar , salah satu Ashraaf ( Keturunan Nabi ) Bani Desa Amghar . Dia menghabiskan tahun empat belas di khalwah ( pengasingan ) dan kemudian pergi ke Safi di mana dia mengumpulkan di sekelilingnya banyak pengikut . Gubernur Safi merasa berkewajiban untuk mengusir dia dan sebagai hasilnya , Jazuli dipanggil murka Allah di kota dan kemudian jatuh ke tangan Portugis selama empat puluh tahun Menurut tradisi , itu adalah gubernur Safi yang meracuni Jazuli dan menyebabkan kematiannya , sementara terlibat dalam doa , di 869 AH ( atau 870 atau 873 )
Ketika ia menjadi Syaikh Lengkap , ia menuju ke kota Safi mana dia mengumpulkan banyak murid di sekelilingnya . Kemudian , Sidi al- Jazuli pindah ke Afwiral , sebuah desa Sus di Maroko , di mana ia mendirikan Zawiya bahwa menjadi pusat spiritualitas menarik 12.665 murid -Nya . Tarekat Nya terutama didasarkan pada membuat doa pada Sayyidina Muhammad (damai dan berkah besertanya ) sebagai menunjukkan bukunya : ( Dalail al - Khayrat ) , yang diterbitkan di Fés setelah menghabiskan empat puluh tahun di Mekah , Madinah dan Yerusalem Mounawara . Dalail al- Khayrat atau " ad- Dalil " sebagai Maroko lebih suka menyebutnya , dianggap sebagai sumber eksklusif untuk membuat doa pada Sayyidina Muhammad (damai dan berkah besertanya) , serta bagian yang benar dan inovatif kerja yang pernah diterbitkan tentang masalah ini .
Dikatakan bahwa Sidi Muhammad Al - Jazuli sekali melanjutkan perjalanan , ketika besar membutuhkan air untuk mengambil wudhu , ia tiba di sebuah sumur tetapi tidak bisa mencapai air tanpa ember dan tali yang dia tidak miliki. Dia menjadi sangat khawatir . Seorang gadis muda melihat hal ini dan datang membantunya . Dia meludah ke dalam sumur dimana air naik ke puncak dengan sendirinya . Melihat keajaiban ini , ia meminta gadis itu dan bagaimana itu mungkin ? "Dia menjawab ' saya bisa melakukan hal ini melalui saya meminta berkat atas Nabi , berkat dan damai Allah besertanya si dia . " Dengan demikian, setelah melihat manfaat meminta berkat atas Nabi , berkat dan damai Allah besertanya , ia memutuskan untuk menulis Dalail al- Khayrat .
The Dala'il al-Khayrat, manual paling terkenal Blessings on Nabi (Allah memberkatinya dan memberinya damai) dalam sejarah Bahkan, kitab Dalail al-Khayrat disambut oleh umat timur dan barat. Banyak sarjana terkonsentrasi untuk menjelaskan beberapa arti dan manfaat seperti Sidi Suleiman al-Jamal Shafii, Sidi Hasan al-Adwi al-Misri, Sidi Abdelmajid Sharnubi yang menyebut bukunya (Manhaj A-Sa'adat), Sidi Muhammad al-Mahdi Ibn Ahmad al-Fasi yang menyebut bukunya (Matalia al-Masaraat Bijalaa Dalail Al Khayrat), dan Savant terkenal Allah Sidi Ahmad Zaruk, sedangkan diciple dari Syaikh Sidi al-Jazuli (semoga Allah meringankan makamnya).
Sidi Abu Abdullah Muhammad Al-Jazuli meninggal tahun 869 AH dan dimakamkan di dalam Zawiya di Afwiral. Tujuh puluh tujuh (77) tahun setelah kematiannya, tubuhnya digali untuk dihapus ke Marrakesh dan ditemukan tidak rusak. [Diadaptasi dari The Encyclopedia of Islam, 1957 Leiden]
Ia menjadi salah satu dari Tujuh Pria Marrakech selain Sidi Qadi Ayaad, Sidi al-Abbas Sabti, Sidi Joussouf Ben Ali, Sidi Abdul Aziz, Sidi Moul al-Ksour, dan Sidi al-Soheyli (semoga Allah senang dengan semua mereka).
---

Wednesday, March 13, 2019

Syekh KH. Asmuni (Guru Danau)



Sekilas Biografi,Riwayat Tuan Guru H. Asmuni (Guru Danau) Kec. Danau Panggang, Kab. HSU Amuntai - Kalsel..
- Beliau adalah Zurriyat Syekh Muhammad Arsyad Al-banjary Lewat Nasab Datu Tuan Guru H.Abdussamad - Marabahan dari Jalur Ibu Beliau..
- Sewaktu masih dalam Kandungan Rahim, Ibu Beliau Bermimpi Melihat Bulan Purnama..
- Sewaktu Masih Sekolah SD, Beliau di bawa kedua Orang Bersilaturahmi ke Rumah Tuan Guru H. Zainal Ilmi-Dalam Pagar (Martapura), Lalu Oleh Tuan Guru H. Zainal Ilmi Kepala Beliau di Sentuh dgn kedua Telapak Tangan Sambil berkata : Ganalnya (Kepala), Pintar kaena, Pelihara Banar Anak ini lah..
Kata Guru Danau Dalam Cerita nya, Mama ku Sampai Mamingkuti Pisit Awak ku (Memeluk Erat Tubuhku) Takut klu nanti Jatuh Ke Banyu (Air) Sewaktu Bulikan (Pulang) Naik Jukung..
- Kedua Orang Tua Beliau Termasuk Sangat Mencintai 'n Menghormati Para Alim Ulama , di antara nya :
- Ayah Beliau hanya seorang Buruh Angkut (Kuli), Setiap Hasil Upah dari ngangkut Barang2, di sisihkan sebagian membeli Makanan Roti, Dll utk Tuan Guru H.Makmur - Manarap (Bitin) dan Tuan Guru H. Asnawi - Danau Panggang dan Sewaktu Mengaji Mingguan ke Martapura dgn Tuan Guru H.M.Zaini (Guru Keraton) Selalu Membawa Oleh2 Ikan, Belibis utk Guru Keraton, Sampai2 di Gelari Guru Keraton : KAI Belibis..
Begitu Jua dgn Para Ulama Tuan Guru, Bila Bersalaman/Bersilaturahmi slalu mengasih Uang (Amplop), Sampai Beliau Berwasiat di Waktu Mau Meninggal Dunia : Turuti Unda (Saya) Setiap Badapat (bertemu) orang Alim/Habib Bari'i (Kasih) Uang..
Akhlak Ibu/Mama Beliau begitu juga Senang Berkhadam di Rumah/Mejilis Taklim Tuan Guru, di antara nya : Setiap Mulai atau Selesai Pengajian di Rumah Tuan Guru H.Asnawi Danau Panggang slalu Membersihkan, Menyapu, Mengepel (Malap) Lantai atau di Rumah Guru Keraton Martapura..
Setelah Sekian Lama Mengaji/Menghadiri Pengajian Mingguan di Keraton Martapura Krg lebih 20 Tahunan ,di Panggil Beliau (Ayah Guru Danau) Oleh Guru Keraton mengkhabari Bahwa Malam ini (Waktu itu Bulan Ramadhan) , Insya Allah, Malam Lailatul Qadar, Apa mau di Do'akan Sugih/Kaya..
Kata Ayah Guru Danau : Mohon Do'akan Asmuni Alim aja.. Kata Guru Keraton : Bagus Banar , Kerna mun Alim Pasti Sugih aja Kaena
Setelah Beliau Tamat SD , Beliau melanjutkan Sekolah Ponpes Darussalam serta ngaji Duduk dgn Beberapa Ulama (Tuan Guru) di Martapura ,di antara nya : Tuan Guru H.Muhammad Zaini (Guru Keraton atau Guru Sekumpul)..
- Tuan Guru H. M.Semman Mulia (Guru Padang)..
- Tuan Guru H. M.Royani (Guru Yani)..
Beliau Juga Berkhadam di Mejilis Tuan Guru Semman dan Habib Zein Al-Habsyi..
Setelah Tamat dr Ponpes Darussalam, Beliau Mau Kuliah di Barabai, ..
Tapi Teman Beliau H. Thalib Membawa Khabar dr Guru Keraton meminta Beliau Harus Ke Martapura, Setelah Beliau Bertemu dgn Guru Keraton, dalam Cerita Beliau : krg lbh 2 Jam Guru Keraton berdiam ,tdk memandiri Beliau sambil merokok, setelah itu Guru Keraton berbicara : Asmuni, Ikam Kuliah kah? Inggih Jar Guru Danau, Jar Guru Keraton : Itu lain Nyawa, banyak aja yg Lain, Ikam Tulak Ke Bangil , Mengaji lwn Guru Bangil (Guru Syarwani Abdan),.
Lalu Guru Keraton ke Kamar mengambil Tulisan Amalan , Jar Guru Keraton : Amalkan Amalan ini, Ikam Bisa Melihat apa aja ,yg ikam mau.. (Amalan/Bacaan Kasyaf)..
Setelah diberi Amalan itu Oleh Guru Keraton, Dengan Anugerah Allah Terbuka lah Hati Guru Danau Ilmu Kasyaf (Melihat yg Jauh2), Lalu Ada Pengusaha Kayu dr China Malasyia mau Membuka Areal HPH, dgn Saran Guru Danau utk Membuka Areal Lahan HPH di Wilayah Bangkiling - Kalua, Setelah di Survei, Kayu2 Hutannya Bagus, Bisa Berproduksi Sampai 5-10 Tahun.. Lalu Pengusaha Menawarkan Guru Danau apa yg bisa di bantu, Apa Mau Naik Haji?, Jar Guru Danau : Aku mau mengaji Ke Bangil.. Lalu di Beri Biaya dan Tas Kulit Oleh Pengusaha Kayu China Malasyia..
Setelah Punya Biaya Mengaji Ke Bangil, lalu Lapor ama Guru Keraton, Jar Guru Keraton : Jangan Tulak Ke Bangil ba-Kapal Laut, Ku Ijinkan Tulak Ba-Pasawat, Bl sudah Pasti Jadwal nya Tulak ke Bangil, Aku handak Ba-kirim Tapih dan Surat utk Guru Bangil..
Setelah sudah Kepastian Berangkat Ke Bangil lwn Seorang Pedagang (Haji), Guru Danau Ba-ilang ke Rumah Guru Keraton, Lalu Guru Keraton Ba-kirim Tapih, Surat utk Guru Bangil, dan Ma-antarakan Sampai ke Taksi, Mendo'akan utk Guru Danau..
Setelah Sampai Ke Rumah Guru Bangil, Lalu Guru Danau menyerahkan Tapih dan Surat Guru Sekumpul, Setelah itu Beliau Belajar dgn Guru Bangil Sampai Akhir Hayat Guru Bangil dgn Pulang Pergi, 3-5 Bulan Belajar di Bangil, setelah itu Pulang ke Kampung Danau, Setelah Punya Banyak Biaya, Pergi lg ke Bangil utk Mengaji lwn Guru Bangil...
Setelah itu Guru Danau di Suruh Khalwat 40 Hari dgn Amalan2 nya di Rumah, di Kampung Danau Panggang..
Setelah Selesai Khalwat 40 Hari, lalu di Suruh Guru Bangil Syiyahah (Berjalan mengamalkan Ilmu Hasil dr Khalwat), Duduk di Terminal, Mencatat apa2 aja yg di lihat..
Setelah diberi Amalan itu Oleh Guru Keraton, Dengan Anugerah Allah Terbuka lah Hati Guru Danau Ilmu Kasyaf (Melihat yg Jauh2), Lalu Ada Pengusaha Kayu dr China Malasyia mau Membuka Areal HPH, dgn Saran Guru Danau utk Membuka Areal Lahan HPH di Wilayah Bangkiling - Kalua, Setelah di Survei, Kayu2 Hutannya Bagus, Bisa Berproduksi Sampai 5-10 Tahun.. Lalu Pengusaha Menawarkan Guru Danau apa yg bisa di bantu, Apa Mau Naik Haji?, Jar Guru Danau : Aku mau mengaji Ke Bangil.. Lalu di Beri Biaya dan Tas Kulit Oleh Pengusaha Kayu China Malasyia..
Setelah Punya Biaya Mengaji Ke Bangil, lalu Lapor ama Guru Keraton, Jar Guru Keraton : Jangan Tulak Ke Bangil ba-Kapal Laut, Ku Ijinkan Tulak Ba-Pasawat, Bl sudah Pasti Jadwal nya Tulak ke Bangil, Aku handak Ba-kirim Tapih dan Surat utk Guru Bangil..
Setelah sudah Kepastian Berangkat Ke Bangil lwn Seorang Pedagang (Haji), Guru Danau Ba-ilang ke Rumah Guru Keraton, Lalu Guru Keraton Ba-kirim Tapih, Surat utk Guru Bangil, dan Ma-antarakan Sampai ke Taksi, Mendo'akan utk Guru Danau..
Setelah Sampai Ke Rumah Guru Bangil, Lalu Guru Danau menyerahkan Tapih dan Surat Guru Sekumpul, Setelah itu Beliau Belajar dgn Guru Bangil Sampai Akhir Hayat Guru Bangil dgn Pulang Pergi, 3-5 Bulan Belajar di Bangil, setelah itu Pulang ke Kampung Danau, Setelah Punya Banyak Biaya, Pergi lg ke Bangil utk Mengaji lwn Guru Bangil...
Setelah itu Guru Danau di Suruh Khalwat 40 Hari dgn Amalan2 nya di Rumah, di Kampung Danau Panggang..
Setelah Selesai Khalwat 40 Hari, lalu di Suruh Guru Bangil Syiyahah (Berjalan mengamalkan Ilmu Hasil dr Khalwat), Duduk di Terminal, Mencatat apa2 aja yg di lihat..
Selain Mengaji dgn Guru Bangil, Guru Danau mengaji dgn Bebrp Ulama/Habaib slama di Pulau Jawa diantaranya :
- Beliau mengaji jua dgn Waliyullah Kyai Hamid Pesuruan, Sering Tulak ke Pasuruan setiap Malam selama Mengaji di Bangil Shalat Shubuh Berjama'ah di Mushalla Kyai Hamid Pasuruan..
- Beliau mengaji Ilmu 'n Tarekat dgn Waliyullah Mbah Malik - Purwokerto,
- Beliau Jua mengaji Ilmu 'n Amal dgn Waliyullah Kyai Syakur di Wonosobo..
- Beliau Sempat Belajar/ba-ilang dgn Waliyullah Habib Abdullah Bin Abdul Qadir Bilfaqih - Malang..
- Beliau jua bersilaturahmi dgn Waliyullah Habib Anis Al-Habsyi Solo..
- Beliau Mengaji Ilmu 'n Amalan dgn Waliyullah Habib Ahmad Bafaqih Tempel - Yogyakarta, di beri amalan Shalawat supaya Beberkat Ilmu 'n Amal..
- Beliau jua Bersilaturahmi dgn Waliyullah Habib Saleh Al-Hamid-Tanggul (Jember), di Do'akan Naik Haji,
Alhamduillah.. Akhir nya bisa Naik Haji Pertama Tahun 1982.

Syekh Muhammad Thoha Ma'ruf





Muhammad Thoha Ma'ruf (lahir di Manado, Sulawesi Utara, 25 Desember 1920 – meninggal di Jakarta, 7 April 1976 pada umur 55 tahun) adalah seorang ulama Nahdliyyin kharismatis yang merupakan keturunan ke-7 dari ulama Besar Nusantara asal Banjar Kalimantan, yakni Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Mengingat silsilahnya maka jelas sekali ia dilahirkan dan dididik di tengah-tengah keluarga religius. Ayahnya bernama KH Mansur adalah seorang guru agama yang membangun sebuah keluarga di Kampung Banjar (Banjer) Manado, hingga di sanalah bayi Thaha Ma’ruf lahir tepat pada tanggal 25 Desember 1920.


Riwayat

Masa kecil

Di kampung Banjar, Manado pula Thoha Ma’ruf menghabiskan masa kecilnya. Hingga ketika ia mendekati usia dua puluh tahun, ia mulai melangkahkan kakinya untuk meniti sebuah pengembaraan hidup. Tanah Minanglah tujuannya. Di sanalah ia mengembangkan ilmunya untuk menjadi seorang ulama yang berpengaruh di kemudian hari.

Pendidikan

Pada usia 22 tahun ia telah menamatkan Madrasah Muallimin di Bukittinggi (1942) setelah satu tahun sebelumnya ia juga menamatkan Institute Islamic College di Padang. Dari sinilah kemuadian Ia mulai menapakkan dirinya di jalan dakwah. Di Padang, bumi pertiwi para intelektual ini pula ia membuka lebar-lebar cakrawala pemikirannya terhadap dunia dengan mempelajari pula bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Bahkan bahasa Jepang inilah yang sempat menyelamatkannya dari hukuman tentara Pendudukan Jepang ketika ia ditangkap karena dianggap menentang penjajah.
Sejak merantau ke Minang inilah Thaha Ma'ruf menunjukkan bakti yang begitu kuat terhadap perjuangan kemerdekaan bangsa. Terutama dari sisi pendidikan. karena itulah ia terlibat dalam banyak sekali gerakan pendidikan sejak semasa mudanya. bahkan sebenarnya sejak sebelum ia berangkat ke negeri rantau, ia telah pula mengajar sebagai guru agama di tanah kelahirannya, Manado. Dan bukan hanya di Padang saja, melainkan juga ke wilayah-wilayah Sumatera Tengah lainnya, yakni di Riau, Jambi dan Medan.
Di Minang, Thaha Ma'ruf menikah dengan seorang gadis belia asli Minang yang kelak mendampinginya hingga akhir hayat, Hj Sariani binti H Muhammad Yasin. begitulah gadis itu biasa dipanggil. Sejak kecil Sariani telah dipanggil Hajjah, kerena sejak berusia lima tahun ia telah diajak berangkat ke tanah suci Makkah-Madinah untuk pertama kalinya, beberapa kali ia pulang pergi ke Haramain sebelum akhirnya dinikahkan dengan pemuda Thaha Ma'ruf, seorang guru agama militan asal Banjar yang telah diterima sebagai bagian dari penduduk Minang. Keluarga Istrinya ini adalah sebuah keluarga saudagar kaya raya yang memiliki keseharian hidup agamis. Hj. Sariani pun seorang da’iyah handal sejak awal, sekaligus juga adalah pengatur keuangan keluarga yang terbukti sangat ulet.
Kehandalan Hj Sariani ini menjadi penting ketika terjadi peristiwa sanering (pemotongan nilai uang rupiah menjadi setengahnya), di mana setiap nominal mata uang di atas lima rupiah harus dipotong setengahnya. Kondisi ini cukup membuat orang-orang kaya kalang kabut, terutama bagi mereka yang tidak memiliki cadangan uang recehan. Nah, Hj Sariani inilah yang rupa-rupanya menyimpan cukup banyak cadangan uang recehan, sehingga keuangan keluarga cukup tertolong karena nilai mata uang dibawah lima rupiah tidak mengalami penyusutan.
Terbukti kemudian pasangan muda ini kedua-duanya aktif sebagai kader pejuang unggul yang mampu mensinergikan antara perjuangan bangsa dan dakwah keagamaan dalam satu tarikan napas bahtera rumah tangga mereka. Thaha Ma'ruf, selain menjadi wartawan di Harian Penerangan, juga aktif sebagai guru di berbagai sekolah dan majlis taklim, sehingga ia mampu menanamkan rasa kecintaan masyarakat dan seluruh anak didiknya terhadap perjuangan bangsa dan agama sekaligus.
Hal ini senyatanya menjadi sebuah fakta ketika pada tahun 1953, dalam usia 33 tahun, Ia menjadi pelopor sekaligus deklarator berdirinya Partai NU di wilayah Sumatera Tengah, wilayah yang sekarang menjadi tiga provinsi, Sumatera Barat, Jambi dan Riau. Pendirian partai NU di Sumatera Tengah ini dilaksanakan setelah selama enam tahun Thaha Ma'ruf bergulat dalam perjuangannya sebagai Sekretaris Jenderal PERTI yang berpusat di Bukittinggi.

Bergabung di NU

Tiga tahun setelah mendirikan partai NU di Sumatera Tengah, Ia hijrah ke Jakarta sebagai anggota Pengurus Besar NU (PBNU) dan aktif dalam perjuangan Nahdlatul Ulama di level Pusat.
Di Jakarta, Thaha Ma'ruf sekeluarga sempat beberapa kali pindah alamat, dari Kebun Nanas, Matraman hingga Cipinang. Dalam menjalani kehidupannya sebagai aktivis Nahdlatul Ulama di Jakarta ini Ia selalu didampingi oleh sang istri yang juga seorang aktivis Fatayat-Muslimat NU.
Meski Jakarta adalah tempat yang baru baginya, namun Thaha Ma'ruf tatap dapat selalu mempertahankan kedekatannya dengan masyarakat sekitar. hal ini terbukti ketika pada tahun 1965 terjadi kemelut yang mendebarkan seputar pemberontakan PKI, kediaman Thaha Ma'ruf di Matraman selalu dijaga oleh laskar Ansor setempat atas inisiatif mereka sendiri, bukan permintaan dari shohibul bait ataupun atas instruksi atau komando dari atas.
Selama menjalani kegiatannya sebagai politikus, Thaha Ma'ruf dan istri juga selalu aktif mengisi dakwah-dakwah di tingkat masyarakat bawah. Bahkan meskipun ia telah menjadi unsur pimpinan pusat di "Majlis Ulama" dan da’i tetap di pengajian Masjid Istiqlal.
Bahkan meski berpindah-pindah tempat tinggal, keluarga Thaha ma'ruf tidak pernah meninggalkan sebuah majlis taklim pun di komunitas lamanya.
Thaha Ma'ruf tercatat sebagai anggota DPRGR/MPRS tahun 1960-1970 setelah berdinas di ketentaraan sejak tahun 1946 sebagai Kepala Penerangan yang berkedudukan di Bukittinggi dengan pangkat Mayor. Dari latarbelakang militernya inilah Thaha Ma'ruf senantiasa tegas dalam sikap-sikap politiknya. Ia tidak segan-segan mengkritik kebijakan pemerintah jika dinilainya kurang tepat.
Salah satu gagasan penting yang dicetuskannya dengan sukses adalah kembalinya Indonesia ke pangkuan PBB pada tahun 1966. Dari sinilah kemudian Thaha Ma'ruf dipercaya untuk menjalani berbagai kunjungan kenegaraan ke berbagai wilayah di luar negeri. Termasuk untuk menghadiri Kongres Perdamaian di Moskow tahun 1962 dan mempersiapkan pendirian Konsulat RI. di Seoul, Korea Selatan pada tahun 1968.
Ketika terjadi banyak kemelut antara pemerintah pusat dengan beberapa wilayah termasuk dengan PRRI di Sumatera Barat, Thaha Ma'ruf mengambil sikap pro pemerintah pusat, karena baginya, keutuhan NKRI lebih penting daripada perpecahan antar bangsa. karenanya, hal ini juga menjadikannya berada dalam garis depan untuk menolak setiap bentuk perlawanan terhadap kedaulatan NKRI, termasuk ketika terjadi peristiwa pemberontakan PKI 1965.
Dukungannya yang begitu kuat untuk keutuhan NKRI juga tercermin dari pendirian dan deklarasi NU wilayah Sumatera Tengah, yang diawali oleh argumentasi bahwa semestinya umat Islam di Indonesia memang memiliki sebuah wadah keagamaan yang mencakup dan menjangkau ke seluruh wilayah NKRI, sehingga tidak menimbulkan friksi antar daerah.
KH. Thaha Ma'ruf adalah seorang tokoh yang hidup dalam suasana kesederhanaan dan memiliki keteladanan yang patut diikuti oleh masyarakat muslim. Salah satu kegemaran positif semasa hidupnya adalah bersilaturrahim. Menurut penuturan KH Fadhli Ma'ruf, putera ke-7, semasa hidupnya KH Thaha Ma'ruf sangat gemar bersilaturahim ke Ulama-ulama yang juga adalah teman-teman dan kerabatnya. Selain itu ia juga sangat gemar berziarah ke makam para Aulia di Jakarta dan sekitarnya, seperti ke Luar Batang, makam KH. Mas Mansur di Tanah Abang dan lain-lain.
Dermawan adalah salah satu sifat positif ia yang senantiasa dijalankan sepanjang hidupnya. Diceritakan, ia selalu membawa uang recehan untuk dibagikan kepada siapapun yang memerlukannya di sepanjang perjalanan yang dilaluinya. Konon ia tidak pernah menolak seorang pun yang datang untuk meminta pertolongan.
Kedekatan dengan para Habaib dan Ulama selalu dijaganya untuk kepentingan dakwah Islamiyah. beberapa teman-teman dekatnya adalah KH Abdullah Syafe'i, KH. Wahid Hasyim dan Habib Ali Kwitang. Ia juga selalu aktif di Majlis Ta'lim Kwitang, baik sebagai peserta maupun pembicara.

Aktif menulis

Hingga masa-masa tuanya, Ia juga masih sangat aktif menulis, terutama artikel-artikel yang berkenaan dengan dakwah islamiyah. Hingga tujuh Jam sebelum ia menghadap sang Khaliq (Malam Rabu, 6 April 1976 jam 22.00 WIB), KH. Thaha Ma'ruf masih sempat menulis sebuah karangan (artikel dakwah) yang akan diajarkan pada Majlis Ta'lim Masjid Istiqlal. Karangan terakhir ini belum selesai dan ditemukan masih terpasang di atas meja kerjanya.

Wafat

KH. Thaha Ma'ruf bin Mansur meninggal pada 7 April 1976 dalam usia 56 tahun dengan berstatus sebagai Pengurus Pusat Majlis Ulama Indonesia dengan meninggalkan seorang istri dan delapan anak. Beberapa di antara putera puteri ia ada yang aktif menjadi pengurus teras PBNU dan banom-banomnya, sementara yang lainnya ada yang mengurus kelanjutan dakwah Islamiyah yang telah dirintis olehnya.
Karena Hj Sariani berprinsip bahwa wafatnya suami bukanlah berarti terhentinya perjuangan dalam menegakkan agama Islam, maka pada tahun 1976 pula sang istri dengan dibantu oleh putera-puterinya mendirikan Yayasan Pendidikan Islam Al-Ma'ruf di Cibubur. Yayasan ini bergerak di bidang sosial, pendidikan dan dakwah Islam yang sekarang telah berkembang dan memiliki jenjang pendidikan dari tingkat TK hingga SMU.
Pada mulanya yayasan ini adalah sebuah Musholla kecil, namun masyarakat memintanya dikembangkan sebagai sebuah lembaga pendidikan yang dapat diandalkan. Menurut permintaan masyarakat, hal ini dikarenakan di wilayah tersebut (saat itu masih pinggiran Jakarta), sudah terdapat beberapa musholla, namun justru digunakan untuk main "gaple" karena tidak ada kader-kader yang berkompeten memakmurkannya. Karena itulah, membuat sebuah wadah untuk mencetak kader dakwah menjadi sesuatu yang tidak dapat ditunda lagi.
Ketika Hj Sariani wafat dan dikebumikan di Cibubur, Komplek Yayasan Pendidikan Islam al-Ma'ruf, jasad KH Thaha Ma'ruf juga dipindahkan ke Cibubur untuk bersanding dengan makam isterinya di belakang Masjid. Setelah sebelumnya jasad ia disemayamkan di pemakaman umum Kebon Nanas.[1]

Referensi


 


Syekh Ahmad Syamsuddin al-Banjari


Syekh Ahmad Syamsuddin al-Banjari adalah seorang ulama sufi suku Banjar yang tinggal di ibu kota kesultanan Banjar, Martapura. Ulama inilah yang menulis tentang Asal Kejadian Nur Muhammad dan menghadiahkannya untuk Ratu Aceh Sulthanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat (1641-1675 M). Ulama ini hidup pada masa pemerintahan Pangeran Ratu yang bergelar Sultan Ri'ayatullah (alias Pangeran Tapesana (dengan nama lahir Raden Halit)) sebagai wali raja, karena putera mahkota Amirullah Bagus Kesuma belum dewasa. Pangeran Tapesana menjabat sebagai Mangkubumi kerajaan. Naskah itu ditulis pada tahun 1668 dan pernah ditemukan oleh seorang orientalis R.O. Winestedt di Jakarta.

Syekh Abdurrahman Siddiq





Syekh Abdurrahman Siddiq bin Muhammad 'Afif bin Mahmud bin Jamaluddin Al-Banjari (lahir di Dalam Pagar, Martapura, Kalimantan Selatan tahun 1857 – meninggal di Sapat, Indragiri Hilir, Riau 10 Maret 1930 pada umur 72 tahun) adalah seorang ulama dari etnis Banjar yang dikenal di mana-mana bahkan sampai di Mekkah karena ia juga menjadi pengajar di Masjidil Haram.[1] Muridnya tersebar sampai ke Singapura, Malaysia dan Kalimantan.



Riwayat

Syekh Abdurrahman Siddiq bin Muhammad 'Afif bin Mahmud bin Jamaluddin Al-Banjari, demikian nama lengkapnya. Dilahirkan pada tahun 1857 di Kampung Dalam Pagar Martapura Kalimantan Selatan, nama lahirnya sebenarnya hanyalah Abdurrahman.
Nama "Siddiq" ia dapat dari seorang gurunya saat ia belajar di Mekkah. Ia merupakan cicit dari ulama ternama etnis Banjar, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Saat baru berusia tiga bulan, ibunda Abdurrahman Siddiq meninggal dunia. Ia tak sempat mendapat asuahan sang ibunda. Ia pun kemudian dirawat kakek dan neneknya. Sang kakek merupakan seorang ulama bernama Mufti H Muhammad Arsyad. Namun baru diusia setahun, sang kakek meninggal. Maka Abdurrahman Siddiq pun tumbuh dewasa hanya bersama neneknya, Ummu Salamah.
Sang nenek merupakan muslimah yang taat beribadah dan faqih beragama. Ia mendidik syaikh dengan kecintaan pada Alquran. Beranjak dewasa, nenek mengirim syekh pada guru-guru agama di kampung halamannya. Ketika dewasa, Syaikh makin giat menuntut ilmu agama.
Ia melakukan perjalanan menuntut ilmu ke Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di Padang pada 1882, ia masih haus ilmu. Maka pergilah syekh ke kota kelahirn Islam, Makkah pada tahun 1887.
Di tanah suci, Abdurrahman Siddiq banyak menghadiri majelis ilmu para ulama ternama Hijaz. Tak hanya di Makkah, ia pun giat bergabung di halaqah-halaqah ilmu di Masjid Nabawi di Madinah. Kegiatan tersebut ia lakukan hingga tujuh tahun lamanya. Bahkan Syekh juga sempat menjadi pengajar di Masjidil Haram selama dua tahun sebelum kemudian kembali ke tanah air.
Ia diangkat oleh Sultan Mahmud Shah (Raja Muda) sebagai Mufti Kerajaan Indragiri 1919-1939 berkedudukan di Rengat dan mengabdikan diri di Kerajaan Indragiri.[butuh rujukan]

 

Peninggalan

Karya-karya tulis

Syekh Abdurrahman Siddiq bin Muhammad 'Afif dikenal sebagai Pujangga dan Sastrawan yang semasa hidupnya mengarang sejumlah buku sasta dan agama. Tuan guru Syekh Abdurrahman, demikian panggilan hormat ia telah menulis karyanya berupa kumpulan puisi berjudul "Syair Ibarat Kabar Kiamat" yang diterbitkan oleh Ahmadiyah Press Singapura Tahun 1915. Beberapa syair sangat kritis dalam nuansa religius. Karya-karya tulis ia antara lain :
  • Fathu al'Alim fi Tartib al Ta'lim, diterbitkan di Singapura, Matba'ah Ahmadiah, 1322 H
  • Risalah 'Amal Ma'rifah, diterbitkan di Singapura : Matba'ah Ahmadiah, 1322 H
  • Majmu' al Ayah wa al Hadist fi fada-il al ilmi wa al 'ulama wa al Muta'allimin wa al Mustami'in, Singapura : Matba'ah Ahmadiah, 1355 H
  • Kitab Asrar al Salat min Uddat al Kutub al Mu'tamadah, selesai ditulis tahun 1334 H/1915 M, diterbitkan di Singapura: Matba'ah Ahmadiah, 1931 M
  • Risalah Syajaroh al Arsyadiyah" yang menyebutkan silsilah dari Syekh M. Arsyad al Banjari', Singapura : Matba'ah Ahmadiah, 1354 H
  • Tazkirah li Nafsi wa li Amtsali, Singapura : Matba'ah Ahmadiah, 1354 H
  • Kitab al Fara-id, Singapura: Matba'al Ikhwan, 1338 H
  • Sejarah Perkembangan Islam di Kerajaan Banjar, Singapura: Matba'ah Ahmadiah, 1355 H
  • Bay'u al Hayawan li al Kafirin, Singapura: Matba'ah Ahmadiah, 1355 H
  • 'Aqaid al Iman, selesai ditulis 1919 M. diterbitkan di Banjarmasin, 1984 M
  • Syair Ibarat Khabar Kiamat, Pertama kali dicetak di Singapura oleh Matba'ah Ahmadiah, tahun 1344. Sebelumnya pada tanggal 1 Juli 1915 M/1344 H. Kitab ini telah di registrasi oleh Pemerintah Inggris di Singapura.[2]

Masjid

Peninggalan Syekh Abdurrahman yang terkenal adalah Masjid yang dibangunnya sendiri pada tahun 1927. Masjid ini berarsitektur khas pada atap dan berada 200 meter dari makamnya.[butuh rujukan]

Referensi

Pranala luar

Syaikh Nashiruddin Al-Albani


Syaikh Nashiruddin Al-Albani adalah salah satu tokoh yang pernah hidup di abad 20 sebagai ulama yang mendalami masalah kritik sanad hadits. Menjadi tenar -salah satunya- karena pendapat-pendapat beliau yang cenderung berbeda dari kebanyakan pendapat yang sudah dianut oleh umat Islam, baik di bidang ilmu hadits atau pun di bidang fiqih.
Salah satunya adalah pandangan beliau yang mengajak orang untuk tidak terpaku kepada pandangan dari mazhab-mazhab fiqih peninggalan para ulama. Sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu asing, karena sudah banyak dikampanyekan oleh para tokoh sebelumnya seperti Muhammad Abduh atau Rasyid Ridha. Namun beliau menyampaikan dengan format yang berbeda dan lebih spesifik serta didukung oleh keahlian beliau di bidang kritik sanad hadits.
Kelahiran di Albania dan Hijrah ke Damaskus
Syeikh Nashiruddin Al-Albani lahir tahun 1914 masehi atau bertepatan dengan tahun 1333 hijriyah, di ibukota Albania saat itu, Asyqodar.
Keluarga beliau boleh dibilang termasuk kalangan kurang berada, namun bertradisi kuat dalam menuntut ilmu agama. Ayahanda beliau bernama Al-Haj Nuh, lulusan lembaga pendidikan ilmu-ilmu syari’ah di ibukota negara dinasti Utsmaniyah (kini Istambul) dan menjadi rujukan orang-orang dalam masalah agama.

Keluarga beliau kemudian berhijrah ke Damaskus, ibu kota Syria, dan menetap di sana setelah Ahmad Zaghu raja Albania saat itu menyimpangkan negaranya menjadi kebarat-baratan.
Pendidikan Agama
Beliau boleh dibilang tidak menyelesaikan pendidikan formal yang tinggi, kecuali hanya menyelesaikan sekolah madrasah ibtidaiyah dengan baik. Kemudian beliau meneruskan ke madarasah An-Nizhamiyah yang sangat fenomenal di dunia Islam. Namun setelah itu ayahnya punya pendapat tersendiri tentang madrasah An-Nizamiyah sehingga beliau keluar dan belajar dengan sistem tersendiri pelajarannya, seperti Quran, tajwid, nahwu, sharf serta fiqih mazhab Hanafi.
Beliau mengkhatamkan Al-Quran di tangan ayahnya sendiri dengan bacaan riwayat Hafsh dari Ashim. Beliau belajar kitab fiqih mazhab Al-Hanafi yaitu Maraqi al-Falah kepada Syeikh Said Al-Burhani, selain juga belajar lughah dan balaghah.
Secara pendapatan finansial, beliau bekerja sebagai tukang jam, sebuah keahlian yang diwariskannya dari ayahnya sendiri. Bahkan beliau sampai menjadi termasyhur di bidang service jam di Damaskus.
Sesungguhnya ayah beliau telah mengarahkan beliau untuk mendalami agama khususnya pada mazhab Al-Hanafi serta memperingatkan beliau untuk tidak terlalu menekuni ilmu hadits. Namun beliau tetap belajar ilmu hadits dan ilmu-ilmu lainnya yang menunjang. Sehingga paling tidak beliau menghabiskan 20 tahun dari hidupnya dalam mempelajari ilmu hadits, karena pengaruh dari bacaan beliau pada majalah Al-Manar yang diterbitkan oleh Syaikh Rasyid Ridha rahimahullah.
Mendalami Ilmu Hadits di Perpustakaan
Beliau menyenangi ilmu hadits dan semakin asyik dengan penelusuran kitab-kitab hadits. Sampai pihak pengelola perpustakaan adz-Dzhahiriyah di Damaskus memberikan sebuah ruangan khusus di perpustakaan untuk beliau.
Bahkan kemudian beliau diberi wewenang untuk membawa kunci perpustakaan. Dengan demikian, beliau menjadi leluasa dan terbiasa datang sebelum yang lainnya datang. Begitu pula pulangnya ketika orang lain pulang pada waktu dhuhur, beliau justru pulang setelah sholat isya. Hal ini dijalaninya sampai bertahun-tahun.
Begitulah, hadits menjadi kesibukan rutinnya, sampai-sampai beliau menutup kios reparasi jamnya. Beliau lebih betah berlama-lama dalam perpustakaan azh-Zhahiriyah, sehingga setiap harinya mencapai 12 jam. Tidak pernah istirahat mentelaah kitab-kitab hadits, kecuali jika waktu sholat tiba. Untuk makannya, seringkali hanya sedikit makanan yang dibawanya ke perpustakaan.
Kontroversi Tentang Sosok Beliau
Syeikh Nashiruddin Al-Albani oleh beberapa kalangan sangat dihormati sebagai ulama yang setuju dengan pandangan-pandangannya, namun memang ada juga sebagian lainnya yang kurang suka kepada pendapatnya serta cara penyampaiannya yang khas.
Mereka yang gemar dengan pendapat beliau umumnya adalah kalangan muda yang getol mempelajari ilmu hadits. Namun kurang dalam mempelajari ilmu fiqih serta perangkat-perangkatnya. Paling tidak, sistematika fiqih yang beliau kembangkan beliau tidak sebagaimana umumnya sistematika ilmu fiqih yang digunakan oleh para ahli fiqih umumnya.
Misalnya buat beliau, kesimpulan hukum suatu masalah lebih sering ditetapkan semata-mata berdasarkan kekuatan riwayat suatu hadits. Sedangkan pertimbangan lainnya sebagaimana yang ada di dalam ilmu fiqih, termasuk pendapat para imam mazhab, seringkali ditepis oleh beliau.
Ketidak-sukaan sebagian orang kepada beliau biasanya dilatar-belakangi oleh kekurang-mengertian mereka kepada sosok beliau. Sehingga melahirkan pandangan yang kurang baik pada citra diri beliau. Bahkan beliau pernah mengalami dua kali dipenjara, yang konon disebabkan oleh masalah seperti ini.
Memang terkadang bahasa yang beliau gunakan boleh dibilang agak terbuka dan terlalu apa adanya. Sehingga membuat telinga sebagian orang yang membacanya dan kebetulan kena sindir beliau menjadi merah telinganya.
Selain itu beliau memang dikenal sebagai tokoh di bidang ilmu hadits yang cenderung tidak mau berpegang kepada pendapat-pendapat dari mazhab-mazhab fiqih yang ada. Kesan itu akan sangat terasa menyengat bila kita banyak mengkaji ceramah dan tulisan beliau, terutama yang menyangkut kajian fiqih para ulama mazhab.
Bagi beliau, pendapat para ulama mazhab harus ditinggalkan bila bertentangan dengan apa yang beliau yakini sebagai hasil ijtihad beliau dari hadits-hadits shahih. Apalagi bila menurut beliau, pendapat para ulama mazhab itu tidak didasari oleh riwayat hadits yang kuat sanadnya.
Bahkan beliau mudah menjatuhkan vonis ahli bid’ah kepada siapa saja yang menurut beliau telah berdalil dengan hadits yang lemah. Maksudnya lemah di sini adalah lemahmenurut hasil penelitian beliau sendiri. Termasuk juga pada masalah-masalah yang umumnya dianggap sudah final di kalangan para ahli fiqih. Buat beliau, semua itu harus diabaikan, bila berbeda dengan pandangan beliau dengan landasan ijtihad beliau di bidang ilmu hadits.
Barangkali hal-hal inilah yang sering menimbulkan pandangan tertentu di kalangan sebagian orang tentang sosok beliau.
Namun apa yang beliau sampaikan itu sebenarnya bukan sekedar omongan belaka, namun berangkat dari hasil ijtihad beliau pribadi. Dengan kapasitas ilmu hadits yang beliau miliki serta banyaknya beliau membaca di perpustakaan, maka apa yang menjadi pendapat beliau punya landasan ilmiyah, bukan asal bunyi.
Namun sebagaimana tradisi keilmuwan di dalam peradaban Islam, boleh saja para ulama saling berbeda pandangan satu dengan yang lainnya, namun kita diharamkan untuk saling ejek, saling cemooh, saling cela dan saling boikot, hanya lantaran perbedaan pandangan.
Apa yang menjadi pandangan Albani harus dihormati sebagai sebuah hasil ijtihad seorang yang telah menguasai satu cabang ilmu. Tentunya beliau berhak atas pendapatnya. Namun ijtihad yang dihasilkan oleh seorang ulama tidaklah harus menggugurkan ijtihad ulama lain yang juga telah mengerahkan semua kemampuannya. Biarlah hasil-hasil ijtihad saling berbeda, sehingga memberikan ruang gerak yang luas kepada umat Islam ini.
Beberapa Tugas yang Pernah Diemban
Syeikh al-Albani Beliau pernah mengajar hadits dan ilmu-ilmu hadits di Universitas Islam Madinah meski tidak lama, hanya sekitar tiga tahun, sejak tahun 1381-1383 H.
Setelah itu beliau pindah ke Yordania. Pada tahun 1388 H, Departemen Pendidikan meminta kepada Syeikh al-Albani untuk menjadi ketua jurusan Dirasah Islamiyah pada Fakultas Pasca Sarjana di sebuah Perguruan Tinggi di kerajaan Yordania. Tetapi situasi dan kondisi saat itu tidak memungkinkan beliau memenuhi permintaan itu.
Pada tahun 1395 H hingga 1398 H beliau kembali ke Madinah untuk bertugas sebagai anggota Majelis Tinggi Jam’iyah Islamiyah di sana. Mendapat penghargaan tertinggi dari kerajaan Saudi Arabia berupa King Faisal Fundation tanggal 14 Dzulkaidah 1419 H.
Wafat Beliau dan Warisannya
Beliau wafat pada hari Jum’at malam Sabtu tanggal 21 Jumada Tsaniyah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yoradania. Karya-karya beliau amat banyak yang menjadi warisan kepada dunia Islam, sebagian sudah dicetak, namun ada yang masih berupa manuskrip, bahkan ada yang hilang, semua berjumlah 218 judul. Antara lain:
  1. Adabuz-Zifaf fi As-Sunnah al-Muthahharah
  2. Al-Ajwibah an-Nafi’ah ‘ala as’ilah masjid al-Jami’ah
  3. Silisilah al-Ahadits ash-Shahihah
  4. Silisilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wal maudhu’ah
  5. At-Tawasul wa anwa’uhu
  6. Ahkam Al-Jana’iz wabida’uha
Sumber: http://mashurialmadiuny.blogspot.com/2009/02/biografi-sheikh-muhammad-nashirudin-al.html

Syekh Abdul Hamid (Datu Ambulung)

Syekh Abdul Hamid (Datu Abulung)

Datu Abdul Hamid Abulung atau Datu Abulung

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
   
 
 
 
 
     Menyebut nama Syekh Abdul Hamid atau sering kita sebut Datu Abulung pasti dibenak kita terkenang akan seorang ulama yang pernah menggemparkan Kalimantan dengan paham wihdatul wujudnya, sepak terjang beliau memang tak banyak yang mengetahui karna beliau tidak ada meninggalkan kitab karangan seperti ulama ulama lainnya, keilmuan beliau cuma dapat kita ketahui secara lisan dari mulut kemulut atau dari pewaris para murid beliau, banyak pendapat yang berbeda tentang kisah beliau ada yang menyatakan bahwa ilmu beliau salah atau manyalah (bahasa banjar) tapi sebagian masyarakat banjar bahkan hampir seluruhnya menyatakan bahwa Datu Abulung ini adalah seorang wali Allah, terlepas dari segala kontropersi yang ada riwayat beliau sangat dicari oleh sebagian masyarakat banjar.
Dalam sejarah pemikiran keagamaan dikalimantan pada abad ke 18 setidaknya ada tiga tokoh ternama di Kerajaan Banjar selain Datu Suban dan para muridnya yang sakti mandraguna, pada masa itu para ulama banjar memang sangat terkenal dengan segala karamah dan kesaktiannya,diantara tiga orang tokoh ternama dan terkenal tersebut adalah 
1. Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau Datu Kalampayan
2. Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari atau Datu Nafis
3. Syekh Abdul Hamid Abulung atau Datu Abulung
Dan sosok Datu Abulung inilah yang penuh misteri hingga saat ini, pada masa itu pemerintahan kerajaan diperintah oleh sultan Tahlilullah, saat itu lah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dan Syekh Abdul Hamid muda diberangkatkan oleh kerajaan banjar untuk menuntut ilmu dengan biaya kerajaan dengan harapan nantinya bisa membawa sinar terang bagi kerajaan banjar, mereka diberangkatkan keTanah Suci Makkah Al-Mukarramah, tercatat Datu Kalampayan belajar kepada beberapa orang guru (baca riwayat Datu Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari),sedangkan Datu abulung juga belajar kepada beberapa orang guru yang sayangnya tidak tercatat karena tidak adanya karangan beliau yang biasanya merujuk kepada guru guru pengarang, sepulangnya dari menuntut ilmu ditanah suci Datu Syekh Abdul Hamid mulai mengajarkan ilmu yang didapatnya dari guru gurunya di Mekkah kepada masyarakat sekitarnya,diantara yang beliau ajarkan adalah ilmu Tasawuf, namun ilmu tasawuf yang beliau ajarkan kepada orang awam ini sangat berlainan dengan pelajaran tasawuf yang selama ini dikenal masyarakat,Datu Abulung mengajarkan bahwa;
                                      Tiada yang maujud hanya Dia
                                            Tiada maujud lain-Nya
                                          Tiada aku melainkan Dia
                                                Dia adalah aku
                                                aku adalah Dia
Dalam pelajaran Syekh Abdul Hamid Abulung juga diajarkan bahwa Syariat yang diajarkan selama ini adalah kulit belum sampai kepada isi (hakikat), sedangkan pelajaran yang selama ini diyakini masyarakat umum yaitu Tiada yang berhak dan patut disembah selain Allah ,Allah adalah Khalik dan selainnya adalah makhluk,tiada sekutu bagi-Nya,ajaran Datu Abulung ini kurang lebih seperti ajaran Abu Yazid Al-Bustami,husein bin Mansyur Al-Hallaj yang kemudian memasuki Indonesia melalui Hamzah Fansuri dan Syamsuddin disumatera dan Syekh Siti Jenar di pulau Jawa.
Mendengar fatwa Datu Abulung yang berbeda dari kebanyakan paham masyarakat pada waktu itu,maka gemparlah masyarakat yang menerima ajaran tersebut,bahkan ajaran yang beliau sampaikan menjadi pembicaraan masyarakat umum yang mana akhirnya samapi ketelinga Sultan,sebelum Datu Abulung dipanggil sultan terlebih dahulu  minta pendapat syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (satu riwayat mengatakan tanpa diketahui Syekh Muhammad Arsyad) tentang ajaran Datu abulung tersebut.setelah menelaah beberapa kitab kemudian diambil kesimpulan bahwa ajaran yang dibawa Datu Abulung yang diajarkan kepada orang awam tersebut bisa menyesatkan masyarakat dan bisa merusak kehidupan beragama,adalah kewajiban Ulama dan Umara melindungi keagamaan rakyatnya dari unsur unsur yang membahayakan,jika tidak dapat dengan jalan damai maka lebih baik menyingkirkan nya , Menolak mafsadah (keburukan)lebih didahulukan dari pada mengambil manfaat.Melenyapkan seseorang untuk menyelamatkan orang banyak dibolehkan menurut hukum malah terkadang wajib (Zafri Zam Zam,Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari,1979,hal 13)berdasarkan keputusan tersebut maka dipanggillah Datu abulung,salah seorang prajurit kerajaan disuruh untuk mendatangi Datu Abulung setelah sampai ditempat Datu Abulung lalu dipanggillah beliau,satu riwayat menceritakan pemanggilan tersebut,prajurit itu berkata Hai Syekh Abdul Hamid ..anda dipanggil baginda Sultan ,kemudian dijawab oleh Datu Abulung “Syekh Abdul Hamid tidak ada yang ada hanya Allah…mendengar hal tersebut prajurit tersebut dan mengadukan kepada sultan,kemudian sultan menyuruh kembali dan memanggil “Allah “tersebut,setelah sampai ditempat Datu Abulung prajurit itu kembali berkata “hai Allah anda dipanggil baginda Sultan”yang kemudian dijawab kembali oleh Datu Abulung “Allah tidak ada yang ada hanya Nur Muhammad”  mendengar hal itu prajurit kemali kekerajaan dan mengatakan hal tersebut kepada Baginda Sultan..kemudian sultan berkata panggil ketiganya Syekh Abdul Hamid,Allah dan Nur Muhammad ,barulah setelah prajurit tersebut memanggil seperti dipesankan sultan barulah Datu Abulung berkunjung keistana,ditengah perjalanan menuju istana dipasanglah perangkap yang apabila terpijak maka melesatlah sebilah tombak tajam yang akan menghujam ketubuh orang yang menginjaknya,saat itu terbukti kebenaran ajaran Syekh Abdul Hamid Abulung,ketika beliau menginjak perangkap tersebut tombak tajam itu memang melesat dengan cepatnya diudara dan berhenti tepat dibelakang Datu Abulung dan jatuh ketanah tanpa beliau mengetahuinya,setelah sampai diistana dan terjadi tanya jawab,sultan ingin bukti kebenaran ajaran Datu Abulung,kemudian beliau berucap’Ashadu alla ilahaillallah’ tiba tiba tubuh beliau menghilang,kemudian terdengar lagi suara “wa ashadu anna muhammadarrasulullah”  timbullah kembali badan beliau,semua orang kagum melihat hal tersebut,tapi dengan menimbang untuk keselamatan orang awam yang lebih banyak maka dihukumlah Syekh Abdul Hamid Abulung dengan didimasukkan kedalam kerangkeng yang ukurannya hanya muat tubuh beliau dan hanya cukup untuk berdiri,dengan kurungan seperti itu akhirnya beliau ditenggelamkan disungai lok buntar,maka akhirnya tenggelamlah sampai kedasar sungai.
Tanpa diketahui oleh semua orang suatu keanehan terjadi apabila tiba waktu sholat fardhu maka kerangkeng tersebut akan timbul dari permukaan sungai,dan beliau kemudian keluar dari kerangkeng tersebut dan melakukan sholat,setelah selesai sholat maka secara perlahan kerangkeng tersebut tenggelam kembali kedasar sungai,pada suatu malam menjelang subuh sepuluh orang pencari ikan yang sampai pada sekitar tenggelamnya Syekh Abdul Hamid lamat lamat mereka mendengar suara azan,perlahan lahan mereka mendekati sumber suara azan tersebut dari kejauhan mereka melihat keganjilan dan keanehan Datu Abulung tersebut,sejak saat itu mereka mengangkat beliau menjadi guru mereka,dari beliau mereka belajar berbagai ilmu agama islam,karena jumlah mereka sepuluh maka dinamakan orang sepuluh atau sekarang orang menyebutnya Datu Sepuluh,setelah selesai belajar orang sepuluh ini menjadi pegawai kerajaan
Setelah direndam dalam air Datu Abulung tidak juga mati dan akhirnya diketahui kerajaan maka akhirnya Datu Abulung kembali dibawa kekerajaan,dihadapan sultan akhirnya Datu abulung megatakan bahwa beliau tidak bisa dibinasakan dengan alat apapun kecuali dengan senjata yang ada didinding rumah beliau dan menancapkannya didalam daerah lingkaran yang beliau tunjukkan dibelikat beliau,setelah sholat dua rakaat ,senjata tersebut ditancapkan dibelikat beliau sudah ditandai tersebut maka memancarlah darah segar dari tempat itu dan anehnya darah tersebut membentuk kalimat  ”LAA ILAAHA ILLALLAH MUHAMMADUR RASULULLAH”‘ innaa Lillaahi wa Innaa ILaihi Rajiuun.
setelah sekian lama kubur beliau akhirnya ditemukan oleh masyarakat atas petunjuk dari Alm.Tuan Guru H.Muhammad nor Tangkisung yang juga diyakini adalah seorang Kekasih Allah letaknya sebelah hilir dari Kampung Dalam Pagar,dan sekarang dipelihara makamnya oleh warga setempat,selain itu keanehan makam yang terletak dipinggir sungai itu berapa kali tergeros air sungai dan turun kebawah tp setelah itu makam itu naik dengan sendirinya dan tanah dibawahnya juga mengikuti makam tersebut….walllahu a’lam….

Monday, March 11, 2019

Al Arif Billah Al A`lim As Sayyid Ahmad Zaini Dahlan


Manaqib Al Arif Billah Al A`lim As Sayyid Ahmad Zaini Dahlan rahimahullah
Ibnu Sa’ad dan Mala meriwayatkan di dalam sirahnya bahwa Rasulullah SAW telah bersabda : ‘Pada setiap generasi umatku terdapat manusia-manusia adil dari kalangan Ahlul Baitku, yang menyingkirkan dari agama ini segala bentuk penyimpangan orang-orang yang sesat, pemalsuan orang-orang yang batil , dan petakwilan orang-orang yang bodoh.’
Dikalangan dunia penuntut ilmu dipondok-pondok pesantren, nama Sayyid Ahmad Zaini Dahlan sudah tidak asing lagi. Namanya harum dan masyhur dikalangan mereka karena sebagian besar daripada sanad keilmuan para ulama Nusantara (Indonesia, Malaysia dan Fathoni ) bersambung kepada ulama besar ini. Beliau sangat terkenal sebagai seorang ulama pembela Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam menentang faham Wahabi, sehingga Ulama besar ini sangat dibenci dan amat dimusuhi oleh golongan Wahabi. Maka banyak fitnah yang ditaburkan terhadap beliau. Tujuannya tidak lain agar umat Islam yang tidak tahu yang sebenarnya menjauhinya.
Menurut riwayat, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan lahir di Makkah pada 1232H /1816M. Selesai menimba ilmu di kota kelahirannya, ia lantas dilantik menjadi mufti Mazhab Syafi`i, merangkap “Syeikhul Harom” suatu pangkat ulama tertinggi saat itu yang mengajar di Masjidil Harom yang diangkat oleh Syeikhul Islam yang berkedudukan di Istanbul, Turki.
Ulama besar inilah yang telah memberi perlindungan kepada Syaikh Rahmatullah bin Kholilurrohman al-Kironawi al-Hindi al-Utsmani ( lahir 1226H /1811M, riwayat lain lahir Jumadil Awwal 1233H /9 Maret 1818M, wafat malam Jum`at, 22 Ramadan 1308H /2 Mei 1891M) ketika diburu oleh penjajah Inggris bahkan beliau memperkenalkannya kepada pemerintah Makkah. Sehingga Syeikh Rahmatullah mendapat izin untuk membuka Madrasah Shoulatiyah.
Sayyid Ahmad Zaini Dahlan adalah merupakan seorang Syeikhul Islam, Mufti Haromain dan Pembela Ahlus Sunnah Wal Jama`ah. Berasal dari keturunan yang mulia, ahlul bait Rosulullah Saw. Silsilah beliau bersambung kepada Sayyiduna Hasan, cucu kesayangan Rasulullah SAW. Berdasarkan kitab Taajul-A`raas, juz 2, halaman 702 karya al-Imam al-A`llaamah al-Bahr al-Fahhamah al-Habib A`li bin Husain bin Muhammad bin Husain bin Ja`far al-A`ththoos. Nasabnya adalah seperti berikut:-
1. Al-Imam al-Ajal wal-Bahrul Akmal Faridu ‘Ashrihi wa Aawaanihi Syaikhul-Ilm wa Haamilu liwaaihi wa Hafidzu Haditsin Nabi S.a.w. wa Kawakibu Sama-ihi, Ka’batul Muriidin wa Murabbis Saalikiin asy-Sayyid Ahmad
2. bin Zaini Dahlan
3. bin Ahmad Dahlan
4. bin ‘Utsman Dahlan
5. bin Ni’matUllah
6. bin ‘Abdur Rahman
7. bin Muhammad
8. bin ‘Abdullah
9. bin ‘Utsman
10. bin ‘Athoya
11. bin Faaris
12. bin Musthofa
13. bin Muhammad
14. bin Ahmad
15. bin Zaini
16. bin Qaadir
17. bin ‘Abdul Wahhaab
18. bin Muhammad
19. bin ‘Abdur Razzaaq
20. bin ‘Ali
21. bin Ahmad
22. bin Ahmad (Mutsanna)
23. bin Muhammad
24. bin Zakariyya
25. bin Yahya
26. bin Muhammad
27. bin Abi ‘Abdillah
28. bin al-Hasan
29. bin Sayyidina ‘Abdul Qaadir al-Jilani, Sulthanul Awliya
30. bin Abi Sholeh
31. bin Musa
32. bin Janki Dausat Haq
33. bin Yahya az-Zaahid
34. bin Muhammad
35. bin Daud
36. bin Muusa al-Juun
37. bin ‘Abdullah al-Mahd
38. bin al-Hasan al-Mutsanna
39. bin al-Hasan as-Sibth
40. bin Sayyidinal-Imam ‘Ali & Sayyidatina Fathimah al-Batuul rodliyallahu ‘anhuma wa `anhum ajma`in.
Murid-muridnya
Diantara murid-murid beliau yang terkenal ialah Sayyid Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi rhm. Pengarang “I’anathuth-Tholibin Syarh Fath al-Mu’in karya al-Malibary” yang masyhur, Sayyidil Quthub al-Habib Ahmad bin Hasan al-Aththas rhm, Sayyid Abdullah az-Zawawi Mufti Syafi`iyyah, Mekah. Sayyid Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi telah mengarang kitab bernama “Nafahatur Rohman” yang merupakan manaqib atau biografi kebesaran gurunya Sayyid Ahmad rhm.
Adapun ulama-ulama Nusantara yang pernah berguru dengan ulama besar ini ialah:-
-Syeikh Nawawi bin U`mar Al-Jawi Al-Bantani (Jawa Barat)
-Syeikh Abdul Hamid Kudus (Jawa Timur) – Syeikh Muhammad Khalil al-Maduri (Jawa Timur)
- Syeikh Muhammad Saleh bin Umar, Darat (Semarang)
- Syeikh Ahmad Khatib bin Abdul Latif bin Abdullah al-Minankabawi (Sumatra Barat)
- Syeikh Hasyim Asy’ari Jombang (Jawa Timur)
- Sayyid Utsman bin ‘aqil bin Yahya Betawi (DKI Jakarta)
- Syeikh Arsyad Thawil al-Bantani (Jawa Barat)
- Tuan guru Kisa-i Minankabawi [atau namanya Syeikh Muhammad Amrullah Tuanku Abdullah Saleh. Beliau inilah yang melahirkan dua orang tokoh besar di dunia Melayu. Yang seorang ialah anak beliau sendiri, Dr. Syeikh Haji Abdul Karim Amrullah. Dan yang seorang lagi ialah cucu beliau, Syeikh Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA)
- Syeikh Muhammad bin Abdullah as-Shuhaimi
- Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathoni
- Tuan Hussin Kedah (Malaysia)
- Syeikh Ahmad Yunus Lingga,
- Datuk Hj Ahmad (Ulama Brunei Dar as-Salam)
- Tok Wan Din, nama lengkapnya Syeikh Wan Muhammad Zainal Abidin al-Fathoni,
- Syeikh Abdul Qadir al-Fathoni (Tok Bendang Daya II),
- Haji Utsman bin Abdullah al-Minankabawi, Imam, Khatib dan Kadi Kuala Lumpur yang pertama,
- Syeikh Muhammad al-Fathoni bin Syeikh `Abdul Qadir bin `Abdur Rahman bin `Utsman al-Fathoni
- Sayyid `Abdur Rahman al-Aidrus (Tok Ku Paloh)
- Syeikh `Utsman Sarawak
- Syeikh Abdul Wahab Rokan
Dan lain-lain.
Para ulama banyak memberikan gelar kepada beliau antara lain sebagai al-Imam al-Ajal (Imam pada waktunya), Bahrul Akmal (Lautan Kesempurnaan), Faridu 'Ashrihi wa Aawaanihi (Ketunggalan masa dan waktunya), Syaikhul-Ilm wa Haamilu liwaaihi (Syaikh Ilmu dan Pembawa benderanya) Hafidzu Haditsin Nabi SAW wa Kawakibu Sama-ihi (Penghafal Hadits Nabi SAW. dan Bintang-bintang langitnya ), Ka'batul Muriidin wa Murabbis Saalikiin ( Tumpuan para murid dan Pendidik para salik ), dan lain-lain.
Inilah orang yang difitnah dan dituduh oleh gembong2 Wahhabi sebagai tukang fitnah yang memburuk-burukkan Ibnu Abdul Wahhab an-Najdi dan Wahhabi. Ketahuilah bahwa antara yang awal memfitnah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan rhm. adalah Rasyid Ridha murid Abduh yang mengarang "Tafsir al-Manar" rujukan kaum Wahhabi. Tujuan mereka memfitnah Sayyid Ahmad adalah untuk memusnahkan ilmu dan pengetahuan yang sebenarnya, agar kebatilan mereka diterima. Sesungguhnya Sayyid Ahmad bersih dari tuduhan musuh-musuhnya tersebut, beliau adalah ulama yang tsiqat ( yang bisa dipercaya ).
Sayyid Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi dalam "Nafahatur Rohman" antara lain menulis:- "Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan r.a. hafal al-Qur`an dengan baik dan menguasai 7 cara bacaan Qur`an ( qiroatus sab`ah ). Beliau juga hafal kitab "asy-Syaathibiyyah" dan "al-Jazariyyah", dua kitab yang sangat bermanfaat bagi pelajar yang hendak mempelajari qiroah sab`ah. Karena cinta dan perhatiannya pada al-Qur`an, beliau memerintahkan sejumlah qori untuk mengajar ilmu ini, beliau kawatir ilmu ini akan hilang jika tidak diajarkan terus."
Mudah-mudahan Allah SWT merahmati dan meridhoi Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dan murid-muridnya Aaaaaamiiiin.....serta kita sekalian. Mudah-mudahan Allah SWT menguatkan iman dan taqwa kita serta memberi kita kekuatan untuk mempertahankan Islam dan Ahlus Sunnah Wal Jama`ah serta para ulamanya.
Sayyid Ahmad Zaini Dahlan al-Hasany kembali ke rahmatullah pada tahun 1304 H /1886 M setelah menghabiskan usianya di jalan Allah berkhidmat untuk agamaNya. Beliau di maqamkan di Madinah al-Munawwarah. Sesungguhnya amat besar jasa ulama ini dalam mempertahankan pegangan Ahlus Sunnah wal Jama`ah sehingga beliau dijadikan tempat gembong2 Wahhabi ahlul bughoh melepas geram dengan berbagai fitnah dan cacian.
Sayyid Ahmad Zaini Dahlan adalah seorang u`lama yang produktif Selain melahirkan para ulama beliau juga menghasilkan karangan yang sangat banyak diantaranya adalah:
1. Al-Futuhatul Islamiyyah;
2. Tarikh Duwalul Islamiyyah;
3. Khulasatul Kalam fi Umuri Baladil Haram;
4. Al-Fathul Mubin fi Fadhoil Khulafa ar-Rasyidin;
5. Ad-Durarus Saniyyah fi raddi 'alal Wahhabiyyah;
6. Asnal Matholib fi Najati Abi Tholib;
7. Tanbihul Ghafilin Mukhtasar Minhajul 'Abidin;
8. Hasyiah Matan Samarqandi;
9. Risalah al-Isti`araat;
10. Risalah I'raab Ja-a Zaidun;
11. Risalah al-Bayyinaat;
12. Risalah fi Fadhoilis Sholah;
13. Shirathun Nabawiyyah;
14. Syarah Ajrumiyyah;
15. Fathul Jawad al-Mannan;
16. Al-Fawaiduz Zainiyyah Syarah Alfiyyah as-Sayuthi;
17. Manhalul 'Athsyaan; dll.
"ad-Durarus - Saniyyah fir - rad 'ala al-Wahhabiyyah" ("Mutiara-mutiara yang amat berharga untuk menolak faham Wahhabi"}. Inilah diantara kitab karangan Panutan kita Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan al-Hasany. Kitab inilah yang menyebabkan gembong2 Wahhabi marah dan murka dengan Sayyid Ahmad rhm. Diantara isi kitab ini ialah penjelasan mengenai hukum ziarah maqam Junjungan Nabi SAW, hukum tawassul, hukum istighotsah, hukum tabarruk ( ngalap berkah ), kesesatan Wahhabi, penolakan ulama terhadap Muhammad bin Abdul Wahhab dan sejarah muncul dan perlakuan Muhammad bin Abdul Wahhab dan pengikutnya.
Sayyid Ahmad Zaini Dahlan mengatakan: `Abd al-Wahhab, bapak Muhammad bin abdul wahab adalah seorang yang salih dan merupakan seorang tokoh ahli ilmu, begitu juga dengan al-Syaikh Sulaiman. Al-Syaikh `Abd al-Wahhab dan al-Syaikh Sulaiman, keduanya dari awal ketika Muhammad mengikuti pengajarannya di Madinah al-Munawwarah telah mengetahui pendapat dan pemikiran Muhammad yang meragukan. Keduanya telah mengkritik dan mencela pendapatnya dan mereka berdua turut memperingatkan orang ramai mengenai bahayanya pemikiran Muhammad. [ tuqilan Sayyid Zaini Dahlan, al-Futuhat al-Islamiyah, Vol. 2, h.357.]
Dalam keterangan beliau yang lain dikatakan bahwa bapaknya `Abd al-Wahhab, saudaranya Sulaiman dan guru-gurunya telah dapat mengenali tanda2 penyelewengan agama ( ilhad ) dalam diri Muhammad yang didasarkan kepada perkataan, perbuatan dan tentangan Muhammad bin abd wahab terhadap banyak persoalan agama. [ Zaini Dahlan, al-Futuhat al-Islamiyah, Vol. 2, h.357.]
Dari Kitab DURARUSSANIYAH FIR RADDI ALAL WAHABIYAH karya Syeikhul Islam Allamah Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan Asy-Syafi’I :
Diantara sifat-sifat wahabi yang tercela ialah kebusukan dan kekejiannya dalam melarang orang berziarah ke makam dan membaca sholawat atas Nabi SAW, bahkan dia ( Muhammad bin Abdul Wahhab) sampai menyakiti orang yang hanya sekedar mendengarkan bacaan sholawat dan yang membacanya dimalam Jum’at serta yang mengeraskan bacaannya di atas menara-menara dengan siksaan yang amat pedih.
Pernah suatu ketika salah seorang lelaki buta yang memiliki suara yang bagus bertugas sebagai muadzin, dia telah dilarang mengucapkan shalawat di atas menara, namun lelaki itu selesai melakukan adzan membaca shalawat, maka langsung seketika itu pula dia diperintahkan untuk dibunuh, kemudian dibunuhlah dia, setelah itu Muhammad bin Abdul Wahhab berkata :
“perempuan-perempuan yang berzina dirumah pelacuran adalah lebih sedikit dosanya daripada para muadzin yang melakukan adzan di menara2 dengan membaca shalawat atas Nabi. Kemudian dia memberitahukan kepada sahabat-sahabatnya bahwa apa yang dilakukan itu adalah untuk memelihara kemurnian tauhid ( kayaknya orang ini maniak atau menderita sindrom tertentu ). Maka betapa kejinya apa yang diucapkannya dan betapa jahatnya apa yang dilakukanya ( mirip revolusi komunisme ).
Tidak hanya itu saja, bahkan diapun membakar kitab Dalailul Khairat ( kitab ini yang dibaca para pejuang Afghanistan sehingga mampu mengusir Uni Sovyet / Rusia, namun kemudian Wahabi mengirim Taliban yang akan membakar kitab itu) dan juga kitab-kitab lainnya yang memuat bacaan-bacaan shalawat serta keutamaan membacanya ikut dibakar, sambil berkata apa yang dilakukan ini semata-mata untuk memelihara kemurnian tauhid.
Dia juga melarang para pengikutnya membaca kitab-kitab fiqih, tafsir dan hadits serta membakar sebagian besar kitab-kitab tsb, karena dianggap susunan dan karangan orang-orang kafir. Kemudian menyarankan kepada para pengikutnya untuk menafsirkan Al Qur’an sesuai dengan kadar kemampuannya, sehingga para pengikutnya menjadi BIADAB dan masing-masing menafsirkan Al Qur’an sesuai dengan kadar kemampuannya, sekalipun tidak secuilpun dari ayat Al Qur’an yang dihafalnya. Lalu ada seseorang dari mereka berkata kepada seseorang : “Bacalah ayat Al Qur’an kepadaku, aku akan menafsirkanya untukmu, dan apabila telah dibacakannya kepadanya maka dia menafsirkan dengan pendapatnya sendiri. Dia memerintahkan kepada mereka untuk mengamalkan dan menetapkan hukum sesuai dengan apa yang mereka fahami serta memperioritaskan kehendaknya diatas kitab-kitab ilmu dan nash-nash para ulama, dia mengatakan bahwa sebagian besar pendapat para imam keempat madzhab itu tidak ada apa-apanya.
Sekali waktu, kadang memang dia menutupinya dengan mengatakan bahwa para imam ke empat madzhab Ahlussunnah adalah benar, namun dia juga mencela orang-orang yang sesat lagi menyesatkan. Dan dilain waktu dia mengatakan bahwa syari’at itu sebenarnya hanyalah satu, namun mengapa mereka (para imam madzhab) menjadikan 4 madzhab. Ini adalah kitab Allah dan sunnah Rasul, kami tidak akan beramal, kecuali dengan berdasar kepada keduanya dan kami sekali-kali tidak akan mengikuti pendapat orang-orang Mesir, Syam dan India. Yang dimaksud adalah pendapat tokoh-tokoh ulama Hanbaliyyah dll dari ulama-ulama yang menyusun buku-buku yang menyerang fahamnya.
Dengan demikian, maka dia adalah orang yang membatasi kebenaran, hanya yang ada pada sisinya, yang sejalan dengan nash-nash syara’ dan ijma’ ummat, serta membatasi kebathilan di sisinya apa yang tidak sesuai dengan keinginannya, sekalipun berada diatas nash yang jelas yang sudah disepakati oleh ummat.
Dan adalah dia adalah orang yang mengurangi keagungan Rasulullah SAW dengan banyak sekali atas dasar memelihara kemurnian tauhid. Dia mengatakan bahwa Nabi SAW itu tak ubahnya :”THORISY”. Thorisy adalah istilah kaum orientalis yang berarti seseorang yang diutus dari suatu kaum kepada kaum yang lain. Artinya, bahwa Nabi SAW itu adalah pembawa kitab, yakni puncak kerasulan beliau itu seperti “Thorisy” yang diperintah seorang amir atau yang lain dalam suatu masalah untuk manusia agar disampaikannya kepada mereka, kemudian sesudah itu berpaling (atau tak ubahnya seorang tukang pos yang bertugas menyampaikan surat kepada orang yang namanya tercantum dalam sampul surat, kemudian sesudah menyampaikannya kepada yang bersangkutan, maka pergilah dia. Dengan ini maka jelaslah bahwa kaum Wahabi hanya mengambil al Qur’an sebagian dan sebagian dia tinggalkan).
Diantara cara dia mengurangi ke-agungan Rasulullah SAW ialah pernah mengatakan : “AKU MELIHAT KISAH PERJANJIAN HUDAIBIYAH, MAKA AKU DAPATI SEMESTINYA BEGINI DAN BEGINI”, dengan maksud menghina dan mendustakan Nabi SAW (seolah-olah mereka tahu waktu Nabi SAW membuat perjanjian itu – pen.) dan seterusnya masih banyk lagi nada-nada yang serupa yang dia ucapkan, sehingga para pengikutnya pun melakukan seperti apa yang dilakukannya dan berkata seperti apa yang diucapkannya itu. Sehingga ada sebagian pengikutnya yang berkata :
“SESUNGGUHNYA TONGKATKU INI LEBIH BERGUNA DARIPADA MUHAMMAD, KARENA TONGKATKU INI BISA AKU PAKAI UNTUK MEMUKUL ULAR, SEDANG MUHAMMAD SETELAH MATI TIDAK ADA SEDIKITPUN KEMANFA’ATAN YANG TERSISA DARINYA, KARENA DIA (RASULULLAH S A W) ADALAH SEORANG THORISY DAN SEKARANG SUDAH BERLALU”.
Sebagian ulama’ yang menyusun buku guna menolak faham ini mengatakan bahwa ucapan-ucapan seperti itu adalah “KUFUR” menurut ke empat madzhab, bahkan kufur menurut pandangan seluruh para ahli Islam.
Peringatan!!!!
Berhati-hatilah dengan fitnah yang dihembuskan oleh orang-orang Wahabi kepada al-Allamah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan. Mereka menuduh al-`Allamah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan sebagai tukang buat fitnah, rafidhi dan lain-lain lagi. Na’udzu billah ming Dzalik Apa yang mereka lakukan merupakan jarum halus musuh untuk menghancurkan kebenaran. Tujuan mereka menghembuskan fitnah atas al-A`llamah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan al-Hasany adalah semata-mata untuk meruntuhkan sanad keilmuan dan pengetahuan para ulama kita bahkan ulama seluruh dunia, agar kebathilan mereka [Wahabi] diterima. Apakah terbesit kita mengatakan para ulama kita seperti Syeikh Nawawi al-Bantani, syeikh Hasyim Asy’ari, Syeikh Muhammad Kholil ( Mbah Khalil ), Sayyid Utsman bin Yahya, Syeikh Utsman Sarawak, Syeikh Abdul Wahab Rokan, Syeikh Abdul Qadir al-Fathoni Syeikh Ahmad al-Fathoni, dan lain-lainnya itu berguru kepada seorang tukang fitnah
Ingatlah dan renungkan dalam hati sanubari kita, apa jasa Muhammad bin Abdul Wahhab dengan kita atau dengan nenek datuk kita dibandingkan dengan jasa Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dan para ulama nuslantara kita terdahulu.
Katakan TIDAK kepada Wahabi dan teman teman nya
dan kami mohon bagi para pembaca tidak lupa bacakan Fatihah buat Sayyid Ahmad Zaini Dahlan…..Alfatihata Hadiyatan Ila Hadhroti Nabiyil karim Saw. wa a`la aalihi waashabihi ajmain sholawatullohi wassalamuhu alaihim ajmain, tsuma Hadiyatan ila Ruhi sayyidi Ahmad bin Zaini Dahlan Wajalhu FiQobrihi nuron wahijabam minannar bilbarokaatil Fatihah………..aamiin..
( Abi Muhammad Haydar Husein Y. Riffai )

Syekh KH Nuruddin al-Raniri


Syekh Nuruddin Muhammad ibnu 'Ali ibnu Hasanji ibnu Muhammad Hamid ar-Raniri al-Quraisyi atau populer dengan nama Syekh Nuruddin Al-Raniri adalah ulama penasehat Kesultanan Aceh pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Tsani (Iskandar II).
Syekh Nuruddin diperkirakan lahir sekitar akhir abad ke-16 di kota Ranir, India, dan wafat pada 21 September 1658. Pada tahun 1637, ia datang ke Aceh, dan kemudian menjadi penasehat kesultanan di sana hingga tahun 1644.

Guru

Dia di katakan telah berguru dengan Sayyid Umar Abu Hafs b Abdullah Basyeiban yang yang di India lebih dikenal dengan Sayyid Umar Al-Idrus adalah khalifah Tariqah Al-Idrus BaAlawi di India.[butuh rujukan]
Ar-Raniri juga telah menerima Tariqah Rifaiyyah dan Qodiriyyah dari guru dia.[butuh rujukan]
Putera Abu Hafs yaitu Sayyid Abdul Rahman Tajudin yang datang dari Balqeum, Karnataka, India pula telah bernikah setelah berhijrah ke Jawa dengan Syarifah Khadijah, puteri Sultan Cirebon dari keturunan Sunan Gunung Jati.[butuh rujukan]

Peranan di Aceh

Ar-Raniri berperan penting saat berhasil memimpin ulama Aceh menghancurkan ajaran tasawuf falsafinya Hamzah al-Fansuri yang dikhawatirkan dapat merusak akidah umat Islam awam terutama yang baru memeluknya.[butuh rujukan] Tasawuf falsafi berasal dari ajaran Al-Hallaj, Ibn 'Arabi, dan Suhrawardi, yang khas dengan doktrin Wihdatul Wujud (Menyatunya Kewujudan) di mana sewaktu dalam keadaan sukr ('mabuk' dalam kecintaan kepada Allah Ta'ala) dan fana' fillah ('hilang' bersama Allah), seseorang wali itu mungkin mengeluarkan kata-kata yang lahiriahnya sesat atau menyimpang dari syariat Islam.[butuh rujukan]
Maka oleh mereka yang tidak mengerti hakikat ucapan-ucapan tersebut, dapat membahayakan akidah dan menimbulkan fitnah pada masyarakat Islam. Karena individu-individu tersebut syuhud ('menyaksikan') hanya Allah sedang semua ciptaan termasuk dirinya sendiri tidak wujud dan kelihatan.[butuh rujukan] Maka dikatakan wahdatul wujud karena yang wajib wujudnya itu hanyalah Allah Ta'ala sedang para makhluk tidak berkewajiban untuk wujud tanpa kehendak Allah.[butuh rujukan] Sama seperti bayang-bayang pada pewayangan kulit.[butuh rujukan]
Konstruksi wahdatul wujud ini jauh berbeda malah dapat dikatakan berlawanan dengan paham 'manunggaling kawula lan Gusti'.[butuh rujukan] Karena pada konsep 'manunggaling kawula lan Gusti', dapat diibaratkan umpama bercampurnya kopi dengan susu—maka substansi dua-duanya sesudah menyatu adalah berbeda dari sebelumnya.[butuh rujukan] Sedangkan pada paham wahdatul wujud, dapat di umpamakan seperti satu tetesan air murni pada ujung jari yang dicelupkan ke dalam lautan air murni. Sewaktu itu, tidak dapat dibedakan air pada ujung jari dari air lautan. Karena semuanya 'kembali' kepada Allah.[butuh rujukan]
Maka pluralisme (menyamakan semua agama) menjadi lanjutan terhadap gagasan begini dimana yang penting dan utama adalah Pencipta, dan semua ciptaan adalah sama—hadir di alam mayapada hanya karena kehendak Allah Ta'ala.[butuh rujukan]
Maka paham ini, tanpa dibarengi dengan pemahaman dan kepercayaan syariat, dapat membelokkan akidah. Pada zaman dahulu, para waliullah di negara-negara Islam Timur Tengah sering, apabila di dalam keadaan begini, dianjurkan untuk tidak tampil di khalayak ramai.[butuh rujukan]
Tasawuf falsafi diperkenalkan di Nusantara oleh Fansuri dan Syekh Siti Jenar.[butuh rujukan] Syekh Siti Jenar kemudian dieksekusi mati oleh dewan wali (Wali Songo). Ini adalah hukuman yang disepakati bagi pelanggaran syariat, manakala hakikatnya hanya Allah yang dapat maha mengetahui.[butuh rujukan]
Al-Hallaj setelah dipancung lehernya, badannya masih dapat bergerak, dan lidahnya masih dapat berzikir. Darahnya pula mengalir mengeja asma Allah—ini semua karamah untuk mempertahankan namanya.[butuh rujukan]
Di Jawa, tasawuf falsafi bersinkretisme dengan aliran kebatinan dalam ajaran Hindu dan Budha sehingga menghasilkan ajaran kejawen.[butuh rujukan]
Ronggowarsito (Bapak Kebatinan Indonesia) dianggap sebagai penerus Siti Jenar. Karya-karyanya, seperti Suluk Jiwa, Serat Pamoring Kawula Gusti, Suluk Lukma Lelana, dan Serat Hidayat Jati, sering diaku-aku Ronggowarsito berdasarkan kitab dan sunnah.[butuh rujukan] Namun banyak terdapat kesalahan tafsir dan transformasi pemikiran dalam karya-karyanya itu.[butuh rujukan] Ronggowarsito hanya mengandalkan terjemahan buku-buku tasawuf dari bahasa Jawa dan tidak melakukan perbandingan dengan naskah asli bahasa Arab.[butuh rujukan] Tanpa referensi kepada kitab-kitab Arab yang ditulis oleh ulama ahli syariat dan hakikat yang mu'tabar seperti Syeikh Abdul Qadir Jailani dan Ibn 'Arabi, maka ini adalah sangat berbahaya.[butuh rujukan]
Ar-Raniri dikatakan pulang kembali ke India setelah dia dikalahkan oleh dua orang murid Hamzah Fansuri pada suatu perdebatan umum. Ada riwayat mengatakan dia meninggal di India.[butuh rujukan]

Karya-karyanya

Pranala luar

Syekh KH Muhammad Nur

KH Muhammad Nur dan Kisah “Ruh” yang Keluar Saat Tubuh Dipijat


KH Muhammad Nur. Foto : net Seorang perempuan tua –yang tak bisa disebut namanya- di Kabupaten Tapin pernah bercerita perihal profesi yang digelutinya hingga kini, sebagai tukang urut atau tukang pijat. Sejak SLTP dia mengaku sudah menjalani profesinya tersebut, kendati masih malu-malu, karena umur yang masih sangat muda.
Nenek berumur 80 tahun ke atas itu, mengaku mengawali kariernya dengan kejadian yang agak unik. Yakni ketika dia mau tidur dia melihat sebuah kalimat berbahasa arab di bantalnya. Takut berlaku tidak hormat dengan ayat suci, dia pun membalik bantal dengan maksud tidak ingin menaruh kepala di atasnya.

Namun ternyata, kalimat tersebut masih ada di permukaan bantal yang baru saja di baliknya. Karena merasa tulisan itu akan tetap ada meski dibolak-balik, dia pun kemudian merebahi bantal tersebut untuk tidur.
Di dalam tidurnya dia tidak mendapatkan mimpi apa pun. Namun, keesokan harinya dia langsung melaporkan perihal aneh tersebut kepada pamannya, seorang Tuan Guru. Mendengar penuturannya, pamannya berkomentar, “Untungnya ikam (kamu), banyak orang yang mencari tapi tidak ketemu. Engkau malah diberi. Kalimat itu, yang dikatakan ‘Sapa Ibrahim’.”
Sejak hari itu, dia masih tidak tahu apa manfaat dari kalimat itu pada dirinya. Hingga ada orang yang minta dipijat, dia pun memijatnya, dan dengan izin Allah orang itu disembuhkan.
“Ada banyak orang yang sudah kupijat. Bahkan Tuan Guru,” ungkapnya.
Dari pengalaman memijat banyak Tuan Guru, ada pengalaman menarik yang membekas diingatan nenek tersebut. Yakni pada suatu ketika dia memijat seorang Tuan Guru sepuh, namun ketika dipijat Tuan Guru itu tidak sedikit pun bergerak. Tubuhnya dingin seperti seonggok batang pisang.

“Untuk membalik badannya pun aku harus melakukannya sendiri,” ujar Si Nenek.
Saat itu, lanjut Si Nenek, dia tak berani bertanya. Kenapa ketika dipijat dia seperti orang mati. Hingga beberapa kali memijat Tuan Guru tersebut, baru dia memberanikan diri bertanya, “Kenapa Pian (anda) apabila diurut, seperti orang mati?”
Dijawab oleh Tuan Guru itu, “Daripada aku sakit, baik aku belimbah (keluar dari tubuh).”
Akan tetapi, menurut Si Nenek, dia mengira ruh si Tuan Guru tidak berada jauh dengan tubuh beliau ketika dipijat. Karena, menjelang selesai dipijat ada getaran kecil seolah ruh itu kembali masuk ke dalam badan.
“Berarti orangnya tidak jauh, karena mengetahui pijatan akan segera berakhir,” kata nenek.
Itulah pengalaman terunik yang pernah dialami Si Nenek ketika memijat Tuan Guru tersebut. Tuan Guru yang dimaksud adalah Tuan Guru H Muhammad (KH Muhammad Nur) dari Pelaihari, mursyid Thoriqoh Naqsyabandi sekaligus Keturunan Datuk Abulung (Syekh Abdul Hamid) Martapura. Pada saat itu, beliau sering bertandang ke Tapin dalam berdakwah.(Ben Syaifi)

Syekh KH.Muhammad Arsyad Al Banjari